Tabooo.id: Life – Pagi di Desa Nguwok datang dengan suara yang tak biasa. Bukan hanya ayam berkokok atau deru motor petani. Dari sebuah bangunan sederhana, lantunan doa mengalun pelan, sendok-sendok beradu dengan piring seng, dan tawa pecah tanpa pola yang pasti.
Di rumah singgah milik Yayasan Berkas Bersinar Abadi, ratusan orang duduk bersila. Mereka menyantap nasi hangat bersama. Sebagian menatap kosong, sebagian lain tersenyum sendiri. Di antara mereka berdiri seorang pria berseragam polisi yang menyingsingkan lengan bajunya, membantu membagi lauk, memastikan obat tertelan, lalu memeriksa satu per satu kondisi mereka.
Namanya Ipda Purnomo, anggota Polres Lamongan. Setiap hari, ia membagi waktunya antara tugas negara dan panggilan nurani. Ketika sirene tak berbunyi, ia memilih menyuapi, memandikan, bahkan memeluk orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ia jemput dari jalanan. Ia tak sekadar menertibkan; ia memulangkan.
Ketika Jalanan Menjadi Ruang Transit yang Kejam
Selama hampir tujuh tahun, Purnomo aktif menjemput ODGJ dan gelandangan yang terlantar di sudut-sudut kota. Ia menemukan mereka tidur di trotoar, duduk linglung di pasar, atau dipasung keluarga yang sudah kehabisan cara.
Kita sering melihat pemandangan itu. Namun, setelah menghela napas sebentar, kita melanjutkan langkah.
Padahal, ribuan ODGJ di Indonesia masih hidup tanpa akses pengobatan yang memadai. Banyak keluarga kewalahan. Sistem kesehatan jiwa belum menjangkau semua lapisan masyarakat. Akibatnya, jalanan berubah menjadi ruang transit yang kejam tempat orang-orang kehilangan nama, alamat, dan martabatnya.
Alih-alih menunggu kebijakan besar turun dari langit, Purnomo memilih bergerak. Ia membawa mereka ke yayasan yang ia dirikan sendiri. Di sana, ia memberi makan tiga kali sehari, mengatur jadwal minum obat, dan menciptakan rutinitas yang perlahan memulihkan.
Saat ini, sekitar 280 orang tinggal dan menjalani perawatan di tempat itu. Setiap bulan, dapurnya menghabiskan lebih dari dua ton beras. Angka itu bukan metafora; itu kebutuhan nyata yang harus ia penuhi.
Disiplin sebagai Jalan Pulang
Di Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Purnomo tidak hanya menyediakan kasur dan obat. Ia membangun ritme hidup. Setiap pagi mereka bangun bersama, lalu makan bersama. Setelah itu, mereka beribadah, berolahraga, dan mengikuti kegiatan harian yang terjadwal.
Ritme ini sederhana, tetapi konsisten. Melalui pola itu, Purnomo menanamkan kembali rasa tanggung jawab dan keteraturan. Perlahan, tatapan yang dulu kosong mulai fokus. Kalimat yang dulu terputus kini tersusun lebih rapi. Beberapa pasien bahkan kembali mengenali keluarganya.
Ketika satu orang sembuh dan pulang dalam kondisi lebih stabil, Purnomo merasakan kebahagiaan yang tak bisa ia ukur dengan pangkat atau gaji. Baginya, momen itu menegaskan bahwa kerja sunyi ini tidak sia-sia.
Untuk menjaga semua tetap berjalan, ia mengandalkan dana pribadi, hasil konten, bantuan donatur, serta subsidi silang dari keluarga pasien yang mampu membayar. Meski begitu, ia tetap merawat banyak pasien secara gratis. Ia tidak menempelkan label harga pada empati.
Aparat yang Memilih Hadir
Di sinilah kisah ini terasa kontras. Biasanya, masyarakat mengaitkan polisi dengan penindakan. Namun, Purnomo memperluas makna tugasnya. Ia tidak hanya menjaga keamanan; ia juga meredakan keresahan sosial dari akarnya.
Tentu saja, sebagian orang bertanya: apakah ini bukan tugas negara? Apakah perawatan seperti ini cukup profesional? Bukankah risikonya besar?
Pertanyaan itu wajar. Namun, Purnomo tidak menunggu semua sempurna. Ia bergerak sambil terus belajar dan berkoordinasi. Pihak Polres Lamongan pun mendukung kegiatannya. Atasannya menegaskan bahwa aktivitas sosial tersebut tidak mengganggu tugas dinas, bahkan membantu masyarakat merasa lebih aman.
Dengan demikian, kemanusiaan dan ketertiban tidak perlu berdiri di dua sisi yang berlawanan. Justru, keduanya bisa saling menguatkan.
Di Antara Lelah dan Keyakinan
Mengelola 280 ODGJ jelas bukan perkara ringan. Setiap hari, Purnomo menghadapi pasien yang kambuh, kebutuhan logistik yang menipis, serta biaya yang terus berjalan. Namun, ia tetap bertahan karena satu alasan sederhana: ia ingin memanusiakan manusia.
Kalimat itu terdengar biasa. Akan tetapi, maknanya terasa tajam ketika kita melihat realitas di jalanan. Banyak orang masih memandang ODGJ sebagai gangguan, bukan sebagai individu yang sakit dan membutuhkan perawatan.
Karena itu, langkah Purnomo terasa seperti perlawanan sunyi terhadap stigma. Ia tidak berteriak di podium. Ia bekerja di dapur, di ruang tidur, di halaman tempat para pasien berolahraga.
Waras Itu Soal Empati
Kita hidup di zaman yang memuja produktivitas. Siapa yang tak mampu bekerja dianggap beban. Siapa yang tak stabil dianggap ancaman. Namun, di Desa Nguwok, seorang polisi justru menghabiskan dua ton beras setiap bulan untuk orang-orang yang bahkan tak selalu bisa mengucapkan terima kasih.
Lalu, siapa sebenarnya yang waras?
Barangkali, kewarasan bukan hanya soal fungsi otak, melainkan juga soal kelapangan hati. Ketika seseorang memilih menolong tanpa menghitung untung-rugi, ia menunjukkan jenis kewarasan yang berbeda kewarasan yang berakar pada empati.
Kisah Ipda Purnomo memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan kesehatan jiwa di Indonesia. Namun, ia memberi contoh konkret bahwa perubahan bisa dimulai dari satu keputusan: hadir.
Kita mungkin tidak memiliki yayasan. Kita mungkin tidak mengenakan seragam. Meski begitu, setiap hari kita tetap berhadapan dengan pilihan yang sama—menoleh atau berpaling.
Di Desa Nguwok, Purnomo terus menoleh. Ia memilih mendekat ketika banyak orang menjauh. Ia memilih memegang ketika yang lain merasa jijik.
Pada akhirnya, kisah ini tidak sekadar berbicara tentang seorang polisi. Ia berbicara tentang kemungkinan dalam diri kita sendiri. Jika satu orang bisa mengubah nasib ratusan manusia dengan konsistensi dan keberanian, lalu alasan apa yang menahan kita untuk mulai dari lingkaran terkecil?
Mungkin, kemanusiaan memang tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Kadang, ia tumbuh dari sepiring nasi hangat yang kita bagi dan dari keputusan sederhana untuk tidak lagi menutup mata. @eko




