Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Di Balik Seragam, Ada Purnomo yang Memanusiakan Manusia

by eko
Februari 19, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Life – Pagi di Desa Nguwok datang dengan suara yang tak biasa. Bukan hanya ayam berkokok atau deru motor petani. Dari sebuah bangunan sederhana, lantunan doa mengalun pelan, sendok-sendok beradu dengan piring seng, dan tawa pecah tanpa pola yang pasti.

Di rumah singgah milik Yayasan Berkas Bersinar Abadi, ratusan orang duduk bersila. Mereka menyantap nasi hangat bersama. Sebagian menatap kosong, sebagian lain tersenyum sendiri. Di antara mereka berdiri seorang pria berseragam polisi yang menyingsingkan lengan bajunya, membantu membagi lauk, memastikan obat tertelan, lalu memeriksa satu per satu kondisi mereka.

Namanya Ipda Purnomo, anggota Polres Lamongan. Setiap hari, ia membagi waktunya antara tugas negara dan panggilan nurani. Ketika sirene tak berbunyi, ia memilih menyuapi, memandikan, bahkan memeluk orang-orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang ia jemput dari jalanan. Ia tak sekadar menertibkan; ia memulangkan.

Ketika Jalanan Menjadi Ruang Transit yang Kejam

Selama hampir tujuh tahun, Purnomo aktif menjemput ODGJ dan gelandangan yang terlantar di sudut-sudut kota. Ia menemukan mereka tidur di trotoar, duduk linglung di pasar, atau dipasung keluarga yang sudah kehabisan cara.

Kita sering melihat pemandangan itu. Namun, setelah menghela napas sebentar, kita melanjutkan langkah.

Ini Belum Selesai

Americano: Sehat atau Cuma Gaya?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Padahal, ribuan ODGJ di Indonesia masih hidup tanpa akses pengobatan yang memadai. Banyak keluarga kewalahan. Sistem kesehatan jiwa belum menjangkau semua lapisan masyarakat. Akibatnya, jalanan berubah menjadi ruang transit yang kejam tempat orang-orang kehilangan nama, alamat, dan martabatnya.

Alih-alih menunggu kebijakan besar turun dari langit, Purnomo memilih bergerak. Ia membawa mereka ke yayasan yang ia dirikan sendiri. Di sana, ia memberi makan tiga kali sehari, mengatur jadwal minum obat, dan menciptakan rutinitas yang perlahan memulihkan.

Saat ini, sekitar 280 orang tinggal dan menjalani perawatan di tempat itu. Setiap bulan, dapurnya menghabiskan lebih dari dua ton beras. Angka itu bukan metafora; itu kebutuhan nyata yang harus ia penuhi.

Disiplin sebagai Jalan Pulang

Di Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Purnomo tidak hanya menyediakan kasur dan obat. Ia membangun ritme hidup. Setiap pagi mereka bangun bersama, lalu makan bersama. Setelah itu, mereka beribadah, berolahraga, dan mengikuti kegiatan harian yang terjadwal.

Ritme ini sederhana, tetapi konsisten. Melalui pola itu, Purnomo menanamkan kembali rasa tanggung jawab dan keteraturan. Perlahan, tatapan yang dulu kosong mulai fokus. Kalimat yang dulu terputus kini tersusun lebih rapi. Beberapa pasien bahkan kembali mengenali keluarganya.

Ketika satu orang sembuh dan pulang dalam kondisi lebih stabil, Purnomo merasakan kebahagiaan yang tak bisa ia ukur dengan pangkat atau gaji. Baginya, momen itu menegaskan bahwa kerja sunyi ini tidak sia-sia.

Untuk menjaga semua tetap berjalan, ia mengandalkan dana pribadi, hasil konten, bantuan donatur, serta subsidi silang dari keluarga pasien yang mampu membayar. Meski begitu, ia tetap merawat banyak pasien secara gratis. Ia tidak menempelkan label harga pada empati.

Aparat yang Memilih Hadir

Di sinilah kisah ini terasa kontras. Biasanya, masyarakat mengaitkan polisi dengan penindakan. Namun, Purnomo memperluas makna tugasnya. Ia tidak hanya menjaga keamanan; ia juga meredakan keresahan sosial dari akarnya.

Tentu saja, sebagian orang bertanya: apakah ini bukan tugas negara? Apakah perawatan seperti ini cukup profesional? Bukankah risikonya besar?

Pertanyaan itu wajar. Namun, Purnomo tidak menunggu semua sempurna. Ia bergerak sambil terus belajar dan berkoordinasi. Pihak Polres Lamongan pun mendukung kegiatannya. Atasannya menegaskan bahwa aktivitas sosial tersebut tidak mengganggu tugas dinas, bahkan membantu masyarakat merasa lebih aman.

Dengan demikian, kemanusiaan dan ketertiban tidak perlu berdiri di dua sisi yang berlawanan. Justru, keduanya bisa saling menguatkan.

Di Antara Lelah dan Keyakinan

Mengelola 280 ODGJ jelas bukan perkara ringan. Setiap hari, Purnomo menghadapi pasien yang kambuh, kebutuhan logistik yang menipis, serta biaya yang terus berjalan. Namun, ia tetap bertahan karena satu alasan sederhana: ia ingin memanusiakan manusia.

Kalimat itu terdengar biasa. Akan tetapi, maknanya terasa tajam ketika kita melihat realitas di jalanan. Banyak orang masih memandang ODGJ sebagai gangguan, bukan sebagai individu yang sakit dan membutuhkan perawatan.

Karena itu, langkah Purnomo terasa seperti perlawanan sunyi terhadap stigma. Ia tidak berteriak di podium. Ia bekerja di dapur, di ruang tidur, di halaman tempat para pasien berolahraga.

Waras Itu Soal Empati

Kita hidup di zaman yang memuja produktivitas. Siapa yang tak mampu bekerja dianggap beban. Siapa yang tak stabil dianggap ancaman. Namun, di Desa Nguwok, seorang polisi justru menghabiskan dua ton beras setiap bulan untuk orang-orang yang bahkan tak selalu bisa mengucapkan terima kasih.

Lalu, siapa sebenarnya yang waras?

Barangkali, kewarasan bukan hanya soal fungsi otak, melainkan juga soal kelapangan hati. Ketika seseorang memilih menolong tanpa menghitung untung-rugi, ia menunjukkan jenis kewarasan yang berbeda kewarasan yang berakar pada empati.

Kisah Ipda Purnomo memang tidak menyelesaikan seluruh persoalan kesehatan jiwa di Indonesia. Namun, ia memberi contoh konkret bahwa perubahan bisa dimulai dari satu keputusan: hadir.

Kita mungkin tidak memiliki yayasan. Kita mungkin tidak mengenakan seragam. Meski begitu, setiap hari kita tetap berhadapan dengan pilihan yang sama—menoleh atau berpaling.

Di Desa Nguwok, Purnomo terus menoleh. Ia memilih mendekat ketika banyak orang menjauh. Ia memilih memegang ketika yang lain merasa jijik.

Pada akhirnya, kisah ini tidak sekadar berbicara tentang seorang polisi. Ia berbicara tentang kemungkinan dalam diri kita sendiri. Jika satu orang bisa mengubah nasib ratusan manusia dengan konsistensi dan keberanian, lalu alasan apa yang menahan kita untuk mulai dari lingkaran terkecil?

Mungkin, kemanusiaan memang tidak selalu lahir dari kebijakan besar. Kadang, ia tumbuh dari sepiring nasi hangat yang kita bagi dan dari keputusan sederhana untuk tidak lagi menutup mata. @eko

Tags: kisah inspiratifPolisiSosial

Kamu Melewatkan Ini

Pemilik Warung Mie Babi Tepi Sawah: Kerugian Capai Rp50 Juta

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

by dimas
September 16, 2026

Warung Mi dan Babi di Sukoharjo dibakar OTK. Polisi memeriksa 12 saksi dan menggandeng Densus 88 untuk mengungkap pelaku serta...

Membuka Jalan Perubahan di Tengah Persoalan Sosial Gilingan

Membuka Jalan Perubahan di Tengah Persoalan Sosial Gilingan

by eko
Agustus 30, 2026

Kelurahan Gilingan membuka jalan perubahan di tengah persoalan sosial lewat pendekatan humanis dan pemberdayaan warga yang ingin beralih pekerjaan. Tabooo.id...

Massa Bertahan, Water Cannon Menghantam Depan DPR

Massa Bertahan, Water Cannon Menghantam Depan DPR

by dimas
Agustus 27, 2026

Massa bertahan di depan DPR hingga malam. Polisi mengerahkan water cannon dan ultimatum untuk memukul mundur demonstran dari pagar gedung....

Next Post
Pemkot Solo Minta Maaf ke Rio Haryanto Atas Kebocoran Data Pribadi

Pemkot Solo Minta Maaf ke Rio Haryanto Atas Kebocoran Data Pribadi

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id