Tabooo.id: Regional – Dusun Mimbo, Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, Situbondo, berubah menjadi zona chaos Rabu (18/2/2026) pagi. Ledakan dahsyat dari bubuk petasan mengguncang lingkungan, membakar rumah, dan menelan korban. Asap tebal mengepul dari puing-puing bangunan, sementara warga berteriak panik mencari anggota keluarga mereka yang tertimpa reruntuhan.
Petugas kepolisian segera turun tangan. Kasat Reskrim Polres Situbondo, AKP Agung Hartawan, memimpin olah tempat kejadian perkara.
“Benar, saya masih melakukan olah TKP. Pengecekan belum selesai,” ujar Agung.
Korban dan Luka yang Ditinggalkan
Peristiwa ini menelan satu nyawa dan melukai enam orang lainnya. Supriadi (55) meninggal dunia seketika, sementara Kulsum (60) mengalami patah kaki kanan. Samsul (22), Riko (25), Fais (20), Abdur (15), dan Fino (15) menderita luka bakar di berbagai tingkat. Semua korban kini mendapatkan perawatan intensif di RSUD Asembagus.
Warga yang selamat menyaksikan lima rumah hancur, reruntuhan bergelimpangan dan memisahkan keluarga dari harta benda mereka. Bau asap dan debu petasan menyengat, menambah ketegangan. Anak-anak menutup wajah mereka, sementara tetangga berlarian membantu evakuasi.
Pihak kepolisian tetap berjaga ketat hingga sore hari. Mereka khawatir masih ada bubuk petasan yang bisa meledak kapan saja. Tim penjinak bom dari Brimob dipanggil untuk memastikan keamanan.
“Kami akan memeriksa sisa bubuk dan mengamankan lokasi agar tidak ada korban tambahan,” tambahnya.
Warga Menanggung Risiko dan Kerugian
Kejadian ini tidak hanya menimbulkan korban fisik, tetapi juga kerugian materiil besar. Rumah-rumah hancur, barang-barang habis terbakar, dan keluarga kehilangan tempat tinggal sementara. Mereka yang sebelumnya hidup tenang kini menghadapi trauma psikologis dan ketidakpastian.
Para tetangga dan relawan bergotong-royong mengevakuasi barang yang bisa diselamatkan. Namun, rasa takut tetap membayangi. Setiap suara keras memicu ingatan akan ledakan yang menelan nyawa dan mengubah pagi yang biasa menjadi tragedi.
Refleksi dan Sindiran Ringan
Di tengah tumpukan puing dan bau asap, satu pertanyaan muncul mengapa praktik penyimpanan bubuk petasan di lingkungan padat masih terjadi? Seorang warga menghela napas, “Seolah kita menunggu ledakan berikutnya.”
Tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa satu detik lengah, satu bahan mudah meledak, dan satu keputusan nekat dapat mengubah hidup banyak orang. Di Situbondo, pagi yang biasa kini berubah menjadi pelajaran hidup yang pahit keamanan masyarakat tidak boleh menjadi taruhan. @dimas





