Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Gaza Kembali Berdarah, 12 Orang Tewas Usai Serangan Israel

by dimas
Februari 16, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Global – Kesunyian dini hari di Jalur Gaza kembali pecah oleh dentuman bom. Padahal, kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat baru saja memasuki fase kedua bulan lalu. Namun, harapan warga Palestina untuk bernafas lebih tenang kembali runtuh ketika militer Israel melancarkan serangan baru. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 12 orang tewas akibat rangkaian serangan tersebut.

Serangan itu tidak hanya merusak bangunan. Serangan itu juga menghancurkan rasa aman yang sempat tumbuh tipis di tengah reruntuhan konflik panjang.

Tenda Pengungsi Jadi Sasaran

Badan Pertahanan Sipil Gaza melaporkan bahwa serangan udara Israel menghantam tenda-tenda pengungsi di Jabalia, wilayah Gaza utara. Serangan itu menewaskan lima orang dan melukai sejumlah lainnya. Para korban merupakan warga sipil yang sebelumnya sudah kehilangan rumah akibat perang.

Pada waktu yang hampir bersamaan, militer Israel juga menggempur Khan Yunis di Gaza selatan. Serangan kedua itu kembali menewaskan lima orang dan melukai warga lainnya. Dentuman bom memaksa warga berlarian dalam gelap, mencari perlindungan di tempat yang semakin terbatas.

Tidak lama kemudian, tembakan pasukan Israel merenggut nyawa satu orang di Kota Gaza. Sementara itu, satu korban lainnya tewas akibat tembakan di Beit Lahia, wilayah Gaza utara.

Ini Belum Selesai

Bukan Cuma Soal Motor, Ketika Komunitas Jadi Tempat Mencari Arah

Desa Adat Sade Terbakar, Ratusan Rumah Sasak Ludes dalam Semalam

Rumah sakit Al-Shifa dan Nasser menerima sedikitnya tujuh jenazah dari rangkaian serangan tersebut. Petugas medis berjuang merawat korban luka di tengah keterbatasan obat dan fasilitas.

Warga Sipil Kembali Jadi Korban Utama

Serangan terbaru ini kembali menempatkan warga sipil sebagai korban paling terdampak. Banyak dari mereka sebenarnya sudah hidup di tenda darurat setelah rumah mereka hancur dalam serangan sebelumnya. Kini, bahkan tempat perlindungan sementara itu pun tidak lagi aman.

Osama Abu Askar, seorang warga Gaza, merasakan kehilangan yang mendalam. Ia kehilangan keponakannya dalam serangan di Jabalia.

“Israel tidak memahami gencatan senjata atau perdamaian,” ujarnya.

Ia menggambarkan bagaimana serangan itu datang tanpa peringatan. Bom jatuh saat orang-orang masih terlelap. Dalam hitungan detik, tidur berubah menjadi duka.

Kesaksian itu mencerminkan kenyataan pahit yang terus berulang di Gaza: warga sipil menanggung harga tertinggi dari konflik yang tidak mereka kendalikan.

Gencatan Senjata yang Kehilangan Makna

Kesepakatan gencatan senjata seharusnya menjadi pintu menuju de-eskalasi. Kesepakatan itu diharapkan memberi ruang bagi bantuan kemanusiaan dan membuka peluang dialog politik. Namun, serangan terbaru justru memperlihatkan rapuhnya komitmen tersebut.

Di satu sisi, Israel berdalih bahwa operasi militer bertujuan menjaga keamanan. Namun di sisi lain, setiap serangan baru memperpanjang siklus kekerasan dan memperdalam krisis kemanusiaan.

Situasi ini juga memperlihatkan keterbatasan pengaruh mediator internasional. Amerika Serikat yang memediasi gencatan senjata kini menghadapi tekanan untuk memastikan kesepakatan itu benar-benar dihormati.

Dampak Lebih Luas: Harapan yang Terus Terkikis

Bagi masyarakat Gaza, setiap pelanggaran gencatan senjata membawa dampak yang jauh lebih besar daripada angka korban. Serangan itu mengikis harapan, memperdalam trauma, dan memperpanjang penderitaan.

Anak-anak tumbuh dalam suara bom. Orang tua hidup dalam ketakutan kehilangan keluarga. Sementara itu, fasilitas kesehatan terus kewalahan menangani korban.

Konflik ini juga mengguncang kepercayaan terhadap diplomasi internasional. Ketika gencatan senjata tidak mampu menghentikan kekerasan, warga sipil mulai mempertanyakan siapa yang benar-benar melindungi mereka.

Pada akhirnya, gencatan senjata seharusnya menghentikan perang. Namun di Gaza hari ini, gencatan senjata justru terasa seperti jeda singkat sebelum dentuman berikutnya. @dimas

Tags: Gazagencatan senjataIsraelKemanusiaanKonflik DuniaPalestinaperangSeranganTimur Tengah

Kamu Melewatkan Ini

Roadmap Damai Gaza: Netanyahu Ajukan Syarat Sendiri

Roadmap Damai Gaza: Netanyahu Ajukan Syarat Sendiri

by Tabooo
Agustus 17, 2026

Washington ingin roadmap damai Gaza bergerak. Netanyahu punya syarat berbeda: Hamas harus dilucuti sepenuhnya sebelum pasukan Israel mundur.

Bau yang Dipermasalahkan, Kemiskinan yang Diabaikan

Bau yang Dipermasalahkan, Kemiskinan yang Diabaikan

by dimas
Agustus 4, 2026

Insiden lansia diminta turun dari Transjakarta memicu perdebatan. Di balik persoalan bau, muncul pertanyaan besar tentang empati, kemiskinan, dan hak...

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

Memuliakan Kekuasaan atau Memuliakan Manusia?

by dimas
Juni 21, 2026

Memuliakan kekuasaan atau memuliakan manusia? Ketika rakyat merasa terabaikan, kontrak sosial mulai retak, kepercayaan publik memudar, dan demokrasi kehilangan fondasi...

Next Post
Pemerintah Rilis Edaran Libur Awal Ramadan 2026, Ini Jadwal Lengkapnya

Pemerintah Rilis Edaran Libur Awal Ramadan 2026, Ini Jadwal Lengkapnya

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id