Tabooo.id: Deep – “Kami hanya bisa menatap bukit itu setiap hari, sementara emasnya pergi ke kota lain,” kata Pak Rudi, seorang petani di Tapanuli Selatan, menatap jauh ke arah lereng hijau yang mulai terkoyak tambang.
Burung-burung bersahut-sahutan di pagi hari, tetapi hatinya terasa hampa. Setiap kali matahari naik, ia teringat pada cadangan emas di tanahnya emas yang seharusnya menjadi berkah bagi desa, namun belum banyak menetes ke meja mereka.
Indonesia memang kaya. Dari Sabang sampai Merauke, tanah ini menyimpan harta karun alam yang tak terhitung. Kekayaan itu sering menimbulkan paradoks: potensi melimpah, tapi kesejahteraan warga tetap menjadi pertanyaan besar.
Martabe dan Janji Pemerintah
Di Sumatra Utara, perhatian publik kini tertuju pada Tambang Emas Martabe. PT Agincourt Resources mengelola tambang ini sebagai anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR). Martabe mulai berkembang sejak 2008 dan memasuki fase produksi emas pada 2012, dengan konsesi awal seluas 6.560 km². Kini, wilayah konsesi menyusut menjadi 130.252 hektare, membentang di Tapanuli Selatan, Tengah, Utara, serta Mandailing Natal.
Pemerintah bersiap mengambil alih konsesi melalui PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Namun, UNTR mengaku belum menerima surat resmi terkait rencana tersebut. Saat ini, PT Danusa Tambang Nusantara menguasai 95% saham Agincourt, sedangkan 5% sisanya dimiliki PT Artha Nugraha Agung, unit BUMD Tapanuli Selatan.
Di balik angka besar itu, warga lokal menatap tanah mereka dengan rasa ingin tahu dan cemas. Mereka bertanya-tanya apakah pengelolaan baru akan memberi manfaat nyata, atau hanya menambah ketidakpastian?
Cadangan dan Produksi, Tapi Warga Tetap Tersingkir
Hingga Juni 2025, Martabe memproyeksikan cadangan mineral mencapai 6,4 juta ons emas dan 58 juta ons perak. Tambang lain di Indonesia juga tak kalah fenomenal Grasberg di Papua menyimpan 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas, sementara Batu Hijau di Nusa Tenggara Barat menampung 22,5 juta ons emas. Tambang Tujuh Bukit, Pani, Pobaya, dan Toka Tindung menambah daftar panjang kekayaan alam Indonesia.
Meski demikian, wajah warga lokal tetap sama petani, nelayan, dan buruh tambang kecil menatap kekayaan itu dari kejauhan. Beberapa hanya menerima pekerjaan paruh waktu atau kontribusi sosial yang minim. Janji CSR sering terlupakan seiring waktu.
Pak Rudi menghela napas. Lereng yang dulunya hijau kini terkoyak aktivitas tambang.
“Setiap tahun, tambang menambang lebih dalam. Tapi rumah kami masih sama, anak-anak tetap harus berjalan jauh ke sekolah, dan biaya hidup makin tinggi,” ujarnya, matanya berkaca-kaca.
Pertanyaan yang Tersembunyi di Balik Angka
Pengambilalihan Martabe oleh pemerintah bisa memberi warga lokal kontrol lebih besar atas sumber daya dan royalti. Namun, investor menghadapi ketidakpastian, sementara pengelolaan baru sering tersangkut birokrasi.
Sistem lebih menyoroti keuntungan produksi, cadangan mineral, dan angka royalti. Sementara itu, manusia di sekitar tambang tetap bergumul dengan keseharian yang sulit. Kekayaan alam menjadi indikator statistik, tapi wajah-wajah warga tetap menyimpan pertanyaan dan kecemasan yang nyata.
Tambang besar memberi pajak, royalti, dan lapangan kerja, namun banyak warga tetap marginal. Beberapa kehilangan akses tanah atau menghadapi dampak lingkungan. Di Martabe, pekerjaan paruh waktu hanya cukup menutupi sebagian kecil kebutuhan keluarga. Bantuan CSR yang diberikan kerap terlambat atau tidak merata. Warga hidup di bawah bayang-bayang emas, yang seolah menjadi hantu: menggoda tapi tak pernah benar-benar disentuh.
Tabooo Refleksi: Sistem Menyembunyikan Ketidakadilan
Di balik gemerlap emas, sistem jarang menyuarakan rakyat. Konsesi dan cadangan menjadi angka di laporan tahunan, sementara warga lokal tetap berjuang. Investor diuntungkan, negara mendapat royalti, tetapi warga lokal menghadapi ketidakpastian sehari-hari.
Ketika kebijakan dibuat, keuntungan besar sering mendominasi, sedangkan distribusi manfaat yang adil jarang diprioritaskan. Pengambilalihan Martabe membuka peluang, tapi tetap menimbulkan pertanyaan apakah kesejahteraan warga benar-benar menjadi prioritas, atau tetap nomor sekian setelah keuntungan perusahaan dan negara?
Harapan dan Kontradiksi
Pak Rudi menatap anak-anaknya bermain di pinggir sungai. Ia berharap anak-anak itu kelak dapat merasakan manfaat langsung dari emas di tanah mereka. Ia ingin sekolah lebih layak, jalan tak lagi rusak, dan masa depan mereka lebih cerah.
Kenyataannya, kekayaan melimpah tetapi warga tetap tertinggal. Emas tetap terkubur, peluang dan modal pergi ke luar negeri, sementara desa menunggu perubahan nyata. Di balik setiap ons emas yang digali, tersimpan pertanyaan kapan rakyat yang menatap bukit itu akan benar-benar ikut menikmati hasilnya?
Di sinilah paradoks Indonesia: kaya sumber daya, tapi kesejahteraan manusia belum sejalan dengan kekayaan alam yang luar biasa. @dimas




