Tabooo.id: Regional – Hujan deras mengguyur kawasan Pasar Gede, Solo, Minggu (15/2/2026). Namun air dari langit tak mampu membubarkan lautan manusia yang memadati perayaan Grebeg Sudiro 2026. Ribuan warga tetap bertahan, basah kuyup, demi satu hal berebut kue keranjang, ikon perayaan menyambut Tahun Baru Imlek.
Hujan Deras, Antusiasme Tak Luntur
Sekitar 5.000 kue keranjang panitia susun dalam dua jodang atau gunungan besar: jodang lanang dan jodang wadon. Panitia juga membagikan sebagian kue dari panggung utama. Begitu aba-aba diberikan, warga langsung merangsek maju. Payung bertabrakan, sandal terlepas, namun semangat tak goyah.
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, membuka parade secara langsung. Kirab diawali pasukan Paskibra yang membawa gambar Burung Garuda, disusul korps drum band, lalu atraksi liong dan barongsai yang menyedot perhatian. Dentuman musik dan tabuhan tambur berpadu dengan sorak warga yang tak peduli pakaian mereka sudah basah.
Kirab Budaya, Simbol Akulturasi
Sekitar 50 kelompok masyarakat ikut meramaikan kirab. Tak hanya dari Solo, peserta dari luar kota juga ambil bagian. Rute arak-arakan mengelilingi Pasar Gede, kawasan yang dikenal sebagai Kampung Pecinan dan menjadi pusat perayaan Imlek di Kota Bengawan.
Di tengah guyuran hujan yang sempat turun cukup deras, warga tetap memadati sepanjang rute. Mereka berdiri berjam-jam demi menyaksikan kirab sekaligus menunggu pembagian kue keranjang.
Nuryanto (32), warga Sukoharjo, datang lebih awal agar tak kehabisan. Ia berhasil membawa pulang tiga kue keranjang.
“Ya tetap semangat meski hujan turun. Saya tetap berebut dan berdesak-desakan untuk mendapatkan kue keranjang di Grebeg Sudiro tahun ini,” ujarnya.
UMKM Panen Rezeki, Warga Panen Harapan
Ketua Panitia Grebeg Sudiro 2026, Arsatya Putra Utama, memastikan panitia membagikan total 5.000 kue kepada masyarakat. Ia menegaskan konsep tahun ini tetap mempertahankan tradisi kirab budaya seperti tahun sebelumnya.
“Karnaval seperti tahun lalu, rutenya mengelilingi kawasan Pasar Gede yang dikenal sebagai Kampung Pecinan,” kata Arsatya.
Bagi pedagang kaki lima dan pelaku UMKM di sekitar Pasar Gede, keramaian ini membawa berkah. Dagangan laris, pembeli berdatangan, dan perputaran uang terasa cepat. Sementara itu, warga yang tak kebagian kue tetap bertahan demi merasakan atmosfer kebersamaan. Mereka mungkin pulang tanpa kue, tetapi tidak tanpa cerita.
Grebeg Sudiro sekali lagi membuktikan diri sebagai simbol akulturasi Jawa dan Tionghoa di Solo. Di kota ini, hujan boleh deras, tetapi tradisi tak pernah surut. Dan di antara payung-payung yang saling berbenturan, kebersamaan justru terasa paling hangat. @eko




