Tabooo.id: Food – Pernah nggak sih kamu jalan ke sebuah tempat, belum apa-apa udah merasa “kok kayaknya harus makan deh”? Nah, itu yang biasanya terjadi kalau kamu masuk ke Pasar Atom Surabaya. Bukan karena kamu rakus tenang, itu wajar tapi karena dari pintu depan aja kamu udah diserbu aroma cakue goreng, petis, rempah, sampai wangi gorengan yang bikin diet kamu mendadak hilang ingatan.
Dan lucunya, Pasar Atom ini tuh kayak portal waktu. Begitu masuk, kamu bukan cuma belanja, tapi juga ketampar nostalgia. Kuliner-kuliner legendaris yang udah berdiri sejak puluhan tahun lalu masih survive, bahkan makin ramai. Pertanyaannya kenapa kita selalu balik ke makanan-makanan jadul ini, padahal hidup sekarang udah penuh bubble tea, croffle, dan es kopi literan?
Sabar, sebelum kita mengulik sisi psikologisnya, kenalan dulu sama lima kuliner wajib coba yang bikin Pasar Atom selalu punya antrean panjang.
Kuliner Legendaris yang Nggak Pernah Ngecewain
1. Cakue Peneleh – Jawara Sejak 1988
Beroperasi sejak 1988, Cakue Peneleh adalah bukti kalau makanan sederhana bisa jadi comfort food lintas generasi. Bertempat di Lantai 1 Pasar Atom Lama Tahap III, cakue ini terkenal karena isian ayam-udangnya yang lumer begitu digigit. Renyah di luar, lembut di dalam. Dan ya, ini salah satu alasan kenapa kamu nggak bisa sekadar beli satu.
2. Nasi Cumi Pasar Atom – Simple tapi Nagihnya Kebangetan
Nggak perlu gimmick. Cuma nasi putih, cumi empuk, bumbu manis-gurih, dan aroma rempah yang meluk batin. Tapi justru kesederhanaan itulah yang bikin Nasi Cumi Pasar Atom nggak pernah sepi. Topping-nya bejibun: cumi hitam, telur, empal, paru, babat, sampai peyek udang. Ini makanan yang bikin kamu merasa “kok kayaknya hidup nggak seberat itu ya?”
3. Super Pastel Ayam ‘Go’ – Surganya Para Pecinta Gorengan
Kamu tim pastel suun? Tim risoles? Atau tim lumpia? Di Super Pastel Ayam “Go”, kamu nggak perlu memilih. Tinggal beli semua. Mulai dari pastel ragut, kroket, sampai pastel special, semuanya dihargai ramah kantong Rp10.000–Rp13.000. Alias batasan hanya dompet dan niat diet kamu.
4. Rujak Madura ‘Bu Mah’ – Perpaduan Segar yang Bikin Nagih
Terletak di lantai dasar, Rujak Madura “Bu Mah” menyajikan rujak dengan berbagai karakter. Mau yang manis, pedas, seger, atau yang bikin keringetan dikit? Ada semua. Rujak Manis, Rujak Tolet, Gobet, Cingur, sampai khas Madura. Ini makanan yang cocok buat kamu yang lagi butuh sesuatu yang “nendang” setelah muter-muter cari oleh-oleh.
5. Lontong Mie Nyonya Marlia – Warisan Sejak 1975
Ini bukan sekadar makanan, tapi benda bersejarah yang masih bisa kamu makan. Lontong Mie Nyonya Marlia hadir sejak 1975, dan rasa khasnya tetap dipertahankan. Ditambah sate kerang, lentho, dan kuah yang bisa kamu racik sendiri pakai petis udang. Mulai Rp27.000, kamu dapat nostalgia rasa khas Surabaya yang otentik banget.
Kenapa Kita Suka Banget Sama Kuliner Jadul?
Di era makanan Instagramable, makanan-makanan legendaris di Pasar Atom justru tetap bertahan. Kenapa?
Pertama, kuliner jadul bikin kita merasa “aman”. Ada kehangatan di balik rasa yang udah kita kenal sejak kecil atau dari cerita keluarga.
Kedua, otentisitas. Anak muda sekarang makin jago mendeteksi sesuatu yang “dibikin setengah hati”. Sementara kuliner lama ini bertahan karena kualitasnya konsisten.
Ketiga, makanannya real. Nggak ada topping berlebihan atau visual hiperbola. Yang kamu makan, ya itu adanya. Ini cocok dengan tren self-care: kembali ke hal-hal sederhana yang bikin kita nyaman.
Dan jangan lupa kuliner di Pasar Atom adalah bentuk “healing” paling murah dan paling bisa diterima dompet semua kalangan.
Akhir Kata: Apa Dampaknya Buat Kamu?
Jadi, kalau kamu mampir ke Pasar Atom, kamu bukan cuma makan. Kamu lagi merayakan tradisi, nostalgia, dan percaya atau nggak melakukan self-therapy kecil-kecilan.
Dalam hidup yang serba cepat, makanan seperti inilah yang bikin kita merasa “nyambung” dengan diri sendiri. Bikin kita berhenti sejenak dari drama timeline, chat kantor, dan tuntutan hidup.
Jadi, kapan terakhir kali kamu makan bukan cuma buat kenyang, tapi buat bahagia?
Kalau jawabannya “sudah lama”, mungkin itu tanda:
Saatnya jalan ke Pasar Atom. @sabrina




