Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih kamu nonton film animasi lalu tiba-tiba berhenti ngunyah popcorn karena sadar, “Eh, ini kayak kondisi politik negara sendiri?” Nah, Zootopia 2 hadir dengan paket lengkap seperti itu. Visualnya imut, warnanya cerah, tetapi pesannya… cukup bikin penonton dewasa menelan ludah sambil senyum kecut.
Sembilan tahun setelah film pertamanya meraih sukses besar, Judy Hopps dan Nick Wilde kembali dengan petualangan yang jauh lebih kompleks. Menariknya, Jared Bush kini menulis sendirian, dan keputusan itu terasa dalam setiap sudut ceritanya. Ia seperti menumpahkan semua keresahan yang terkumpul dari bertahun-tahun mengamati dunia yang makin absurd.
Penulis yang Tidak Bisa Diam Melihat Dunia Berubah
Sejak awal, Bush bersama Bryon Howard kembali duduk di kursi sutradara. Namun, karena Bush menulis naskahnya seorang diri, cerita Zootopia 2 bergerak ke arah yang lebih renyah sekaligus lebih dalam.
Selain itu, Bush terlihat seperti habis menyelami banyak percakapan publik tentang diskriminasi, isu kekuasaan, konflik sosial, hingga politik identitas. Alhasil, ia mengolah semua kegelisahan itu menjadi kisah hewan menggemaskan yang tampak ringan, tetapi sebenarnya cukup pedas jika kita mencernanya lebih lama.
Gary De’Snake: Ular yang Mengguncang Kota
Masuklah tokoh baru Gary De’Snake. Ular ini bukan sekadar karakter tambahan ia memantik petualangan besar yang melibatkan kejar-kejaran intens antara Judy dan Nick. Namun semakin dalam mereka menggali, semakin jelas bahwa persoalan Gary bukan kasus kecil.
Sebaliknya, penyelidikan itu membuka jalan menuju:
- rahasia lama yang disembunyikan kota,
- kebohongan publik yang mempengaruhi banyak warga,
- serta konspirasi besar yang, kalau terjadi di dunia nyata, pasti langsung viral dan memenuhi dashboard media sosial.
Jika Zootopia pertama membahas isu makar demi balas dendam, maka sekuel ini naik kelas. Bush menyorot diskriminasi terstruktur, stigma yang dibentuk hoaks, dan ketidakadilan sosial yang terasa sangat akrab di telinga kita.
Visual Manis, Cerita Pahit: Kombinasi yang Justru Menguatkan
Walaupun tema yang diangkat cukup berat, Bush tetap menjaga keseimbangan. Ia mempertahankan humor khas Zootopia yang ringan, cerdas, dan muncul secara natural dari karakter. Karena itu, penonton tidak pernah kehilangan momen untuk tertawa di sela-sela cerita yang menggigit.
Selain itu, Bush juga memperluas sejarah kota Zootopia. Ia membeberkan asal-usul yang selama ini tidak terbayangkan oleh penonton. Secara tidak langsung, perubahan ini membuat kita mempertanyakan kembali semua hal yang kita pikir kita ketahui tentang kota hewan itu.
Pada akhirnya, pesan sosialnya tampil dengan jelas:
setiap makhluk pantas memiliki rumah, pantas menjadi dirinya sendiri, dan pantas hidup tanpa stigma yang merendahkan martabatnya.
Pesan ini memang sederhana, tetapi ironisnya semakin sulit diwujudkan di dunia nyata dan itu justru membuat film ini terasa penting.
Hiburan Anak, Sindiran untuk Orang Dewasa
Zootopia 2 berhasil menyatukan penonton lintas usia. Anak-anak menikmati karakter lucu, sementara orang dewasa pulang dengan pikiran yang lebih berat dari tas belanjaan mereka.
Anak-anak menirukan suara Nick Wilde.
Namun orang dewasa? Mereka sibuk merenung sambil bertanya, “Ini sebenarnya tentang kita, kan?”
Selain itu, Bush seolah ingin mengingatkan bahwa di tengah dunia yang semakin gaduh, penuh prasangka, dan gampang saling curiga, kita tetap memiliki hak untuk menjadi diri sendiri.
Film ini juga tetap ramah bagi penonton yang tidak menonton film pertamanya. Meski begitu, menyaksikan Zootopia (2016) terlebih dahulu tentu membuat konteks emosionalnya terasa lebih lengkap.
Jadi, siap kembali masuk ke kota hewan paling chaos sekaligus paling jujur yang pernah dibuat Disney? @dimas




