Tabooo.id: Health – Media sosial lagi rame bahas vasektomi. Ada yang bilang ini bentuk tanggung jawab, ada juga yang nyeletuk “itu kan kebiri?”
Masalahnya, opini sering lebih kencang dari fakta. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi di tubuh pria setelah vasektomi?
Saat Keputusan Pribadi Jadi Bahan Perdebatan
Sebuah pasangan membagikan keputusan mereka menjalani vasektomi setelah merasa jumlah anak cukup. Respons publik langsung terbelah.
Sebagian orang memuji langkah itu sebagai bentuk tanggung jawab. Tapi yang lain justru meragukan, bahkan menyamakannya dengan kebiri.
Padahal, secara medis, dua hal ini beda jauh.
Vasektomi: Prosedur Kecil, Dampak Besar
Dokter melakukan vasektomi dengan memotong atau menutup saluran sperma (vas deferens). Tujuannya jelas menghentikan sperma keluar saat ejakulasi agar tidak terjadi kehamilan.
Prosedur ini tergolong ringan. Dokter hanya memakai anestesi lokal, tanpa rawat inap. Pasien bahkan bisa langsung pulang di hari yang sama.
Efektivitasnya juga tinggi hampir 100 persen.
Lalu, ke mana sperma pergi setelah “jalannya ditutup”?
Dokter spesialis urologi RSCM, Nur Rasyid, menjelaskan dengan sederhana “Dengan berjalannya waktu, sperma itu akan rusak dan diserap kembali oleh tubuh.”
Tubuh tidak menyimpan sperma. Tubuh mengelolanya, lalu mendaur ulang secara alami.
Kebiri? Jauh Banget
Di sinilah banyak orang salah paham. Vasektomi hanya menutup jalur sperma. Testis tetap bekerja seperti biasa. Tubuh tetap memproduksi hormon testosteron.
Nur Rasyid menegaskan
“Hormon testosteron tetap diproduksi dan disalurkan melalui darah, jadi tidak terpengaruh.”
Artinya, pria tetap bisa ereksi, orgasme, dan ejakulasi. Tidak ada yang “hilang”, kecuali sperma di dalam cairan mani.
Sebaliknya, kebiri justru menghentikan fungsi testis secara total. Prosedur itu bisa menurunkan hormon testosteron, memengaruhi libido, bahkan mengubah kondisi fisik.
Jadi, menyamakan vasektomi dengan kebiri? Itu seperti menyamakan rem mobil dengan mematikan mesin.
Bisa Dibalik, Tapi Jangan Coba-coba
Dokter sebenarnya bisa menyambung kembali saluran sperma. Tapi prosedur ini rumit, mahal, dan tidak selalu berhasil.
Karena itu, dokter menyarankan vasektomi hanya untuk pria yang benar-benar yakin tidak ingin punya anak lagi.
Alternatif lain tetap ada, seperti bayi tabung (IVF) dengan pengambilan sperma langsung dari testis. Tapi jelas, prosesnya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Aman, Tapi Bukan “Tameng” Segalanya
Sebagian pria takut efek samping. Faktanya, vasektomi jarang menimbulkan komplikasi serius.
Pasien mungkin merasakan nyeri ringan, bengkak, atau memar. Tapi kasus nyeri jangka panjang hanya terjadi pada sekitar 1–2 persen.
Yang perlu diingat vasektomi tidak melindungi dari infeksi menular seksual. Dalam kondisi tertentu, kondom tetap jadi pilihan aman.
Antara Maskulinitas dan Fakta
Perdebatan soal vasektomi sering bukan soal medis tapi soal stigma.
Sebagian orang masih mengaitkan kejantanan dengan kemampuan reproduksi. Padahal, tubuh pria tidak “berkurang” hanya karena memilih kontrasepsi.
Faktanya jelas vasektomi aman, efektif, dan tidak mengganggu fungsi seksual.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi “berani atau tidak”. Tapi kenapa keputusan kesehatan pribadi masih sering kalah oleh opini yang belum tentu benar?. @teguh







