Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Beli Gas Pakai Sidik Jari: Solusi atau Masalah Baru?

by dimas
April 8, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Bayangin beli gas 3 kg bukan cuma bawa tabung kosong.
Kini, prosesnya bisa berubah harus scan sidik jari, bahkan retina mata.

Sekilas terlihat modern.
Namun, pertanyaannya sederhana kita sudah siap belum?

Solusi di atas kertas

Usulan datang dari Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah. Ia mendorong penggunaan sistem biometrik untuk pembelian LPG subsidi agar lebih tepat sasaran.

Dengan mekanisme ini, hanya orang yang terdaftar yang bisa membeli.
Artinya, celah “pinjam identitas” bisa ditekan.

Di sisi lain, praktisi migas Hadi Ismoyo menilai langkah ini layak diuji coba.
“Menurut saya, cukup efektif untuk diuji coba dalam koordinat tertentu. Makin cepat makin bagus,” ujarnya.

Ini Belum Selesai

Sapi Kurban Rp100 Miliar: Sedekah Negara atau Panggung Politik?

Harga Cabai Naik, Petani Sumatera Tetap Tercekik

Secara teknologi, Indonesia dinilai mampu.
Namun demikian, kesiapan teknis bukan satu-satunya masalah.

Saat negara masuk ke tubuh

Lebih dari sekadar kebijakan energi, ini menyentuh wilayah yang lebih personal.
Identitas tubuh sidik jari dan retina mulai jadi “akses” kebutuhan dasar.

Di titik ini, muncul dilema baru.
Apakah sistemnya benar-benar siap, atau hanya terlihat siap di atas kertas?

Realita lapangan nggak sesimpel itu

Menurut ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, biometrik hanya berfungsi sebagai verifikasi identitas.
Sayangnya, fungsi itu tidak otomatis memperbaiki distribusi.

Akibatnya, jika rantai distribusi masih bermasalah, kebocoran tetap bisa terjadi.
Selain itu, tantangan infrastruktur juga tidak kecil.

Di banyak daerah, listrik belum stabil dan internet sering terputus.
Ketika satu alat bermasalah, antrean bisa langsung mengular.

Bahkan, jika server melambat, proses pembelian bisa tersendat total.

Dari solusi ke potensi masalah

Di satu sisi, tujuan kebijakan ini jelas: menutup celah subsidi.
Namun di sisi lain, risiko baru ikut muncul.

“Jika tidak ada prosedur cadangan yang cepat, ini bisa memicu friksi sosial,” kata Syafruddin.

Misalnya, saat sidik jari gagal terbaca, apakah warga tetap bisa membeli?
Lalu, ketika sistem error, apakah transaksi harus berhenti?

Belum lagi soal antrean panjang.
Siapa yang menanggung waktu dan biaya tambahan?

Yang kena, kamu juga

Dampaknya tidak berhenti di kebijakan.
Justru, efeknya langsung terasa di level paling dekat kehidupan sehari-hari.

Tanpa kesiapan matang, pembelian gas bisa jadi lebih lama.
Selain itu, biaya waktu ikut meningkat.

Pada akhirnya, akses yang seharusnya mudah justru terasa makin jauh.
Ironisnya, sistem yang dirancang membantu malah berpotensi menyulitkan.

Masalahnya bukan teknologi

Sebenarnya, ide ini tidak keliru.
Bahkan, dalam konteks tertentu, langkah ini memang diperlukan.

Namun, akar masalahnya bukan di teknologi.
Melainkan di fondasi sistem yang belum sepenuhnya rapi.

Selama distribusi masih bocor dan data belum solid, teknologi hanya jadi pelengkap mahal.
Alih-alih menyelesaikan masalah, ia bisa menutupinya sementara.

Dan, pola seperti ini bukan hal baru.

Ujungnya siapa yang repot?

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan soal bisa atau tidak.
Melainkan soal siap atau belum.

Jika sistem belum matang, dampaknya akan terasa lebih dulu di masyarakat kecil.
Mereka yang hanya ingin membeli satu tabung gas tanpa hambatan.

Jadi, ketika teknologi diterapkan terlalu cepat, satu hal perlu diingat yang paling dulu merasakan bukan sistem tapi manusia. @dimas

Tags: DistribusiEkonomi IndonesiaEnergierrorGasKebijakanKrisis GlobalLPGNasionalrakyatRealitaSistemSosial & PublikSubsidi

Kamu Melewatkan Ini

Rupiah Tembus Titik Rapuh: Saat Ketakutan Pasar Jadi Kenyataan

Rupiah Tembus Titik Rapuh: Saat Ketakutan Pasar Jadi Kenyataan

by dimas
Mei 27, 2026

Rupiah menyentuh titik rapuh ketika ketakutan pasar berubah menjadi tekanan ekonomi nyata. Krisis kepercayaan kini mulai terasa sampai ke dompet...

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat...

Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Publik Tetap Takut?

Ekonomi Tumbuh, Tapi Kenapa Publik Tetap Takut?

by dimas
Mei 23, 2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia naik, tetapi publik justru makin cemas. Rupiah melemah, pekerjaan sulit, dan rasa aman finansial mulai retak. Tabooo.id...

Next Post
Film Pertama Indonesia, Tapi Kita Lupa Sejarahnya?

Film Pertama Indonesia, Tapi Kita Lupa Sejarahnya?

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

Mei 27, 2026

Dewan Pers Soroti Dugaan Penculikan Wartawan Indonesia oleh Tentara Israel

Mei 19, 2026

Amerika Serikat Kirim Kapal Induk Kedua, Sinyal Keras ke Iran Soal Kesepakatan Nuklir

Februari 14, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id