Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

UFC Jadi Mimpi Gibran, Tapi Pengalaman Jadi Harga Mati

by jeje
Agustus 11, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
UFC memang jadi mimpi besar Gibran A. Darrow. Tapi anehnya, petarung asal Jawa Tengah itu justru memilih tidak buru-buru mengejar level profesional. Baginya, masuk ke arena pro tanpa cukup jam terbang bukan keberanian, melainkan risiko. Gibran memilih memperbanyak pertandingan, mengasah teknik, dan membangun mental sebelum benar-benar naik kelas. Sebab di MMA, latihan bisa membentuk tubuh, tetapi pertandingan yang menguji apakah seorang petarung benar-benar siap.

Tabooo.id – UFC menjadi panggung impian banyak petarung MMA. Namun bagi Gibran A. Darrow, mengejar panggung terbesar bukan berarti harus terburu-buru menjadi profesional.

Petarung asal Jawa Tengah itu memilih memperbanyak pengalaman bertanding sebelum naik ke level pro. Baginya, jam terbang menjadi modal penting untuk mengasah mental, teknik, sekaligus kemampuan membaca pertarungan.

“Kalau saya sendiri, titik puncak karier MMA saya tetap UFC suatu saat nanti. Di situ tujuan saya,” ujar Gibran.

UFC Boleh Jadi Tujuan, Tapi Bukan Jalan Pintas

Gibran mengakui UFC tetap menjadi target utama dalam perjalanan kariernya. Namun, ia memilih menjalani setiap tahapan dengan lebih matang.

Menurutnya, seorang petarung tidak cukup hanya mengandalkan latihan di sasana. Pertandingan nyata menghadirkan tekanan dan karakter lawan yang berbeda.

Ini Belum Selesai

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

“Pertama saya bakal cari experience dulu, pengalamannya diperbanyak dulu. Baru dari pengalaman itulah nanti bisa terjun ke profesional,” katanya.

Gibran bahkan menganggap keputusan terlalu cepat masuk level profesional bisa menjadi bumerang.

“Kalau misalnya langsung nyebur ke pro, sama saja kayak bunuh diri. Jadi harus banyak experience dulu,” tegasnya.

Bagi Gibran, ambisi besar tetap membutuhkan fondasi. UFC memang menjadi tujuan, tetapi ia tidak ingin sampai di sana dalam kondisi belum siap.

Jam Terbang Jadi Senjata

Prinsip tersebut juga mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Sejak aktif bertanding, Gibran didorong untuk mencari pengalaman sebanyak mungkin.

Pertandingan itu bisa berlangsung di tingkat nasional maupun internasional. Bagi keluarganya, yang terpenting adalah Gibran terus menambah jam terbang.

“Orang tua saya selalu bilang banyakin tanding dulu. Entah nasional, internasional, atau pertandingan apa saja, yang penting cari pengalaman dan jam terbang,” ujarnya.

Gibran merasakan sendiri perbedaan antara latihan dan pertandingan. Saat bertanding, ia harus menghadapi tekanan, strategi lawan, dan situasi yang tidak selalu bisa diprediksi.

“Di pertandingan itu sama saja kayak dua kali latihan lebih cepat daripada latihan seperti biasa. Jadi tanding, tanding, tanding, dan cari pengalaman,” ucapnya.

Di titik ini, ambisi Gibran terlihat bukan sekadar soal ingin terkenal di UFC. Ia sedang membangun kemampuan agar bisa bertahan ketika level pertarungan semakin tinggi.

Striking Saja Tidak Cukup

Selain jam terbang, Gibran menilai penguasaan teknik menjadi faktor penting bagi petarung yang ingin bersaing di level internasional.

Ia melihat banyak atlet MMA Indonesia masih lebih mengandalkan striking. Padahal, kemampuan wrestling dan Brazilian Jiu-Jitsu juga sangat penting dalam pertarungan modern.

“Kalau pukul-pukulan semua orang pasti bisa. Tapi enggak semua orang bisa take down dengan benar, kontrol lawan dengan benar. Makanya wrestling sama Jiu-Jitsu itu penting banget,” jelasnya.

Menurut Gibran, perkembangan Brazilian Jiu-Jitsu di Indonesia masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan pelatih di sejumlah daerah.

“Jiu-Jitsu ini benar-benar masih sedikit di Indonesia. Di beberapa daerah bahkan sulit menemukan pelatihnya. Akhirnya banyak atlet yang lebih berkembang di striking,” katanya.

Karena itu, ia berharap semakin banyak sasana mengembangkan disiplin grappling. Menurutnya, petarung masa kini harus memiliki kemampuan yang lebih seimbang.

Gibran Ingin Jadi Petarung yang Balance

Gibran tidak ingin hanya kuat di satu sisi. Ia ingin memiliki kemampuan striking dan ground fighting yang sama-sama bisa diandalkan.

“Saya enggak mau cuma dominan di satu sisi. Harus balance. Kalau lawan lebih bagus di striking saya bisa main ground, kalau lawan lebih kuat di ground saya juga harus bisa striking,” tandasnya.

UFC masih menjadi titik puncak yang ingin ia capai. Namun sebelum sampai ke sana, Gibran memilih menjalani proses yang lebih panjang.

Sebab dalam MMA, berani masuk arena belum tentu berarti siap naik level.

Kadang, keputusan paling berani justru bukan mempercepat langkah. Melainkan tahu kapan harus menunggu, bertanding lebih banyak, lalu datang ketika benar-benar siap. @jeje

Tags: Gibran DarrowHan Fighting AcademyMMASoloSurakartaUFC

Kamu Melewatkan Ini

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

Rajamala: Dari Canthik ke Ikon Solo

by eko
Agustus 21, 2026

Rajamala menempuh perjalanan dari Canthik hingga menjadi ikon Solo. Namun, seberapa jauh masyarakat memahami cerita dan makna di balik wajah...

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

by eko
Agustus 21, 2026

45 peserta meriahkan Pawai Pembangunan Solo 2026 dari Perempatan Gendengan menuju depan Bank Indonesia Solo dengan tema Sayangi Semesta, Hidup...

Ketika Regenerasi Putus, Budaya Bisa Kehilangan Masa Depannya

Ketika Regenerasi Putus, Budaya Bisa Kehilangan Masa Depannya

by eko
Agustus 20, 2026

Wayang Potehi kembali hidup di Solo. Namun, pelestarian tidak cukup dengan membuka panggung. Budaya membutuhkan generasi yang mau belajar dan...

Next Post
Alphard KH Anwar Zahid Dihantam Trailer: Antrean Buka-Tutup Jadi Titik Rawan

Alphard KH Anwar Zahid Dihantam Trailer: Antrean Buka-Tutup Jadi Titik Rawan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id