UFC memang jadi mimpi besar Gibran A. Darrow. Tapi anehnya, petarung asal Jawa Tengah itu justru memilih tidak buru-buru mengejar level profesional. Baginya, masuk ke arena pro tanpa cukup jam terbang bukan keberanian, melainkan risiko. Gibran memilih memperbanyak pertandingan, mengasah teknik, dan membangun mental sebelum benar-benar naik kelas. Sebab di MMA, latihan bisa membentuk tubuh, tetapi pertandingan yang menguji apakah seorang petarung benar-benar siap.
Tabooo.id – UFC menjadi panggung impian banyak petarung MMA. Namun bagi Gibran A. Darrow, mengejar panggung terbesar bukan berarti harus terburu-buru menjadi profesional.
Petarung asal Jawa Tengah itu memilih memperbanyak pengalaman bertanding sebelum naik ke level pro. Baginya, jam terbang menjadi modal penting untuk mengasah mental, teknik, sekaligus kemampuan membaca pertarungan.
“Kalau saya sendiri, titik puncak karier MMA saya tetap UFC suatu saat nanti. Di situ tujuan saya,” ujar Gibran.
UFC Boleh Jadi Tujuan, Tapi Bukan Jalan Pintas
Gibran mengakui UFC tetap menjadi target utama dalam perjalanan kariernya. Namun, ia memilih menjalani setiap tahapan dengan lebih matang.
Menurutnya, seorang petarung tidak cukup hanya mengandalkan latihan di sasana. Pertandingan nyata menghadirkan tekanan dan karakter lawan yang berbeda.
“Pertama saya bakal cari experience dulu, pengalamannya diperbanyak dulu. Baru dari pengalaman itulah nanti bisa terjun ke profesional,” katanya.
Gibran bahkan menganggap keputusan terlalu cepat masuk level profesional bisa menjadi bumerang.
“Kalau misalnya langsung nyebur ke pro, sama saja kayak bunuh diri. Jadi harus banyak experience dulu,” tegasnya.
Bagi Gibran, ambisi besar tetap membutuhkan fondasi. UFC memang menjadi tujuan, tetapi ia tidak ingin sampai di sana dalam kondisi belum siap.
Jam Terbang Jadi Senjata
Prinsip tersebut juga mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Sejak aktif bertanding, Gibran didorong untuk mencari pengalaman sebanyak mungkin.
Pertandingan itu bisa berlangsung di tingkat nasional maupun internasional. Bagi keluarganya, yang terpenting adalah Gibran terus menambah jam terbang.
“Orang tua saya selalu bilang banyakin tanding dulu. Entah nasional, internasional, atau pertandingan apa saja, yang penting cari pengalaman dan jam terbang,” ujarnya.
Gibran merasakan sendiri perbedaan antara latihan dan pertandingan. Saat bertanding, ia harus menghadapi tekanan, strategi lawan, dan situasi yang tidak selalu bisa diprediksi.
“Di pertandingan itu sama saja kayak dua kali latihan lebih cepat daripada latihan seperti biasa. Jadi tanding, tanding, tanding, dan cari pengalaman,” ucapnya.
Di titik ini, ambisi Gibran terlihat bukan sekadar soal ingin terkenal di UFC. Ia sedang membangun kemampuan agar bisa bertahan ketika level pertarungan semakin tinggi.
Striking Saja Tidak Cukup
Selain jam terbang, Gibran menilai penguasaan teknik menjadi faktor penting bagi petarung yang ingin bersaing di level internasional.
Ia melihat banyak atlet MMA Indonesia masih lebih mengandalkan striking. Padahal, kemampuan wrestling dan Brazilian Jiu-Jitsu juga sangat penting dalam pertarungan modern.
“Kalau pukul-pukulan semua orang pasti bisa. Tapi enggak semua orang bisa take down dengan benar, kontrol lawan dengan benar. Makanya wrestling sama Jiu-Jitsu itu penting banget,” jelasnya.
Menurut Gibran, perkembangan Brazilian Jiu-Jitsu di Indonesia masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan pelatih di sejumlah daerah.
“Jiu-Jitsu ini benar-benar masih sedikit di Indonesia. Di beberapa daerah bahkan sulit menemukan pelatihnya. Akhirnya banyak atlet yang lebih berkembang di striking,” katanya.
Karena itu, ia berharap semakin banyak sasana mengembangkan disiplin grappling. Menurutnya, petarung masa kini harus memiliki kemampuan yang lebih seimbang.
Gibran Ingin Jadi Petarung yang Balance
Gibran tidak ingin hanya kuat di satu sisi. Ia ingin memiliki kemampuan striking dan ground fighting yang sama-sama bisa diandalkan.
“Saya enggak mau cuma dominan di satu sisi. Harus balance. Kalau lawan lebih bagus di striking saya bisa main ground, kalau lawan lebih kuat di ground saya juga harus bisa striking,” tandasnya.
UFC masih menjadi titik puncak yang ingin ia capai. Namun sebelum sampai ke sana, Gibran memilih menjalani proses yang lebih panjang.
Sebab dalam MMA, berani masuk arena belum tentu berarti siap naik level.
Kadang, keputusan paling berani justru bukan mempercepat langkah. Melainkan tahu kapan harus menunggu, bertanding lebih banyak, lalu datang ketika benar-benar siap. @jeje








