Tabooo.id: Vibes – Pukul 16.30 di bulan Ramadan selalu punya atmosfer berbeda. Perut mulai berisik, grup WhatsApp ramai membahas menu buka, dan linimasa media sosial dipenuhi foto es buah berembun. Jalanan perlahan padat. Langit jingga seperti jadi latar alami yang sempurna. Momen ini kita kenal dengan satu kata sederhana ngabuburit.
Istilahnya terdengar santai, bahkan cenderung ringan. Namun di balik bunyinya yang akrab, tersimpan sejarah panjang sekaligus energi budaya yang terus bergerak mengikuti zaman.
Dari Bahasa Sunda ke Budaya Pop
Secara etimologis, kata “ngabuburit” berasal dari bahasa Sunda. Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS) menelusurinya dari frasa “ngalantung ngadagoan burit”, yang berarti bersantai sambil menunggu sore. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikannya sebagai aktivitas menunggu azan Magrib saat Ramadan.
Popularitas istilah ini melejit pada era 1980-an di Bandung. Anak muda saat itu menggelar acara musik bernuansa Islami menjelang berbuka dan menamainya “Ngabuburit”. Frekuensi penggunaan yang tinggi membuat istilah tersebut menyebar cepat. Dari panggung musik, ia berpindah ke percakapan sehari-hari, lalu meluas menjadi kosakata nasional.
Seiring waktu, maknanya tidak pernah beku. Ia terus menyesuaikan diri dengan konteks sosial yang berubah.
Ragam Tradisi, Ragam Cerita
Di berbagai daerah, orang mengisi waktu menjelang Magrib dengan cara yang unik. Warga di bantaran Bengawan Solo, Lamongan, misalnya, menjalankan tradisi kumbohan berburu ikan mabuk saat air surut. Sementara itu, masyarakat Pantai Kenjeran Surabaya menggelar balap perahu layar mini yang memeriahkan sore.
Di Jakarta, dentuman bleguran meriam bambu khas Betawi menggema sebagai penanda senja Ramadan. Anak-anak Subang meniup gombongan dengan riang. Berbeda lagi dengan komunitas di Madiun yang memilih panjat tebing sebagai aktivitas ngabuburit. Tubuh menempel di dinding batu, tangan menggenggam erat, napas teratur meski energi menipis.
Keragaman ini menunjukkan satu hal ngabuburit bukan sekadar menunggu, melainkan merayakan waktu.
Dari Trotoar ke Timeline
Memasuki era digital, wajah ngabuburit ikut berubah. Trotoar tetap ramai oleh penjual takjil, tetapi kini kamera ponsel juga ikut bekerja. Banyak orang berburu kolak sambil merekam konten. Video “POV ngabuburit” menghiasi TikTok dan Instagram. Brand besar pun memanfaatkan momentum ini lewat promo bertema Ramadan.
Menunggu yang dulu sederhana kini tampil lebih visual. Namun esensinya tetap sama ada jeda yang sengaja dirayakan. Beberapa jam sebelum Magrib menjadi ruang sosial tempat orang berkumpul, bercakap, dan berbagi cerita.
Pada saat yang sama, aktivitas ini menggerakkan ekonomi mikro. Pedagang gorengan, es buah, hingga kue tradisional menggantungkan harapan pada keramaian sore. Perputaran uang terjadi cepat, sekaligus menghadirkan denyut kehidupan yang khas.
Refleksi Tabooo: Seni Menunggu di Tengah Dunia yang Bergegas
Di balik gemerlap konten dan riuh pasar takjil, ngabuburit menyimpan makna yang lebih sunyi. Ia melatih kesabaran. Ia menciptakan ruang transisi antara lapar dan lega. Dalam ritme hidup yang serba cepat, momen ini mengajak kita memperlambat langkah.
Fenomena ini juga menunjukkan betapa budaya Indonesia bersifat lentur. Tradisi lama tidak hilang ia hanya berganti bentuk. Dari meriam bambu ke reels Instagram, dari panggung musik 80-an ke live streaming, ruhnya tetap hidup.
Akhirnya, ketika azan Magrib berkumandang, jutaan orang berhenti bersamaan. Air pertama menyentuh tenggorokan dengan rasa syukur yang sama. Perbedaan latar belakang, pilihan politik, hingga preferensi digital mendadak terasa kecil di hadapan momen kolektif itu.
Sore ini, saat kamu duduk memegang segelas es atau sekadar memandangi langit yang berubah warna, mungkin ada satu hal yang bisa direnungkan ngabuburit bukan hanya soal waktu yang berlalu. Ia adalah cara kita memberi arti pada penantian.
Dan di dunia yang terus berlari, bukankah kemampuan untuk menunggu justru menjadi kemewahan yang paling langka? @dimas







