Tabooo.id: Lifestyle – Kapan terakhir kali kamu buka ponsel cuma buat ngecek jam, tapi ujung-ujungnya scroll TikTok 45 menit tanpa sadar? Sekarang bayangkan kamu punya tiga layar sekaligus buat itu. Selamat datang di dunia di mana multitasking bukan lagi fitur, tapi gaya hidup ponsel lipat tiga alias Samsung Trifold.
Baru-baru ini, Samsung pamer wujud gadget ini di K-Tech Showcase, bagian dari acara APEC CEO Summit 2025 di Gyeongju, Korea Selatan. Ponsel ini dipamerkan dalam etalase kaca kayak artefak masa depan yang belum boleh disentuh rakyat jelata. Netizen di X (Twitter) bernama Biswatma jadi salah satu yang berhasil mengabadikan momen langka itu lewat video singkat.
Tiga Layar, Dua Engsel, Satu Tujuan Ngebuat Kamu Makin Sibuk Sendiri
Dari animasi yang ditampilkan, desain ponsel lipat tiga ini pakai tiga panel layar dengan . Skemanya mirip huruf G dua sisi dilipat ke dalam, bikin bentuknya kompak tapi tetap elegan. Saat dibuka, ia berubah jadi tablet mini yang siap menelan semua perhatianmu dalam sekali tatap.
Beda dengan gaya Huawei Mate XT yang lipatannya kayak huruf “S”, Samsung pengin tampil beda dengan desain yang katanya lebih solid dan tahan lama. Tapi tentu saja, belum ada yang boleh coba langsung. Ponsel ini masih “calon bintang”, belum jelas apakah itu prototipe atau versi final.
Seorang juru bicara Samsung cuma bilang kalau “pameran ini mencerminkan upaya R&D yang sedang berlangsung.” Bahasa korporat untuk sabar dulu ya, masih digodok. Tapi rumor bilang, rilis resminya bakal tahun ini juga, meski cuma di beberapa negara: Korea Selatan, China, Singapura, Taiwan, dan Uni Emirat Arab.
Eropa dan Amerika? Maaf, belum diajak main.

Teknologi Nggak Pernah Netral Antara Inovasi dan Ilusi Kebutuhan
Kalau dipikir-pikir, kita udah lama hidup di era too much screen, too little soul. Tiap tahun, teknologi baru muncul dengan janji bikin hidup lebih mudah. Tapi kenyataannya, hidup kita malah makin ribet karena harus update terus biar nggak ketinggalan.
Tren ponsel lipat tiga ini bukan cuma soal inovasi desain, tapi juga refleksi dari kecanduan multitasking generasi modern. Kita pengin nonton Netflix sambil kerja, sambil buka chat, sambil lihat harga skincare di e-commerce. Masalahnya, otak manusia bukan server cloud. Kita bukan dirancang buat buka tiga dunia sekaligus tanpa burnout.
Penelitian dari Stanford University (2024) bilang, multitasking digital bisa menurunkan fokus dan memicu stres 37% lebih tinggi dibanding aktivitas tunggal. Tapi ironinya, perusahaan teknologi justru terus jual kemampuan multitasking sebagai nilai jual utama. Dan kita, dengan senang hati, beli mimpi itu.
Lifestyle Gadget Dari Fungsi ke Identitas
Sekarang, punya HP bukan lagi soal kebutuhan, tapi statement. Lipatan di HP bisa jadi simbol strata sosial baru. Kalau dulu orang pamer kamera tiga lensa, sekarang mungkin pamer engsel dua lipatan. Karena di era ini, teknologi bukan cuma alat dia jadi bagian dari identitas digital.
Ponsel lipat tiga bukan cuma alat komunikasi. Dia fashion piece, status symbol, dan conversation starter.
“Eh, itu HP-nya bisa dilipat tiga ya?!”
“Bisa dong, kayak realitas hidup gue.”
Tapi di sisi lain, muncul dilema sosial baru tekanan untuk selalu upgrade. Setiap kali ada inovasi baru, kita didorong buat merasa kurang dengan yang lama. Seolah ketinggalan teknologi itu sama dengan ketinggalan hidup. Padahal, di balik semua spesifikasi megah itu, fungsinya tetap sama: menghubungkan manusia. Ironisnya, justru sering bikin kita lebih jauh satu sama lain.
Trifold dan Krisis Fokus Kolektif
Mari jujur. Kita semua pernah berjanji cuma lima menit scroll, tapi berakhir dengan mata kering tiga jam kemudian.
Sekarang, bayangkan ponsel dengan tiga layar aktif sekaligus. Satu buat kerja, satu buat hiburan, satu lagi buat pelarian emosional. Semuanya terbuka bersamaan, seperti hidup yang menolak jeda.
Teknologi yang katanya diciptakan untuk efisiensi, justru sering memperpanjang distraksi. Kita jadi manusia yang selalu online, tapi jarang benar-benar hadir.
Siapa yang Melipat Siapa?
Mungkin di masa depan, layar nggak lagi dilipat tapi waktu, perhatian, dan koneksi manusia yang makin tipis karena terlipat-lipat dalam notifikasi.
Samsung bisa aja bikin layar tiga lipatan, tapi otak dan hati kita? Masih satu, dan kadang udah penuh duluan.
Teknologi selalu menawarkan kemungkinan baru, tapi pada akhirnya kitalah yang harus milih mau punya tiga layar, atau cukup satu pandangan yang jernih terhadap hidup?
Makin banyak lipatan, makin banyak alasan buat nggak lepas dari layar. Seseorang yang udah lupa gimana rasanya nonton konser tanpa HP di tangan. Karena pada akhirnya, yang paling butuh dilipat bukan ponsel, tapi ego kita yang selalu pengin jadi yang paling update. @teguh




