Tabooo.id: Film – Siapa yang kangen pria berjas tiga potong dengan tatapan sedingin baja? Tenang, Tommy Shelby belum selesai. Kini, Netflix merilis trailer resmi Peaky Blinders: The Immortal Man. Tentu saja, Cillian Murphy kembali sebagai Tommy. Namun kali ini, konfliknya bukan sekadar perang antar geng. Sebaliknya, ceritanya meluas ke Perang Dunia II.
Sementara itu, Inggris kacau. Politik memanas. Fasisme menguat. Dan, seperti biasa, keluarga Shelby tetap berada di tengah badai.
Duke Shelby dan Nostalgia yang Berdarah
Menurut Variety, Barry Keoghan hadir sebagai Duke Shelby anak “resmi tak resmi” Tommy yang kini memimpin Peaky Blinders. Menariknya, ia menjalankan geng seolah 1919 tak pernah berakhir. Akibatnya, kekerasan kembali jadi bahasa utama. Brutal. Impulsif. Haus kuasa.
Di sisi lain, Sophie Rundle kembali sebagai Ada, suara rasional yang mencoba meredam ambisi generasi baru. Karena itu, Tommy terpaksa turun gunung. Lagi. Tak hanya itu, Tim Roth tampil sebagai simpatisan fasis yang membujuk Duke untuk mendukung Jerman. Dengan demikian, konflik tak lagi soal bisnis keluarga, melainkan soal ideologi dan masa depan negara.
Selain para wajah lama seperti Stephen Graham dan Ned Dennehy, film ini juga menghadirkan Rebecca Ferguson dan Jay Lycurgo sebagai pendatang baru. Kemudian, Tom Harper duduk di kursi sutradara, sementara visi besarnya tetap berasal dari Steven Knight.
Dari BBC ke Netflix
Sebagai pengingat, Peaky Blinders pertama kali tayang di BBC pada 2013. Setelah itu, Netflix membawanya ke panggung global. Serialnya memang berakhir pada 2022 setelah enam musim. Meski demikian, pengaruhnya belum benar-benar padam.
Kenapa Kita Masih Terpikat?
Lantas, mengapa kita masih terpikat pada Tommy Shelby? Pertama, ia adalah antihero yang elegan. Ia kriminal, tetapi filosofis. Ia kejam, namun punya kode etik. Oleh karena itu, di dunia yang makin abu-abu, karakter seperti Tommy terasa relevan.
Lebih jauh lagi, The Immortal Man bukan hanya soal peluru dan bisnis ilegal. Sebaliknya, film ini berbicara tentang warisan. Tentang relasi ayah dan anak. Tentang generasi lama yang sulit melepas kuasa, sementara generasi baru ingin melampaui bayang-bayangnya. Dengan kata lain, ini bukan sekadar drama gangster. Ini cermin zaman.
Politik, Ego, dan Dinasti
Saat politik global memanas dan ideologi ekstrem kembali menggoda, kisah Tommy vs Duke terasa kontekstual. Di satu sisi, ada figur lama yang ingin mempertahankan kendali. Di sisi lain, ada darah muda yang bergerak lebih cepat dan lebih nekat.
Karena itulah, konflik mereka menjadi metafora. Tentang kuasa yang sulit dilepas. Tentang ego yang diwariskan. Bahkan, tentang trauma yang tak pernah benar-benar sembuh. Judulnya sendiri sudah provokatif: The Immortal Man. Apakah Tommy benar-benar abadi? Ataukah itu sekadar ilusi seorang pria yang menolak digantikan waktu?
Pada akhirnya, sejarah selalu menunjukkan bahwa tak ada dinasti yang bertahan selamanya. Film ini tayang 20 Maret. Jadi, kita akan kembali menyaksikan pria-pria berjas mahal membuat keputusan buruk dengan gaya yang tetap memikat.
Sebab di tengah dunia yang serba cepat, kita masih menikmati drama yang pelan namun menghantam. Kini pertanyaannya sederhana: apakah Tommy masih memegang kendali? Atau justru Duke yang akan menjadi wajah baru kekacauan? Diskusi pun terbuka. @eko







