Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tokopedia Benar-Benar Pamit, Kita Masih Nyaman Belanja?

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Coba jujur kapan terakhir kali kamu buka Tokopedia tanpa mikir panjang? Buka aplikasi, cari barang, checkout, selesai. Sekarang bayangkan rutinitas itu tiba-tiba hilang, lalu diganti aplikasi TikTok Shop versi baru. Rasanya seperti kehilangan minimarket langganan di dekat rumah.

Aneh? Iya. Tapi justru itulah yang bikin kabar ini ramai. Belanja online selama ini bukan cuma soal kebutuhan. Ia sudah jadi kebiasaan, bahkan pelarian kecil di sela capek kerja atau bosan scroll media sosial.

Rumor yang Makin Terlihat Serius

Sejumlah sumber yang dihubungi CNBC Indonesia menyebut TikTok tengah menyiapkan aplikasi e-commerce khusus TikTok Shop, terpisah dari aplikasi TikTok utama. Informasi ini bahkan sudah sampai ke tim teknologi Tokopedia dan TikTok E-commerce Indonesia.

Kabar ini tidak berhenti sebagai bisik-bisik internal. Akun Instagram @ecommurz lebih dulu membocorkan isu penutupan aplikasi Tokopedia berdasarkan informasi dari empat sumber berbeda. CNBC Indonesia lalu mengonfirmasi rencana tersebut ke narasumber mereka.

Saat media bertanya langsung, TikTok memang tidak memberi jawaban detail. Namun juru bicara TikTok menegaskan satu hal perusahaan akan terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia demi pertumbuhan dan inovasi jangka panjang.

Ini Belum Selesai

Pemerintah Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi, Ada Apa?

Bakar Sampah Berujung Kebakaran Kabel PT Sangsaka di Bantul

Pernyataan itu terdengar aman. Tapi di industri digital, arah strategi sering bicara lebih keras daripada siaran pers.

Dari Marketplace ke Mesin Impuls Belanja

Kalau kita tarik garis besar, langkah TikTok terasa masuk akal. TikTok sejak awal mendorong konsep belanja sambil hiburan. Video pendek, live shopping, dan algoritma bekerja bersama untuk memicu impuls.

Tokopedia justru bermain di jalur yang berbeda. Aplikasi ini mengandalkan logika cari barang, bandingkan harga, baca ulasan, lalu beli. Aman, rapi, dan rasional.

Masalahnya, perilaku pengguna berubah. Banyak orang kini tidak lagi mencari barang. Mereka menemukannya saat scroll.

Gen Z sangat akrab dengan pola ini. Mereka belanja karena tertarik, bukan karena niat awal. TikTok membaca kebiasaan itu lebih cepat.

Data Sensor Tower memperkuat gambaran ini. Tokopedia memang masih bertahan sebagai aplikasi retail dengan jumlah unduhan ketiga terbesar di Indonesia. Namun TikTok tetap memimpin daftar unduhan nasional. Bahkan, TikTok juga mencatat nilai transaksi terbesar di Indonesia, meski statusnya masih aplikasi media sosial.

Di Balik Strategi, Ada Orang yang Terdampak

Namun setiap strategi besar selalu membawa konsekuensi nyata.

Sejak GoTo menjual 75 persen saham Tokopedia ke ByteDance pada Januari 2024, perusahaan melakukan efisiensi besar-besaran. Hingga Agustus 2025, sekitar 420 karyawan kehilangan pekerjaan. Manajemen memangkas posisi di berbagai divisi, mulai dari IT, customer care, hingga gudang dan fulfillment.

Di sisi lain, TikTok juga memicu kontroversi lewat kabar subsidi iklan hingga 30 persen untuk pedagang asal China di TikTok Shop. Pedagang Indonesia tidak menerima fasilitas serupa.

Kalau kabar ini akurat, peta persaingan jelas berubah. Platform mendorong pemain tertentu lebih cepat, sementara pemain lokal harus bertahan dengan tenaga sendiri.

Kenapa Isu Ini Masuk Ranah Lifestyle?

Karena ini bukan sekadar soal aplikasi tutup atau buka. Ini soal cara kita hidup di dunia digital.

Kita kini menghabiskan waktu untuk scroll, bukan mencari. Kita menerima rekomendasi, bukan menentukan pilihan. Secara psikologis, pola ini memicu dopamin cepat. Video pendek memberi rangsangan instan, lalu tombol checkout menunggu di ujung layar.

Belanja berubah dari keputusan sadar menjadi reaksi spontan. Dan di titik ini, algoritma mulai mengambil peran besar dalam hidup kita apa yang kita lihat, apa yang kita inginkan, bahkan apa yang kita beli.

Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?

Kalau Tokopedia benar-benar menghilang atau melebur ke strategi TikTok Shop, kamu pasti beradaptasi. Kamu akan belajar aplikasi baru. Kamu akan mengikuti alur baru.

Namun pertanyaan yang lebih penting bukan soal aplikasi mana yang kamu pakai.

Pertanyaannya apakah kamu masih mengendalikan keputusan belanjamu, atau justru mengikuti arah layar tanpa sadar?

Belanja memang makin mudah. Tapi kesadaran tidak selalu ikut meningkat. Dan di era scroll tanpa henti, itu justru jadi tantangan paling besar buat kita semua.

Tags: AplikasiE-CommerceinovasiManajemenMedsosPHKScrollTikTok

Kamu Melewatkan Ini

PHK Sritex Sudah Terjadi, Tapi Krisis Buruhnya Belum Selesai

PHK Selesai di Kertas, Buruh Masih Bertarung untuk Hidup

by teguh
Agustus 28, 2026

Ada persoalan yang muncul setelah surat PHK Sritex selesai ditandatangani bagaimana seorang pekerja membangun kembali hidup ketika pekerjaan baru sulit...

PHK Naik, Pengangguran Turun: Ada yang Salah di Pasar Kerja?

PHK Naik, Pengangguran Turun: Ada yang Salah di Pasar Kerja?

by dimas
Agustus 14, 2026

PHK meningkat saat angka pengangguran turun. Benarkah pasar kerja Indonesia membaik, atau pekerja hanya berpindah ke pekerjaan yang lebih rentan?...

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

by dimas
Juli 21, 2026

AI mempermudah pekerjaan manusia, tetapi ketergantungan yang berlebihan dapat mengikis kebiasaan berpikir kritis. Benarkah kecerdasan buatan membuat manusia semakin cerdas,...

Next Post
UU Keselamatan Kerja Berusia 56 Tahun, MK Tegaskan Perlu Pembaruan

UU Keselamatan Kerja Berusia 56 Tahun, MK Tegaskan Perlu Pembaruan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id