Tabooo.id: Life – Di sebuah pagi yang belum benar-benar bangun, bau sabun bercampur samar aroma obat menyelinap dari rumah bercat kusam di Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Klaten. Matahari belum tinggi, tetapi aktivitas sudah berdenyut pelan. Di teras sempit, kursi-kursi roda berjejer seperti barisan sunyi yang menunggu giliran takdir, sementara tabung oksigen berdiri tegak menjaga napas para penghuninya.
Di dalam, seorang lelaki ODGJ yang juga penyintas stroke duduk di kursi roda, rambutnya masih basah sehabis dimandikan. Tak jauh dari situ, seorang nenek dengan kanker stadium lanjut terbaring, tubuhnya setipis ranting yang setia menahan musim. Seorang pria dengan down syndrome tersenyum tanpa banyak kata. Di sudut lain, seorang perempuan ODGJ menatap jendela dengan pandangan yang sulit ditebak.
Di antara mereka, Titik Budi Rahayu (48) bergerak lincah. Orang-orang memanggilnya Tiwuk. Ia bukan pemilik panti sosial, bukan pejabat dinas, bukan tenaga medis berseragam. Ia ibu rumah tangga yang membuka pintu rumahnya bagi mereka yang nyaris kehilangan tempat pulang.
“Awalnya saya relawan kanker sejak 2019,” tuturnya. “Saya pernah merawat kakak yang kena kanker payudara, di rumah sakit dan di rumah ini juga, sampai meninggal. Jadi saya tahu betul bagaimana merawat.”
Duka, bagi sebagian orang, berhenti sebagai luka. Namun bagi Titik, duka berubah menjadi arah hidup.
Dari Pengalaman Pribadi ke Jalan Sosial
Setelah kakaknya meninggal, Titik semakin sering bolak-balik rumah sakit. Pada 2020, poli onkologi dibuka di RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro Klaten. Karena terbiasa mendampingi keluarga, ia fasih memahami alur perawatan. Dokter pun mendorongnya menjadi pendamping sosial pasien.
“Saya dianggap fasih. Dokter bilang, jadi social worker itu penting, tapi tidak ada yang gaji,” kenangnya. Ia tidak mundur. Sebaliknya, ia mengangguk dan melangkah.
Sejak itu, ia menjemput pasien dari rumah, menunggu rawat inap, membantu administrasi, hingga mendampingi kontrol. Ia menjalankan semuanya tanpa kontrak kerja dan tanpa honor tetap. Bahkan, ia rela menghentikan studi S2-nya demi fokus pada pendampingan. Latar belakangnya sarjana sejarah dan pernah menjadi dosen. Namun kini, ia memilih ruang sunyi bernama perawatan.
Sebelumnya, selama sembilan tahun, ia juga merawat ayah dan ibunya yang hidup dengan diabetes dan stroke. Ketika kedua orang tuanya berpulang, ia justru merasakan kehilangan yang berbeda.
“Setelah mereka meninggal, saya rindu aktivitas merawat,” katanya. “Untuk mengobati kerinduan itu, saya terus berkegiatan sampai sekarang. Meski tidak ada yang bayar, saya tetap happy.”
Di tengah budaya kerja yang mengukur nilai dari gaji dan jabatan, Titik menemukan makna dalam sesuatu yang justru menguras tenaga dan waktu.
Ketika Sistem Berhenti, Rumah Ini Bergerak
Rumah perawatan yang ia kelola menyatu dengan rumah induk. Dindingnya mulai mengelupas, tetapi bangunannya tetap kokoh. Ia menata lima kamar tidur untuk pasien. Ia menyiapkan teras kecil untuk kursi roda dan tabung oksigen. Di sisi barat halaman, musala berdiri sederhana sebagai ruang jeda spiritual.
Sesekali, bau pesing tercium. Seorang ODGJ stroke dan seorang nenek penderita kanker parah hanya bisa berbaring. Namun, alih-alih menutup pintu, Titik justru membuka jendela lebih lebar.
Masalahnya jelas: rumah sakit memiliki batas waktu rawat inap. Ketika kondisi pasien stabil, dokter memulangkan mereka. Namun stabil tidak berarti sembuh. Sementara itu, banyak keluarga tak sanggup merawat karena keterbatasan biaya, tenaga, atau pengetahuan. Di titik itulah jurang sosial menganga.
Alih-alih menyalahkan keadaan, Titik mengambil peran.
“Kalau di rumah tidak ada yang sanggup merawat, masyarakat juga tidak sanggup, ya kita bawa pulang. Kita rawat dengan besar hati,” ujarnya.
Sejak 2021, ia sudah menampung sekitar 12 pasien. Tujuh di antaranya meninggal dunia di rumah itu. Ia menerima pasien kanker, stroke, ODGJ, orang terlantar, bahkan seseorang yang ditemukan di jalan bersama kasurnya.
Angka itu mungkin kecil di atas kertas. Namun di ruang sempit itu, setiap angka memiliki wajah, nama, dan cerita.
Dukungan Keluarga dan Gotong Royong Sunyi
Titik tidak berjalan sendiri. Suaminya, Mahmudi (47), berdiri di sampingnya. Tiga anak mereka yang mondok di pesantren ikut menyuapi pasien ketika pulang.
“Bagi saya, hidup itu harus bermanfaat bagi sesama,” ujar Mahmudi.
Selain dukungan keluarga, ia juga mengandalkan donatur dan kepedulian sebagian pemerintah desa. Ada yang membantu ambulans, ada yang menyumbang pakaian dan pampers. Namun tidak semua desa merespons. Beberapa pasien sudah lama meninggalkan kampung halamannya, sehingga tak lagi mendapat perhatian administratif.
Meski demikian, warga sekitar tidak pernah memprotes. Mereka menerima keberadaan para pasien sebagai bagian dari kehidupan kampung.
Di sinilah paradoks itu terasa. Negara membangun sistem kesehatan yang semakin maju, tetapi celah tetap ada antara “boleh pulang” dan “benar-benar terawat.” Celah itu sering kali jatuh ke tangan keluarga yang tak siap. Lebih ironis lagi, sebagian pasien justru berakhir terlantar.
Titik mengisi celah itu dengan rumahnya sendiri. @eko




