Tabooo.id: Global – Suasana di perbatasan Thailand-Kamboja memanas. Thailand mengirim korps marinir Angkatan Laut untuk merebut kembali wilayah di Provinsi Trat yang sebelumnya dikuasai pasukan Kamboja. Operasi berlangsung di Ban Nong Ri, Tambon Chamrak, Distrik Muang, pada Selasa (9/12/2025), kata Komandan Satuan Tugas Marinir Trat, Kapten Thammanoon Wanna.
Tiga Rumah Jadi Fokus Operasi
Angkatan Laut Thailand menyerang tiga rumah di Ban Nong Ri, yang menjadi pusat kegiatan pasukan Kamboja. Thailand menilai Kamboja telah menguasai wilayah itu secara ilegal selama lebih dari 40 tahun. Ban Nong Ri berbatasan langsung dengan Provinsi Pursat di Kamboja. Berdasarkan citra udara, Kamboja menempatkan pasukan tambahan dan persenjataan, termasuk sniper dan peluncur roket ganda.
“Pendudukan ini mengancam keamanan Thailand,” ujar Juru Bicara Angkatan Laut, Laksamana Muda Paraj Ratanajaipan.
Ia menegaskan operasi ini mengusir pasukan Kamboja dan menegaskan kedaulatan Thailand.
Baku Tembak Menggema hingga Kota Trat
Baku tembak berlangsung hingga pukul 10.00 WIB, dan suara tembakan terdengar hingga pusat Kota Trat. Relawan pertahanan desa, Somchai Chaivej, melaporkan ledakan besar disusul belasan tembakan. Meski menghadapi bahaya, warga tetap bersemangat menghadapi bentrokan.
“Meski bentrokan serius, semangat warga tetap tinggi karena mereka terbiasa hidup di perbatasan,” ujar Somchai, yang bertahan di bunker desa sementara keluarganya mengungsi sejak Senin (7/12/2025).
Otoritas Provinsi Trat meminta warga di desa Bo Rai, Khlong Yai, dan sebagian Distrik Muang untuk mengungsi. Namun beberapa warga tetap tinggal, seperti petani Thittapha Nualwilai, yang masih menyadap getah karet demi kebutuhan keluarganya.
“Saya paham bahayanya, tetapi kebutuhan tidak pernah berhenti. Saya berharap bentrokan ini cepat berakhir,” ujarnya
Thailand mendapat keuntungan simbolis dan strategis karena operasi ini menegaskan kedaulatan wilayahnya. Namun masyarakat sipil menanggung risiko nyata kehilangan tempat tinggal sementara, terganggunya aktivitas ekonomi, dan trauma akibat bentrokan bersenjata. Di sisi Kamboja, pasukan yang memperkuat wilayah juga menanggung kerugian logistik dan risiko korban.
Refleksi dan Sindiran Ringan
Ketegangan di perbatasan menunjukkan bahwa ketika politik dan klaim wilayah bertemu kehidupan warga sehari-hari, yang paling dirugikan selalu mereka yang hanya ingin hidup normal. Di medan konflik, kedaulatan dan kebutuhan sehari-hari sering berjalan tidak seiring, sementara penguasa berperang di atas peta, warga tetap berjuang di bawah realita. @dimas







