• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Kamis, Maret 26, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Vibes

Tampomas II 1981:Ketika Laut Jawa Jadi Kuburan Tanpa Nisan

Maret 25, 2026
in Vibes
A A
Tampomas II 1981:Ketika Laut Jawa Jadi Kuburan Tanpa Nisan

KMP Tampomas II dalam kondisi terbakar di Perairan Masalembo, pada Senin, 26 Januari 1981. (Foto:Istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Ada satu jenis berita yang tak pernah benar-benar mati: tragedi di laut. Ia selalu datang dengan gambar yang sama air luas yang sunyi, asap yang membumbung, dan manusia yang tiba-tiba jadi kecil di hadapan takdir. Di era TikTok, mungkin ia akan jadi potongan video dramatis dengan backsound sendu. Tapi jauh sebelum algoritma mengenal duka, Indonesia pernah punya luka yang terbakar di tengah laut: Tragedi Kapal Tampomas II.

Dan seperti banyak tragedi besar lain, kisah ini bukan sekadar tentang kapal yang tenggelam. Ini tentang bagaimana kita mengingat atau justru melupakan.

Laut yang Tak Lagi Ramah

Tanggal 27 Januari 1981. Kapal penumpang Tampomas II berlayar dari Jakarta menuju Ujung Pandang (sekarang Makassar). Di atasnya, ratusan orang membawa harapan: pulang kampung, mencari kerja, atau sekadar berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain.

Laut, yang biasanya jadi jalur penghubung antar pulau, malam itu berubah jadi panggung tragedi.

Api muncul dari ruang mesin. Awalnya kecil, lalu menjalar cepat. Dalam hitungan jam, kapal berubah jadi bara raksasa yang terapung. Kepanikan pecah. Penumpang berlarian, sebagian melompat ke laut, sebagian lain terjebak dalam asap dan kobaran api.

Yang paling pahit bukan hanya apinya. Tapi keputusan.

Dalam beberapa laporan, evakuasi tidak berjalan maksimal. Sekoci tak cukup. Koordinasi kacau. Bahkan, ada cerita tentang kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi namun terlambat atau enggan mendekat. Laut bukan cuma luas, tapi juga dingin secara harfiah dan manusiawi.

Korban? Ratusan jiwa. Angkanya tak pernah benar-benar pasti. Dan mungkin, justru di situlah letak tragisnya: bahkan dalam kematian, sebagian dari mereka tak sempat dihitung.

Sebelum Viral, Duka Sudah Ada

Kalau tragedi ini terjadi hari ini, timeline kita mungkin akan penuh: video amatir, thread investigasi, tagar #PrayForTampomas. Tapi tahun 1981 belum mengenal viralitas.

Informasi berjalan pelan. Berita datang lewat koran, radio, dari mulut ke mulut. Duka menyebar, tapi tidak serentak. Tidak sinkron. Tidak trending.

Dan mungkin karena itu juga, ingatan kolektif kita terhadap Tampomas II terasa samar.

Padahal, dalam skala dan dampak, ini adalah salah satu kecelakaan laut terbesar dalam sejarah Indonesia. Ia seharusnya jadi semacam “titik balik” momen refleksi nasional tentang keselamatan transportasi laut.

Tapi apakah itu benar terjadi?

Dari Kapal ke Sistem

Setiap tragedi selalu punya dua lapisan: yang terlihat dan yang tersembunyi.

Yang terlihat adalah api, korban, tangis keluarga. Yang tersembunyi adalah sistem atau kegagalannya.

Tampomas II membuka banyak pertanyaan: soal standar keselamatan, kesiapan kru, kualitas kapal, hingga regulasi transportasi laut. Tapi seperti banyak cerita di negeri ini, pertanyaan sering kali lebih panjang umurnya daripada jawabannya.

Kita hidup di negara kepulauan. Laut adalah jalan raya kita. Tapi ironisnya, keselamatan di laut sering terasa seperti bonus, bukan hak dasar.

Dan di sinilah tragedi lama terasa relevan dengan masa kini.

Kita mungkin sudah punya teknologi lebih canggih, sistem lebih modern, dan komunikasi lebih cepat. Tapi setiap kali ada berita kapal terbakar atau tenggelam, kita seperti membaca ulang cerita yang sama dengan nama kapal yang berbeda.

Seolah-olah, waktu berjalan, tapi pola tetap.

Memori yang Mengapung

Ada yang unik dari tragedi di laut: ia jarang meninggalkan jejak fisik.

Kalau gempa, kita punya reruntuhan. Kalau kecelakaan darat, ada lokasi yang bisa ditandai. Tapi laut? Ia menelan semuanya. Yang tersisa hanya cerita.

Dan cerita, kalau tidak sering diceritakan ulang, akan tenggelam juga.

Tampomas II hari ini mungkin hanya muncul sesekali di artikel sejarah, di dokumenter lama, atau di percakapan generasi yang pernah hidup di era itu. Sementara generasi baru? Mungkin lebih familiar dengan meme daripada memori kolektif.

Padahal, di balik nama itu, ada ratusan kisah yang tak pernah selesai. Ada keluarga yang kehilangan tanpa benar-benar mengerti bagaimana. Ada korban yang bahkan tak sempat ditemukan.

Tragedi ini bukan cuma soal masa lalu. Ia adalah pengingat tentang betapa rapuhnya sistem, dan betapa cepatnya kita lupa.

Tabooo Reflex: Ketika Api Jadi Simbol

Api di Tampomas II bukan cuma api fisik. Ia bisa dibaca sebagai metafora tentang kelalaian yang membesar, tentang sistem yang terbakar dari dalam, tentang keputusan yang terlambat diambil.

Dan mungkin, yang paling relevan: tentang bagaimana kita sebagai masyarakat memproses tragedi.

Kita cepat berduka. Tapi juga cepat move on.

RelatedPosts

Kuta: Ombak yang Datang, Pikiran yang Pulang

Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

Dalam era digital, bahkan duka punya siklus. Hari ini ramai, besok redup, lusa hilang. Algoritma tidak dirancang untuk mengingat ia dirancang untuk mengganti.

Di titik ini, tragedi seperti Tampomas II jadi semacam cermin. Ia bertanya: apakah kita benar-benar belajar? Atau hanya sekadar melewati?

Karena budaya bukan cuma tentang apa yang kita rayakan. Tapi juga tentang apa yang kita ingat.

Laut, Api, dan Nama yang Tersisa

Di suatu tempat di Laut Jawa, mungkin masih ada sisa-sisa cerita itu. Tidak terlihat, tidak terdengar, tapi ada. Seperti gema yang pelan-pelan memudar.

Nama Tampomas II masih bisa kita sebut. Tapi apakah maknanya masih kita rasakan?

Atau ia hanya jadi satu lagi entri dalam daftar panjang tragedi yang kita arsipkan tanpa benar-benar kita pahami?

Laut tidak pernah benar-benar menyimpan. Ia hanya meminjamkan waktu sebelum semuanya hilang.

Dan mungkin, yang paling perlu kita jaga bukan hanya keselamatan kapal tapi juga ingatan kita sendiri.

Karena begitu kita lupa, tragedi tidak benar-benar berakhir. Ia hanya menunggu untuk terulang, dengan nama yang baru. @eko

Tags: Kapal TerbakarLaut Jawasejarah kelam IndonesiaTampomas IItragedi 1981Tragedi TampomasVibes

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Pakoe Boewono XIV: Raja Gen Z yang Menyelamatkan Ingatan Kraton

    Bersua Sang Raja: No Jeans, No Kaos

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengamen Jalanan: Korban Sistem atau Pilihan yang Dipelihara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Balik Kelancaran Mudik Lebaran, Nyawa Petugas Jadi Taruhan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Langkah di Bali Butuh Lebih dari Sekadar Mata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Joget Rp6 Juta Sehari: Program Sosial atau Ladang Cuan?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.