Ketika horor tidak lagi soal makhluk, tapi tentang manusia itu sendiri
Tabooo.id: Film – Lebaran 2026 bakal kedatangan satu nama lama yang tidak pernah benar-benar pergi: Suzzanna. Tapi kali ini, ada yang beda. Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa tidak lagi menjual teror dari sosok hantu, tapi justru dari sisi manusianya.
Dan di situ letak kejutannya.
Dalam peluncuran trailer di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, awal pekan ini, Luna Maya seperti membuka lembar baru dari karakter yang selama ini identik dengan dunia gaib. Ia tidak lagi jadi Sundel Bolong. Tidak lagi bangkit dari kematian. Ia hidup. Sepenuhnya manusia.
“Aku lebih senang sih karena gak jadi hantu,” katanya. Kalimat sederhana, tapi dampaknya besar. Karena artinya, film ini tidak lagi bergantung pada jumpscare, tapi pada kedalaman karakter.
Di sinilah horor mulai berubah bentuk.
Bukan lagi soal apa yang muncul di balik pintu gelap, tapi apa yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Dan jujur saja, itu jauh lebih dekat, dan mungkin lebih menakutkan.
Belajar Jadi Legenda, Bukan Sekadar Meniru
Luna tidak datang hanya dengan wajah dan nama besar. Ia datang dengan proses. Ia mempelajari cara bicara Suzzanna yang khas. Intonasi. Tekanan kata. Bahkan detail kecil dalam pelafalan huruf.
Ada dialect coach, observasid dan upaya untuk “menghidupkan kembali”, bukan sekadar meniru.
Hasilnya? Suara yang disebut-sebut sangat mirip dengan sang legenda.
Ini bukan nostalgia kosong. Ini rekonstruksi karakter.
Dan di era remake yang sering terasa seperti “copy paste dengan budget lebih besar”, pendekatan seperti ini terasa lebih jujur.
Satu Film, Satu Tahun, Satu Fokus
Menariknya, Luna juga mengaku bahwa film ini kemungkinan jadi satu-satunya proyeknya di 2026.
Keputusan yang tidak biasa di industri yang biasanya mendorong kuantitas. Tapi justru di situ ada sikap.
Fokus. Totalitas. Dan mungkin, keinginan untuk tidak sekadar hadir, tapi meninggalkan jejak.
“Jangan sampai enggak ditonton,” katanya sambil tersenyum. Santai, tapi terasa seperti tantangan.
Reza Rahadian dan Kembalinya ke “Rumah Lama”
Film ini juga jadi momen spesial bagi Reza Rahadian. Setelah 14 tahun, ia kembali ke Soraya Intercine Films, rumah produksi yang dulu membawanya lewat Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
Bukan sekadar comeback. Tapi semacam lingkaran yang kembali ke titik awal, dengan versi diri yang berbeda.
Dan ketika aktor sekelas Reza masuk ke semesta Suzzanna, ekspektasinya otomatis naik.
Bukan hanya soal akting. Tapi soal bagaimana cerita ini akan dibangun.
Horor yang Lebih Dekat dari yang Kamu Kira
Film ini seolah menggeser satu hal penting dalam genre horor Indonesia.
Dari “takut sama hantu” menjadi “takut sama manusia”.
Karena pada akhirnya, santet, dosa, dan semua hal gelap itu, tidak pernah benar-benar datang dari dunia lain. Tapi dari keputusan, dari ambisi, dari sisi gelap yang sering kita sembunyikan.
Dan mungkin itu yang bikin film ini terasa relevan.
Karena kita tidak perlu percaya hantu untuk merasa takut.
Cukup percaya bahwa manusia bisa jadi jauh lebih menyeramkan. @jeje



