Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Suzzanna Tanpa Hantu, Tapi Tetap Menghantui

by jeje
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika horor tidak lagi soal makhluk, tapi tentang manusia itu sendiri

Tabooo.id: Film – Lebaran 2026 bakal kedatangan satu nama lama yang tidak pernah benar-benar pergi: Suzzanna. Tapi kali ini, ada yang beda. Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa tidak lagi menjual teror dari sosok hantu, tapi justru dari sisi manusianya.

Dan di situ letak kejutannya.

Dalam peluncuran trailer di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, awal pekan ini, Luna Maya seperti membuka lembar baru dari karakter yang selama ini identik dengan dunia gaib. Ia tidak lagi jadi Sundel Bolong. Tidak lagi bangkit dari kematian. Ia hidup. Sepenuhnya manusia.

“Aku lebih senang sih karena gak jadi hantu,” katanya. Kalimat sederhana, tapi dampaknya besar. Karena artinya, film ini tidak lagi bergantung pada jumpscare, tapi pada kedalaman karakter.

Di sinilah horor mulai berubah bentuk.

Ini Belum Selesai

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Kisah Raden Ronggo dari Madiun

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Bukan lagi soal apa yang muncul di balik pintu gelap, tapi apa yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Dan jujur saja, itu jauh lebih dekat, dan mungkin lebih menakutkan.

Belajar Jadi Legenda, Bukan Sekadar Meniru

Luna tidak datang hanya dengan wajah dan nama besar. Ia datang dengan proses. Ia mempelajari cara bicara Suzzanna yang khas. Intonasi. Tekanan kata. Bahkan detail kecil dalam pelafalan huruf.

Ada dialect coach, observasid dan upaya untuk “menghidupkan kembali”, bukan sekadar meniru.

Hasilnya? Suara yang disebut-sebut sangat mirip dengan sang legenda.

Ini bukan nostalgia kosong. Ini rekonstruksi karakter.

Dan di era remake yang sering terasa seperti “copy paste dengan budget lebih besar”, pendekatan seperti ini terasa lebih jujur.

Satu Film, Satu Tahun, Satu Fokus

Menariknya, Luna juga mengaku bahwa film ini kemungkinan jadi satu-satunya proyeknya di 2026.

Keputusan yang tidak biasa di industri yang biasanya mendorong kuantitas. Tapi justru di situ ada sikap.

Fokus. Totalitas. Dan mungkin, keinginan untuk tidak sekadar hadir, tapi meninggalkan jejak.

“Jangan sampai enggak ditonton,” katanya sambil tersenyum. Santai, tapi terasa seperti tantangan.

Reza Rahadian dan Kembalinya ke “Rumah Lama”

Film ini juga jadi momen spesial bagi Reza Rahadian. Setelah 14 tahun, ia kembali ke Soraya Intercine Films, rumah produksi yang dulu membawanya lewat Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Bukan sekadar comeback. Tapi semacam lingkaran yang kembali ke titik awal, dengan versi diri yang berbeda.

Dan ketika aktor sekelas Reza masuk ke semesta Suzzanna, ekspektasinya otomatis naik.

Bukan hanya soal akting. Tapi soal bagaimana cerita ini akan dibangun.

Horor yang Lebih Dekat dari yang Kamu Kira

Film ini seolah menggeser satu hal penting dalam genre horor Indonesia.

Dari “takut sama hantu” menjadi “takut sama manusia”.

Karena pada akhirnya, santet, dosa, dan semua hal gelap itu, tidak pernah benar-benar datang dari dunia lain. Tapi dari keputusan, dari ambisi, dari sisi gelap yang sering kita sembunyikan.

Dan mungkin itu yang bikin film ini terasa relevan.

Karena kita tidak perlu percaya hantu untuk merasa takut.

Cukup percaya bahwa manusia bisa jadi jauh lebih menyeramkan. @jeje

Tags: Film HororFilm IndonesiaLuna Maya

Kamu Melewatkan Ini

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

by Tabooo
Juni 25, 2026

Film pendek sering disalahpahami sebagai karya kecil yang cukup hanya menang di visual. Padahal, yang membuat film pendek kuat bukan...

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

Saputra Kori: Dari Parodi Tik Tok ke Tria yang Mencintai Ibunya

by dimas
Juni 5, 2026

Saputra Kori membuktikan dirinya bukan sekadar kreator TikTok. Dari video parodi hingga memerankan Tria dalam film Jangan Buang Ibu, ia...

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

by dimas
Juni 3, 2026

Jangan Buang Ibu mengangkat luka keluarga, trauma kehilangan, dan kerinduan yang terlambat disadari saat waktu bersama orang tua semakin menipis....

Next Post
Cantik Itu Luka: Ketika Kecantikan Jadi Kutukan

Cantik Itu Luka: Ketika Kecantikan Jadi Kutukan

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id