Orang mengenang Solo lewat banyak cara. Sebagian datang untuk melihat megahnya keraton. Sebagian lain mengejar jejak batik, alunan gamelan, atau romantika kota yang berjalan lebih pelan dibanding kota besar lain. Dan Mungkin kulinernya yang salah satunya sebuah aroma lumpia khas masakan tradisonal
Tabooo.id – Namun, ada satu hal yang diam-diam lebih melekat dalam ingatan banyak orang aroma lumpia panas yang keluar dari lorong Pasar Gede Hardjonagoro.
Di tengah dunia yang serba cepat, pasar tua ini seperti menolak lupa. Waktu memang terus bergerak, tetapi rasa memilih tinggal. Di tempat inilah, masa kecil masih bisa dibeli dalam bungkus kertas minyak dengan harga yang tidak pernah benar-benar mahal.
Ketika Pasar Tidak Sekadar Menjual Barang, Tapi Menyimpan Ingatan
Pagi di Pasar Gede selalu punya ritmenya sendiri. Udara bercampur aroma santan dari bikang hangat.
Pedagang membuka lapak sambil menyapa pelanggan lama. Plastik kresek berbunyi bersahutan bersama percakapan kecil tentang harga cabai, kabar keluarga, hingga cerita cucu yang baru masuk sekolah.
Di salah satu sudut koridor pasar, seorang perempuan paruh baya berdiri di balik gerobak birunya. Senyumnya terlihat tulus. Tangannya bergerak cepat menjepit satu per satu jajanan pasar yang tertata rapi di depan mata pembeli.
Lumpia keemasan tersusun di sisi kanan. Onde-onde bertabur wijen berjejer seperti bola-bola kecil yang menggoda. Kue ku merah menyala berdampingan dengan ote-ote gurih dan roti kampung sederhana.
Bagi sebagian orang, semua itu mungkin hanya makanan biasa. Namun, bagi warga Solo, lapak sederhana seperti itu menyimpan sesuatu yang lebih besar memori kolektif sebuah kota.
Pasar Gede Hardjonagoro bukan tempat biasa. Arsitek Belanda Thomas Karsten merancang pasar ini dan pemerintah meresmikannya pada 1930. Sejak awal, pasar tersebut bukan sekadar pusat perdagangan. Tempat ini berkembang menjadi ruang sosial tempat orang bertemu, berbagi cerita, dan mewariskan kebiasaan kecil lintas generasi.
Sejarawan Solo, Dr. Heri Priyatmoko, M.A., dalam diskusi kebudayaan pada 12/03/2025, menjelaskan bahwa Pasar Gede memegang fungsi lebih besar daripada yang terlihat mata.
“Pasar Gede adalah ruang memori. Ketika seorang perempuan masih setia menjual onde-onde dan lumpia di sana, ia tidak sedang sekadar mencari nafkah. Ia sedang merawat potongan sejarah kota. Jajanan pasar adalah bahasa ibu dari gastronomi kita. Menghilangkannya berarti menghapus satu babak penting dari identitas kultural wong Solo.”
Kalimat itu terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Orang sekarang bisa mengunduh lagu lama, menonton ulang film nostalgia, bahkan membangun kenangan lewat algoritma media sosial.
Tetapi, ada satu hal yang tetap tidak bisa didownload aroma lumpia panas yang baru keluar dari penggorengan Pasar Gede.
Kue Ku, Lumpia, dan Aroma Masa Kecil yang Tidak Bisa Didownload
Ada alasan mengapa jajanan pasar terasa begitu personal. Masalahnya bukan sekadar rasa.
Lumpia di Pasar Gede bukan hanya gulungan kulit tipis berisi sayur atau rebung. Onde-onde bukan cuma camilan wijen. Kue ku merah bahkan lebih dari makanan tradisional yang sering terlihat kuno di mata generasi sekarang.
Di balik makanan itu, tersimpan pengalaman hidup, Satu gigitan sering membawa seseorang kembali ke masa kecil. Saat ibu menggandeng tangan menuju pasar pagi. Ketika uang receh terasa cukup untuk membeli kebahagiaan kecil. Atau saat dunia belum sibuk dengan notifikasi yang datang tanpa henti.
Makanan tradisional sering bekerja seperti mesin waktu. Aroma tertentu mampu memanggil kembali ingatan lama tanpa diminta.
Wangi kelapa parut bisa mengingatkan seseorang pada dapur nenek. Bau gorengan hangat dapat membawa pikiran kembali pada pagi-pagi sekolah dasar.
Karena itu, jajanan pasar sering terasa seperti rumah. Rumah ternyata tidak selalu berbentuk bangunan.
Kadang, rumah hadir lewat aroma gula jawa hangat, rasa legit kue basah, atau lumpia panas yang dimakan sambil berdiri di lorong pasar.
Dulu Kita Jajan di Pasar, Sekarang Kita Scroll Promo Online
Perubahan kecil sering datang tanpa terasa. Dulu, anak-anak bangun pagi lalu ikut orang tua pergi ke pasar.
Mereka memilih jajanan favorit sambil menggenggam uang ribuan yang terasa sangat berharga.
Hari ini, kebiasaan itu perlahan bergeser. Generasi muda lebih sering mengenal promo aplikasi makanan dibanding aroma pasar tradisional. Banyak orang lebih akrab dengan kopi susu Rp40 ribu daripada kue ku lima ribuan yang pembuatnya mulai bekerja sejak subuh.
Coffee culture berkembang cepat. Kafe tumbuh di berbagai sudut kota. Tempat duduk estetik berubah menjadi simbol gaya hidup urban, Tidak ada yang salah.
Masalahnya, kebiasaan baru sering hadir bersamaan dengan hilangnya kebiasaan lama.
Kita rela antre panjang demi dessert viral. Banyak orang juga tidak keberatan membayar mahal demi tempat nongkrong yang fotogenik.
Namun, kapan terakhir kali kita duduk di bangku pasar sambil makan lumpia hangat tanpa buru-buru?
Kapan terakhir kali seseorang menikmati jajanan sederhana tanpa merasa perlu mengunggahnya ke media sosial?
Sosiolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Bagong Suyanto, M.Si., dalam seminar nasional pada 18/11/2025, mengingatkan bahwa modernisasi memang tidak bisa dihindari. Namun, budaya lokal tetap membutuhkan ruang untuk hidup.
“Modernisasi kuliner adalah keniscayaan, tetapi marginalisasi kuliner lokal adalah kelalaian. Pemerintah tidak boleh membiarkan pedagang kecil bertarung sendirian melawan raksasa industri waralaba global.”
Pernyataan itu terasa relevan. Ketika makanan lokal kehilangan tempat, yang hilang sebenarnya bukan sekadar pilihan rasa. Sebuah kota perlahan kehilangan identitasnya.
Kenapa Jajanan Pasar Selalu Terasa Seperti Rumah?
Jajanan pasar punya sesuatu yang sulit ditemukan di makanan modern. Masalahnya bukan hanya rasa.
Lumpia di Pasar Gede bukan sekadar kulit tepung berisi rebung. Onde-onde lebih dari camilan wijen biasa. Kue ku merah bahkan menyimpan makna yang lebih dalam daripada tampilannya yang sederhana.
Di balik makanan itu, tersimpan potongan hidup banyak orang.
Satu gigitan sering membawa seseorang kembali pada masa kecil. Saat ibu menggandeng tangan menuju pasar pagi. Saat uang receh terasa cukup untuk membeli kebahagiaan kecil.
Makanan tradisional sering bekerja seperti mesin waktu. Aroma tertentu mampu memanggil kembali pengalaman lama tanpa diminta.
Karena itu, jajanan pasar terasa seperti rumah. Rumah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan. Kadang, ia muncul lewat aroma gula jawa hangat, kelapa parut, atau lumpia panas yang baru matang.
Akademisi kebudayaan, Dr. Sri Margana, dalam kuliah umum pada 22/05/2026, bahkan menyebut konsumsi makanan tradisional sebagai bentuk identitas budaya modern.
“Gen Z dan Gen Alpha perlu memahami bahwa mengonsumsi makanan tradisional adalah sebuah tindakan politis yang keren. Itu adalah bentuk dekolonisasi lidah.”
Pernyataan itu terdengar unik, tetapi masuk akal. Banyak orang bangga mengunggah dessert luar negeri ke media sosial. Sementara itu, jajanan pasar sering dianggap terlalu biasa untuk dipamerkan.
Croissant terlihat premium. Di sisi lain, lumpia pasar terasa sederhana. Padahal, keduanya lahir dari keterampilan tangan.
Perbedaannya hanya satu, makanan modern hadir bersama branding global, sementara jajanan pasar bertahan karena kesetiaan warga.
Pasar Gede dan Rasa yang Menolak Punah
Di tengah perubahan zaman, Pasar Gede masih berdiri.
Pasar ini memang tua, tetapi denyut hidupnya belum hilang. Pedagang tetap membuka lapak sejak pagi. Aroma gorengan masih memenuhi lorong-lorong pasar. Pembeli lama juga terus datang untuk mencari rasa yang mereka kenal sejak kecil. Harapan ikut tumbuh dari pemerintah daerah.
Mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Surakarta, Aryo Widyandoko, pada 05/02/2026, menegaskan komitmen menjaga Pasar Gede bukan hanya sebagai bangunan heritage, tetapi juga ekosistem budaya.
“Kami terus mengupayakan perlindungan tidak hanya untuk bangunannya, tetapi juga ekosistem manusia di dalamnya. Jajanan pasar adalah bagian dari identitas kota.”
Namun, masa depan tradisi tidak hanya bergantung pada kebijakan. Pilihan sehari-hari masyarakat ikut menentukan nasibnya.
Sebagian orang masih rutin mampir ke pasar. Sebagian lainnya mulai jarang melihat lapak jajanan tradisional.
Beberapa keluarga tetap membeli onde-onde dan lumpia untuk sarapan. Di sisi lain, banyak orang lebih akrab dengan promo makanan digital.
Pertanyaan terbesarnya sederhana apakah generasi berikutnya masih mengenal rasa-rasa lama itu?
Atau nanti mereka hanya mendengar cerita tentang lumpia Pasar Gede dari nostalgia orang tua?
Sebab, ketika semua hal lama hilang, kita mungkin hanya bisa mengenang rasa lewat cerita. Kota tanpa rasa yang dikenang perlahan kehilangan jiwanya.
Pasar Gede memang tua. Namun, selama aroma lumpia masih mengepul setiap pagi, Solo akan selalu punya cara untuk membuat orang pulang. @teguh







