Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Siapa yang Sebenarnya Bertanggung Jawab Saat Hutan Rusak?

by dimas
Desember 6, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih, kamu nongkrong di kafe sambil mikir, “Lagi, hutan rusak. Lagi, banjir bandang. Lagi, siapa yang disalahin?” Dan biasanya, ujung-ujungnya masyarakat, pemegang izin, atau petani kecil yang kena tembak publik. Tapi coba kita jujur sebentar: kalau semua itu terjadi di kawasan hutan negara, siapa yang paling bertanggung jawab?

Ya, jawabannya seharusnya jelas: pemerintah. Tepatnya, Menteri Kehutanan. Kenapa? Karena setiap gerakan di dalam hutan—mulai dari menanam, menebang, sampai membangun hutan tanaman—selalu berada di bawah persetujuan dan pengawasan kementerian. Pemegang izin hanya menjalankan apa yang dibolehkan. Jadi, kalau ada yang salah di lapangan, bukankah itu cermin dari kinerja otoritas kehutanan sendiri?

Permainan Izin dan Realitas Lapangan

Bayangkan begini pemegang izin mau menanam pohon jati di areal tertentu. Dia harus punya rencana kerja, dapat persetujuan otoritas kehutanan, lalu mulai bertindak. Mau menebang? Tetap harus izin. Hampir semua aktivitas dari A sampai Z bergantung pada lampu hijau dari kementerian. Jadi wajar kalau performa pemegang izin pada hakikatnya “meniru” apa yang dibolehkan, diarahkan, dan diawasi oleh negara.

Nah, kalau hasilnya buruk hutan rusak, fungsi ekologis turun, konflik sosial muncul pertanyaannya kenapa hal ini tidak terdeteksi lebih awal? Kenapa tidak ada koreksi cepat? Menteri Kehutanan tidak hanya memberi izin dia juga harus memastikan hutan tetap lestari, bukan sekadar “aman” secara administratif. Tapi, kenyataannya, fokus otoritas sering cuma pada satu hal luas areal yang diklaim sebagai hutan negara.

Dalam logika itu, hutan bisa gundul, sungai bisa kering, ekosistem bisa terganggu, tetapi secara statistik masih “aman” karena luas klaim kawasan hutan tidak berkurang. Selama pengaturan hak tenurial menjadi pusat kekuasaan, insentif untuk menjaga kualitas hutan akan kalah dibanding insentif mempertahankan luas klaim.

Ini Belum Selesai

Purbaya Dicopot Usai Rombak Pajak dan Bea Cukai, Kebetulan atau Konflik?

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Saat Banjir Jadi Alarm

Setiap kali banjir bandang melanda, publik langsung sibuk mencari kambing hitam. Tapi, apa jadinya kalau kita berhenti sebentar dan menanyakan pertanyaan yang lebih penting: seberapa efektif sebenarnya pengawasan hutan oleh otoritas kehutanan? Sejauh mana mereka menjaga fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi dari areal yang mereka klaim?

Kalau mau jujur, peristiwa banjir bisa jadi momentum emas untuk audit kinerja kementerian. Jangan cuma nge-judge pemegang izin, tapi lihat juga sistem yang memungkinkan kerusakan itu terjadi. Kalau sistemnya salah, kritik yang cuma nempel di “korban lapangan” akan selalu berhenti di permukaan.

Perspektif Lain: Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan

Tapi tentu ada sisi lain. Ada yang bilang, “Eh, pemegang izin juga harus bertanggung jawab, kan mereka yang mengeksekusi.” Betul, mereka memang ikut andil. Namun ingat, ruang gerak mereka dibatasi oleh regulasi dan izin. Bayangkan, kamu cuma bisa bergerak di jalur sempit tapi orang di atasmu yang memegang peta. Kalau akhirnya kamu nyasar, siapa yang sebenarnya salah?

Selain itu, masyarakat lokal kadang juga ikut menebang atau membuka lahan untuk bertahan hidup. Harusnya, kita lihat konteks sosial-ekonomi mereka juga. Kritik tanpa empati hanya bikin masalah tambah rumit.

Tabooo Berpendapat

Di sini, Tabooo akan bilang: kita perlu kritik yang jujur, tapi empatik. Fokus kritik jangan cuma di pemegang izin atau warga terdampak, tapi juga ke otoritas tertinggi yang mengatur permainan. Menteri Kehutanan tidak bisa cuma duduk di kantor, menandatangani izin, lalu bilang, “Semua aman.” Kinerja mereka harus terlihat dari kualitas hutan, bukan sekadar luas klaim.

Kamu bisa bilang, “Ah, gampang bilang dari luar.” Tapi coba bayangkan kalau sistem pengawasan benar-benar ketat, banjir bisa dikurangi, ekosistem tetap terjaga, konflik sosial menurun. Dan semua ini bukan soal menyalahkan siapa pun, tapi soal memastikan siapa yang bertanggung jawab menjalankan kewenangannya dengan benar.

Lalu, Kamu di Kubu Mana?

Jadi, kawan, setelah kita ngobrol santai ini kamu di kubu yang tetap menyalahkan pemegang izin, atau kamu mulai sadar bahwa tanggung jawab terbesar ada di otoritas kehutanan? Atau, kamu justru punya perspektif lain yang lebih nyeleneh tapi masuk akal?

Ayo, share opini kamu. Kita bahas bareng. Siapa tahu dari diskusi santai di kafe ini, lahir ide buat hutan Indonesia yang lebih sehat dan lebih manusiawi. @dimas

Tags: Banjir BandangEkosistem

Kamu Melewatkan Ini

Banjir Nepal-Tibet Tewaskan 633 Orang, 2.980 Masih Hilang

Banjir Nepal-Tibet Tewaskan 633 Orang, 2.980 Masih Hilang

by dimas
Agustus 29, 2026

Banjir bandang dan longsor menerjang Nepal-Tibet, menewaskan 633 orang dan membuat 2.980 lainnya masih hilang di tengah ancaman banjir susulan....

Banjir Nepal-China Tewaskan 162 Orang, Ratusan Belum Ditemukan

Banjir Nepal-China Tewaskan 162 Orang, Ratusan Belum Ditemukan

by dimas
Agustus 27, 2026

Banjir Nepal-China menewaskan sedikitnya 162 orang dan membuat ratusan lainnya belum ditemukan. Bencana dipicu longsoran es dan batu di kawasan...

Mengapa Orang Tetap Memburu Burung Meski Tahu Itu Dilarang?

Mengapa Orang Tetap Memburu Burung Meski Tahu Itu Dilarang?

by teguh
Juli 23, 2026

Saat harga hasil kebun turun dan lapangan kerja terbatas, hutan menjadi tempat memburu burung untuk mencari penghasilan.Ketika kebutuhan hidup bertemu...

Next Post
Transmart Full Day Sale 7 Desember Diskon Brutal 50%+20%, Siapa Untung…

Transmart Full Day Sale 7 Desember Diskon Brutal 50%+20%, Siapa Untung...

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id