Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Saat Alumni Menambal Lubang Biaya Pendidikan, Negara?

by teguh
April 21, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Selasa, 21/04/2026, kabar baik datang dari SMA Negeri 2 Pamekasan. Sebanyak 76 siswa lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Namun di balik angka itu, kenyataan lama kembali muncul banyak siswa lolos kampus, tetapi belum tentu mampu berangkat. Biaya daftar ulang, uang kos, transportasi, dan kebutuhan hidup sering menjadi tembok kedua setelah seleksi akademik. Kali ini, alumni memilih turun tangan dan menutup celah yang belum mampu negara selesaikan.

Tabooo.id: Deep – Kepala sekolah Moh Arifin menegaskan sekolah tidak akan membiarkan siswa berhenti karena uang.

“Kami sudah berkoordinasi dengan alumni. Semua siswa miskin biaya kuliahnya akan dibantu alumni.”

Pernyataan itu sederhana, tetapi dampaknya besar. Setiap tahun Indonesia merayakan kelulusan ke perguruan tinggi, namun jarang membahas berapa banyak siswa gagal masuk setelah mereka lolos.

Tahun ini, jumlah siswa yang lolos SNBP melonjak tajam menjadi 76 siswa, naik dari 28 siswa pada 2025. Angka itu menunjukkan kualitas akademik meningkat. Namun kenaikan itu juga membawa risiko baru semakin banyak siswa butuh dukungan biaya.

Negara Membuka Pintu, Tapi Belum Menuntun Jalan

SNBP memberi jalur masuk berbasis prestasi. Sistem ini membuka peluang bagi siswa berkemampuan akademik tanpa tes tertulis. Namun masalah utama bukan sekadar diterima atau tidak. Masalah besarnya adalah sanggup kuliah atau tidak.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), biaya pendidikan masih membebani banyak rumah tangga, terutama keluarga berpenghasilan rendah. Biaya kuliah tidak berhenti pada UKT. Mahasiswa juga harus membayar kos, makan, buku, internet, dan transportasi.

Ini Belum Selesai

Indonesia Kaya, Mengapa Rakyat Belum Sejahtera?

Nasionalisme atau Kapitalisme Negara? Arah Baru Ekonomi Indonesia

Ekonom pendidikan dari Universitas Indonesia, Prof. Teguh Dartanto, dalam berbagai forum menegaskan bahwa akses pendidikan tinggi harus mencakup keberlanjutan biaya bagi mahasiswa rentan.

Artinya, kampus bisa menerima siswa, tetapi keadaan ekonomi bisa menahan langkah mereka.

Alumni Bergerak Lebih Cepat

Di Pamekasan, alumni tidak menunggu masalah membesar. Mereka mengumpulkan dana lintas angkatan dan menyiapkan bantuan bagi siswa yang lolos.

Pada 2025, alumni menyalurkan sekitar Rp10 juta per tahun kepada siswa kurang mampu. Tahun ini, mereka menyiapkan pola serupa.

Sosiolog pendidikan Prof. Robertus Robet kerap menjelaskan bahwa saat institusi formal belum cukup responsif, masyarakat akan membangun jaring pengaman sosial sendiri.

Alumni sekolah membuktikan teori itu. Mereka yang lebih dulu berhasil kini menarik adik kelas agar ikut naik.

Pamekasan Mengirim Pesan Besar

Kabupaten Pamekasan kali ini memberi contoh penting pendidikan bisa bergerak maju saat komunitas ikut menjaga.

Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengatakan bahwa bangsa besar tumbuh dari masyarakat yang saling menguatkan, bukan saling menunggu.

Kalimat itu terasa hidup di sini. Saat banyak orang menunggu kebijakan, alumni memilih bertindak.

Twist yang Sering Terlupakan

Banyak orang mengira masalah pendidikan selesai saat siswa lolos universitas. Padahal setelah pengumuman, babak paling berat justru dimulai mencari biaya agar mimpi tidak berhenti di meja administrasi.

Di banyak rumah, tangis bahagia setelah pengumuman berubah menjadi rapat keluarga tentang utang, jual aset, atau menyerah.

Cerita SMAN 2 Pamekasan menunjukkan satu hal penting. Pendidikan tidak selalu gagal karena siswa malas. Pendidikan sering gagal karena sistem terlalu mahal.

Yang Berdampak Buat Kamu

Jika banyak sekolah meniru model ini jejaring alumni aktif, data siswa rentan rapi, komunitas ikut menopang maka ribuan siswa bisa terus kuliah setiap tahun.

Kita bukan hanya menyelamatkan satu mahasiswa. Kita juga membantu satu keluarga memutus rantai kemiskinan. Satu anak kuliah sering mengubah nasib satu generasi.

Closing

Hari ini 76 siswa lolos SNBP. Itu kabar baik. Namun kabar yang lebih penting adalah hadirnya orang-orang yang memastikan kelulusan tidak berhenti sebagai angka.

Pertanyaannya sekarang sampai kapan mimpi anak miskin harus bergantung pada kebaikan alumni? Dan kapan negara benar-benar hadir sampai gerbang kampus terakhir?. @teguh

Tags: biayaBPSBudayawanDataEkonomkuliahNasionalNegaraPendidikanPrestasiSMAN 2 PamekasanSNBPSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

30 Pendata Mundur, yang Gagal Bukan Sensusnya Tapi Komunikasinya

30 Pendata Mundur, yang Gagal Bukan Sensusnya Tapi Komunikasinya

by teguh
Juli 19, 2026

Tiga puluh petugas Sensus Ekonomi 2026 di Kota Semarang memilih mundur di tengah proses pendataan yang masih berlangsung. Angka itu...

30 Petugas Sensus Ekonomi Mundur, BPS Semarang Bantah Honor Macet

30 Petugas Sensus Ekonomi Mundur, BPS Semarang Bantah Honor Macet

by teguh
Juli 19, 2026

Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Kota Semarang menghadapi sorotan setelah 30 petugas sensus mengundurkan diri. Di saat yang sama, muncul...

Gotong Royong Naik Kelas: Warga Menambal Jalan, Negara Menambal Alasan

Gotong Royong Naik Kelas: Warga Menambal Jalan, Negara Menambal Alasan

by dimas
Juli 18, 2026

Gotong royong tak lagi sekadar budaya, tetapi menjadi kritik ketika warga memperbaiki jalan yang diabaikan negara. Benarkah modal sosial kini...

Next Post
Hak Buruh Sudah Diatur, Tapi Kenapa Masih Harus Ngemis?

Hak Buruh Sudah Diatur, Tapi Kenapa Masih Harus Ngemis?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id