Tabooo.id: Bisnis – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa pagi (3/3/2026) dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat. Di tengah memanasnya serangan militer AS-Israel ke Iran, rupiah bergerak hati-hati, seolah pasar menahan napas.
Data Bloomberg mencatat rupiah berada di level Rp16.860 per dolar AS. Angka itu naik delapan poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.868 per dolar AS. Penguatan ini memang tipis, tetapi cukup memberi sinyal bahwa pasar belum sepenuhnya panik.
Namun, data Yahoo Finance menunjukkan angka berbeda. Pada waktu yang sama, rupiah tercatat di Rp16.843 per dolar AS. Posisi ini justru melemah dibanding pembukaan perdagangan sehari sebelumnya di Rp16.774 per dolar AS. Perbedaan data tersebut menegaskan satu hal rupiah bergerak fluktuatif dan pelaku pasar masih membaca arah angin global.
Bayang-Bayang Konflik Global
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah ikut memengaruhi psikologi pasar. Serangan AS–Israel ke Iran memicu kekhawatiran atas stabilitas kawasan dan potensi lonjakan harga energi dunia. Ketika risiko global meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti dolar AS.
Situasi ini menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pasar bereaksi cepat terhadap setiap eskalasi konflik, terutama jika ketegangan berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global.
Rupiah memang mencatat penguatan tipis di awal sesi, tetapi tekanan eksternal tetap membayangi. Pergerakan hari ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen global dan fundamental domestik.
Proyeksi Analis: Fluktuatif dan Berisiko Melemah
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang hari. Ia memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp16.860 hingga Rp16.910 per dolar AS dan berpotensi menutup perdagangan di zona melemah.
Menurut Ibrahim, data domestik belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan global. Ia menilai rilis Purchasing Manager Index (PMI) manufaktur Indonesia belum mampu meredam tekanan terhadap rupiah.
PMI manufaktur memang naik ke level 53,8 pada Februari 2026, dari 52,6 pada bulan sebelumnya. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur masih ekspansif. Permintaan terhadap produk manufaktur meningkat, dan pelaku usaha mencatat pertumbuhan pesanan baru selama tujuh bulan berturut-turut.
Ibrahim menjelaskan bahwa lonjakan permintaan baru mencerminkan peningkatan aktivitas produksi. Produsen juga kembali mencatat kenaikan pesanan ekspor baru untuk pertama kalinya dalam enam bulan. Bahkan, pertumbuhan ekspor itu menjadi yang paling tajam sejak Mei 2022.
Meski begitu, ia menilai pasar tetap menaruh perhatian lebih besar pada dinamika global ketimbang data domestik. Ketika risiko geopolitik meningkat, investor cenderung mengabaikan kabar baik dari dalam negeri.
Siapa yang Paling Terdampak?
Pergerakan rupiah bukan sekadar angka di layar perdagangan. Pelemahan rupiah langsung memengaruhi harga barang impor, biaya bahan baku, hingga beban utang luar negeri.
Importir menjadi pihak pertama yang merasakan tekanan. Ketika rupiah melemah, biaya pembelian barang dari luar negeri naik. Kenaikan ini sering berujung pada harga produk yang lebih mahal di tingkat konsumen.
Pelaku industri yang bergantung pada bahan baku impor juga menghadapi dilema. Mereka harus memilih antara menekan margin keuntungan atau menaikkan harga jual. Dalam situasi daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, pilihan ini tentu tidak mudah.
Di sisi lain, eksportir bisa mendapat keuntungan jangka pendek dari pelemahan rupiah. Nilai penerimaan dalam dolar menjadi lebih besar ketika dikonversi ke rupiah. Namun, keuntungan ini bisa tergerus jika biaya produksi ikut naik akibat bahan baku impor yang lebih mahal.
Pasar Menunggu Arah Baru
Untuk saat ini, rupiah berdiri di persimpangan. Data domestik menunjukkan perbaikan di sektor manufaktur. Namun, ketegangan global terus menguji ketahanan pasar keuangan.
Investor akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan moneter global. Setiap pernyataan dari pejabat bank sentral atau eskalasi militer bisa langsung mengubah arah pasar.
Rupiah mungkin menguat tipis hari ini. Namun, selama gejolak global belum mereda, pergerakan mata uang Garuda akan tetap lincah dan penuh tekanan.
Di tengah layar monitor yang berkedip dan grafik yang bergerak naik turun, satu hal tetap sama setiap angka di pasar valuta asing pada akhirnya akan bermuara pada harga barang di meja makan masyarakat. Dan di situlah dampak sesungguhnya terasa. @dimas




