Tabooo.id: Nasional – Awal 2026 belum ramah bagi rupiah. Sejumlah analis pasar uang memprediksi nilai tukar mata uang Garuda bakal melemah dan bahkan berpotensi menembus level Rp17 ribu per dolar AS.
Penyebabnya bukan hal baru, tapi skalanya makin besar: geopolitik global yang terus memanas.
Uang Global Kabur, Rupiah Kena Getah
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai konflik geopolitik, terutama di Timur Tengah, mendorong investor global menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Investor memilih langkah aman. Mereka memindahkan dananya ke dolar AS dan emas. Alhasil, tekanan langsung menghantam rupiah.
Menurut Ibrahim, konflik berkepanjangan juga menekan ekonomi global. Saat ekonomi dunia melambat, aktivitas ekspor-impor ikut tersendat. Dampaknya merembet ke dalam negeri.
“Ekspor-impor terganggu. Investasi ikut mandek. Banyak perusahaan akhirnya menahan ekspansi, bahkan ada yang tutup,” ujar Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/12).
Ketika investasi macet, daya beli ikut turun. Saat daya beli melemah, rupiah kehilangan tenaga untuk bertahan.
Rp17 Ribu Dianggap Bukan Hal Aneh
Ibrahim menilai tekanan global bakal mendominasi pergerakan rupiah sepanjang 2026. Ia bahkan menganggap pelemahan hingga Rp17 ribu per dolar AS bukan lagi skenario ekstrem.
“Kalau rupiah di atas Rp17 ribu, saya anggap itu wajar dalam kondisi global seperti sekarang,” katanya.
Pandangan serupa datang dari analis Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia melihat peluang pelemahan rupiah makin terbuka karena prospek pemangkasan suku bunga The Fed kian mengecil.
Di sisi lain, kebijakan dalam negeri justru memberi tekanan tambahan.
Suku Bunga Turun, Rupiah Kehilangan Daya Tarik
Lukman menilai pelonggaran kebijakan oleh Bank Indonesia dan pemerintah meningkatkan likuiditas, tetapi sekaligus menggerus daya tarik rupiah di mata investor.
“Suku bunga yang lebih rendah membuat mata uang menjadi kurang menarik,” ujar Lukman.
Ia menambahkan, situasi bakal memburuk jika tensi geopolitik di Laut Karibia dan Laut China Selatan meningkat. Konflik di kawasan strategis itu bisa kembali memicu arus modal keluar.
Dengan berbagai faktor tersebut, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp16.300 hingga Rp17.300 per dolar AS sepanjang 2026.
Asumsi APBN vs Realitas Pasar
Pemerintah sendiri memasang asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS dalam APBN 2026. Angka ini lebih lemah dibanding asumsi APBN 2025 yang berada di Rp16 ribu.
Bank Indonesia tetap menyatakan sikap optimistis. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamental ekonomi.
“Kami akan menjaga nilai tukar di sekitar Rp16.500, bahkan Rp16.400 per dolar AS tahun depan,” ujar Perry dalam acara BIRAMA 2025, Senin (1/12/2026).
Siapa Diuntungkan, Siapa Kena Imbas?
Eksportir bisa tersenyum karena rupiah lemah membuat produk mereka lebih kompetitif. Namun, konsumen dan pelaku impor harus bersiap menanggung harga yang lebih mahal.
Biaya hidup berpotensi naik, sementara daya beli belum tentu ikut menguat.
Rupiah mungkin masih bisa dijaga di atas kertas. Tapi pasar punya logika sendiri. Dan jika dunia terus bergolak, angka Rp17 ribu bisa berubah dari prediksi menjadi kenyataan. @teguh





