Buruh pengupas bawang di Pasar Legi Solo mendapat Rp2.000 per kilogram. Mereka harus mengejar banyak kupasan karena pendapatan harian tidak pernah pasti.
Tabooo.id – Rp2.000 mungkin terlihat kecil. Namun, bagi buruh pengupas bawang, angka itu menentukan berapa banyak bawang yang harus mereka kupas untuk mendapat penghasilan. Semakin banyak kilogram yang mereka selesaikan, semakin besar pula uang yang mereka dapatkan.
Masalahnya, tenaga manusia punya batas. Tangan bisa terasa panas dan perih. Kulit tangan bahkan bisa pecah-pecah. Namun, kebutuhan hidup tetap berjalan. Karena itu, buruh terus mengejar kilogram demi kilogram.
Di situlah pekerjaan ini menyimpan persoalan yang lebih besar dari sekadar tarif.
Rp2.000 yang Harus Dikejar
Sumiarti, buruh pengupas bawang asal Kalioso, Karanganyar, memahami hitungan itu setiap hari. Ia bekerja sebagai pengupas bawang di Pasar Legi Solo. Untuk mengupas bawang biasa sampai bersih, ia mendapat sekitar Rp2.000 per kilogram.
Artinya, setiap satu kilogram bawang yang selesai ia kupas menghasilkan Rp2.000. Jika ia ingin mendapat uang lebih banyak, ia harus mengupas lebih banyak bawang.
Setiap hari, tangannya mengambil bawang, mengelupas kulit, lalu mengumpulkan bawang yang sudah bersih. Setelah itu, ia kembali mengambil bawang berikutnya dan mengulangi pekerjaan yang sama.
Jumlah bawang menentukan penghasilannya. Semakin banyak ia mengupas, semakin besar peluangnya mendapat uang lebih banyak. Namun, penghasilan hariannya tidak selalu sama.
Upah terlihat kecil per kilogram. Namun, hidup pekerja bergantung pada berapa banyak kilogram yang bisa mereka kejar.
Semakin Banyak Mengupas, Semakin Besar Targetnya
Sistem upah per kilogram terlihat sederhana. Buruh bekerja, mengumpulkan hasil, lalu mendapat upah sesuai jumlah kupasan. Namun, sistem ini membuat jumlah bawang menjadi penentu utama penghasilan.
Rp2.000 dari satu kilogram tentu berbeda dengan Rp2.000 dari puluhan kilogram. Karena itu, buruh terus mengejar jumlah.
Setiap karung membawa peluang mendapat uang, setiap kilogram menambah penghasilan dan setiap bawang yang selesai mereka kupas membawa mereka lebih dekat pada target hari itu.
Namun, tubuh tidak selalu mengikuti target tersebut.
Tangan tetap punya batas. Tenaga juga bisa habis.
Ketika Tangan Mulai Menyerah
Mengupas bawang mengandalkan tangan. Buruh mengulang gerakan yang sama selama berjam-jam. Jari memegang bawang, lalu mengelupas kulitnya satu per satu.
Sumiarti mengatakan beberapa jenis bawang membuat tangannya terasa panas. Bawang sinco bahkan bisa membuat kulit tangannya pecah-pecah.
“Kalau mengelupas bawang sinco pasti tangan panas, pecah-pecah,” kata Sumiarti kepada Tabooo.id.
Bawang sinco memberi upah lebih tinggi. Sumiarti mendapat sekitar Rp3.000 per kilogram. Sementara itu, bawang biasa memberi sekitar Rp2.000 per kilogram.
Selisihnya hanya Rp1.000. Namun, tangan harus menghadapi risiko yang berbeda.
Seribu rupiah tambahan tidak selalu sebanding dengan rasa panas yang harus ditanggung tangan.
Penghasilan yang Tidak Pernah Pasti
Sumiarti tidak selalu mengetahui jumlah uang yang akan ia dapatkan saat memulai hari. Penghasilannya bergantung pada jumlah pekerjaan dan kemampuan tubuhnya.
Hari ini, ia mungkin mengupas lebih banyak bawang. Besok, jumlah pekerjaannya bisa berubah. Kondisi tubuhnya juga bisa menentukan seberapa banyak bawang yang mampu ia selesaikan.
Itulah yang membuat Rp2.000 per kilogram tidak sekadar menjadi angka tarif.
Ada ketidakpastian di belakangnya.
Berapa banyak bawang yang harus ia kerjakan hari ini?, berapa kilogram yang mampu ia selesaikan? dan berapa lama tangannya masih kuat?
Jawaban dari pertanyaan itu menentukan jumlah uang yang ia dapatkan.
Kita Melihat Tarif, Mereka Mengejar Kilogram
Ketika publik mendengar tarif pekerjaan, perhatian sering berhenti pada nominal. Rp2.000 per kilogram terdengar kecil. Namun, angka itu baru menunjukkan maknanya ketika kita melihat jumlah pekerjaan yang harus buruh selesaikan.
Bagi buruh, kilogram bukan hanya satuan berat.
Kilogram adalah target, kilogram adalah tenaga, kilogram adalah waktu dan kilogram juga menjadi ukuran penghasilan.
Ini bukan sekadar cerita tentang upah murah. Ini adalah pola kerja yang membuat pendapatan buruh bergantung pada seberapa jauh tubuh mereka mampu terus bekerja.
Selama tangan terus bergerak, mereka masih bisa mengejar kilogram berikutnya. Ketika tangan berhenti, penghasilan juga berhenti bertambah.
Rp2.000 Tidak Pernah Sekadar Rp2.000
Bagi banyak orang, Rp2.000 mungkin hanya angka kecil. Namun, bagi Sumiarti, angka itu lahir dari pekerjaan yang terus berulang.
Satu kilogram menghasilkan Rp2.000.
Lalu tangan kembali bekerja untuk kilogram berikutnya.
Semakin besar penghasilan yang ingin mereka dapatkan, semakin banyak bawang yang harus mereka kupas. Tidak ada jalan pintas dalam hitungan itu.
Lebih banyak uang berarti lebih banyak pekerjaan. Lebih banyak pekerjaan berarti lebih lama tangan bekerja.
Di sinilah angka kecil itu menunjukkan persoalan sebenarnya.
Rp2.000 bukan hanya tarif. Rp2.000 adalah alasan untuk terus mengejar kilogram berikutnya.
Ketika Hidup Bergantung pada Berat Bawang
Pekerjaan dengan sistem upah per kilogram selalu membawa pertanyaan yang sama: berapa banyak yang bisa selesai hari ini?
Jawaban itu menentukan penghasilan. Sumiarti dan buruh pengupas bawang lain tidak selalu mendapat kepastian jumlah pendapatan setiap hari. Mereka mengejar penghasilan dari jumlah bawang yang mampu mereka kupas.
Karung bawang datang. Tangan mulai bekerja.
Kilogram demi kilogram bertambah. Namun, tubuh pada akhirnya menentukan batasnya sendiri.
Karena itu, Rp2.000 per kilogram tidak hanya bicara tentang bawang. Angka itu juga bicara tentang waktu, tenaga, dan ketidakpastian.
Tentang berapa banyak bawang yang harus dikupas agar ada uang untuk dibawa pulang.@eko







