Tabooo.id: Vibes – Ada bangunan yang, dari sudut mana pun kamu memotretnya, tetap terasa “berat”. Berat oleh sejarah, Berat oleh lapisan waktu, Berat oleh doa-doa yang pernah melayang di dalamnya. Rotunda Galerius di Thessaloniki adalah salah satunya. Struktur melingkar masif dengan oculus di puncaknya sekilas mengingatkan pada Pantheon di Roma diam-diam memancing satu pertanyaan sederhana tapi mengganggu, ini sebenarnya bangunan apa?
Kuil? Makam? Gereja? Masjid? Atau sekadar penanda bahwa manusia dari berbagai zaman pernah singgah di titik yang sama, lalu pergi tanpa benar-benar pamit.
Di tengah budaya meme dan kebiasaan swipe cepat, Rotunda justru berdiri sebagai anomali. Bangunan ini tidak buru-buru menjelaskan dirinya. Ia juga menolak satu identitas tunggal. Anehnya, justru di situlah daya tariknya tumbuh pelan-pelan.
Awal Mula: Kekuasaan yang Mencari Keabadian
Pada awal abad ke-4, Kaisar Romawi Galerius membangun Rotunda sebagai bagian dari kompleks istananya di Thessaloniki. Para sejarawan masih berdebat soal fungsi awalnya. Sebagian menduga Galerius menyiapkannya sebagai mausoleum pribadi. Sementara itu, teori lain menyebut bangunan ini sebagai kuil untuk dewa-dewa Romawi.
Namun satu hal jelas Rotunda berdiri sebagai simbol kekuasaan. Thessaloniki saat itu bukan kota sembarangan. Letaknya strategis, menjadi simpul penting antara Timur dan Barat. Karena itu, Rotunda tidak sekadar bangunan ia adalah pernyataan politik dalam bentuk batu dan lengkungan.
Sejarah yang Gemar Bermain Remix
Seiring waktu, sejarah mulai memainkan remix-nya. Ketika Kekaisaran Romawi memeluk Kristen, Rotunda ikut berganti peran. Bangunan ini berubah menjadi basilika Kristen, lengkap dengan mosaik megah yang hingga kini masih memantulkan cahaya zaman lampau.
Kemudian, berabad-abad setelahnya, Ottoman datang dan membawa perubahan lain. Rotunda kembali berganti fungsi, kali ini sebagai masjid. Pada masa itu, orang-orang menambahkan sebuah menara adzan di sisi selatan. Menariknya, menara tersebut masih berdiri sampai sekarang. Alih-alih menghapusnya, kota memilih merawatnya sebagai jejak sejarah.
Setelah Thessaloniki kembali menjadi bagian dari Yunani modern, Rotunda kembali berfungsi sebagai gereja Kristen. Selanjutnya, waktu mendorongnya ke peran baru situs arkeologi dan monumen budaya. Empat fungsi besar, Empat sistem kepercayaan, Satu bangunan. Jika Rotunda bisa bicara, mungkin ia akan tersenyum kecil melihat manusia yang masih suka ribut soal perbedaan.
Kota yang Terasa Familiar Tanpa Alasan Jelas
Pengalaman berada di Thessaloniki menghadirkan rasa familiar yang aneh. Perjalanan dari Istanbul ke Thessaloniki tidak terasa seperti melintasi dunia yang sepenuhnya berbeda. Secara visual, ritmenya serupa. Lengkungan Romawi menyapa mata. Mosaik Bizantium muncul di sudut-sudut kota. Jejak Ottoman ikut membayang.
Padahal secara administratif, perbedaannya tegas. Turki bebas visa bagi paspor Indonesia, Yunani menuntut visa Schengen. Namun budaya sering kali cuek pada garis politik, Ia mengalir, menyelinap, dan bertahan di antara celah-celah sejarah.

Alun alun terbesar di Yunani Utara dan pusat kehidupan kota di rancang oleh arsitek Prancis Ernest Hebrard pada Tahun 1917, Lapangan Aristotelous di Thessaloniki, Yunani.
Identitas, Feed Media Sosial, dan Bangunan Tua
Rotunda berdiri sebagai pengingat bahwa peradaban tidak pernah benar-benar dimulai dari nol. Manusia selalu meneruskan, mengubah, dan menafsir ulang. Pola ini terasa akrab. Kita melihatnya setiap hari di feed media sosial satu platform, banyak identitas. Hari ini kita aktivis, Besok kita estetik. Lusa kita spiritual. Tidak konsisten, tapi sangat manusiawi.
Karena itu, di konteks masa kini, bangunan seperti Rotunda terasa semakin relevan. Ia menolak simplifikasi. Di dunia yang gemar mengotak-ngotakkan identitas agama, bangsa, ideologi Rotunda menunjukkan bahwa sejarah manusia jauh lebih berlapis. Ia tidak menghapus yang lama saat yang baru datang. Sebaliknya, ia menumpuk makna, lapis demi lapis.
Panggilan Sunyi dan Perjalanan Pribadi
Mungkin itulah sebabnya banyak orang merasa tertarik pada situs-situs bersejarah tanpa alasan rasional. Ada semacam panggilan sunyi. Bukan karena kita hafal kronologinya, melainkan karena sesuatu di dalam diri ikut beresonansi. Jiwa seolah mengenali pola lama perubahan, pencarian, pengulangan.
Bagi sebagian orang, traveling identik dengan checklist negara. Angka, Statistik namun bagi yang lain, perjalanan sering dimulai dari ketertarikan kecil. Awalnya cuma rasa penasaran. Lalu berlanjut ke pencarian larut malam. Setelah itu, tidur jadi susah. Anehnya, semesta sering ikut campur. Tiket murah muncul, Teman menawarkan tumpangan jalan tiba-tiba terbuka. Budget minim, pengalaman maksimal.
Mengunjungi sekitar 40 negara mungkin terdengar biasa bagi traveler yang sudah menembus angka tiga digit. Namun angka tidak selalu bicara soal jarak. Yang lebih penting justru kedalaman pertemuan dengan tempat, dengan sejarah, dan dengan diri sendiri. Dalam konteks itu, Rotunda Galerius kerap berperan sebagai cermin diam yang jujur.
Penutup: Pertanyaan yang Tetap Menggantung
Di dalam bangunan melingkar itu, ketika cahaya jatuh dari oculus di atas, kita kembali diingatkan manusia selalu mencari makna. Entah lewat kekuasaan, iman, atau perjalanan. Fungsi bisa berubah nama bisa berganti namun dorongan untuk meninggalkan jejak tidak pernah benar-benar hilang.
Mungkin Rotunda memang tidak ditakdirkan menjadi satu hal saja. Mungkin justru misinya adalah menampung banyak cerita. Seperti kita, yang terus berganti peran sepanjang hidup, Seperti kota-kota yang tumbuh di atas reruntuhan masa lalu, Seperti perjalanan yang sering berawal dari rasa suka yang tidak bisa dijelaskan.
Dan pada akhirnya, saat kita berdiri di hadapan bangunan setua itu, pertanyaannya pun ikut bergeser. Bukan lagi, “Ini tempat apa?”
Melainkan, “Bagian mana dari diriku yang sedang ia panggil?”
Tabooo.id Vibes / Perjalanan Risa Bluesaphier dari Istanbul Turki Menyusuri Jejak Sejarah Mediterania Timur. (Risa Bluesaphier adalah Jurnalis Travel Tabooo.id)




