Tabooo.id: Life – Pagi di Desa Wunut selalu dimulai dengan suara air. Air itu muncul dari Umbul Pelem mata air yang jernih, tenang, dan seperti tidak pernah lelah memberi kehidupan. Di tepi kolam, anak-anak biasanya sudah lebih dulu datang sebelum matahari sepenuhnya naik. Mereka melompat, tertawa, dan memecah permukaan air yang dingin dengan riuh kecil yang terasa akrab.
Namun beberapa tahun terakhir, air itu tidak hanya membawa kesegaran. Ia juga membawa sesuatu yang lebih besar harapan ekonomi.
Pada Lebaran 2026, kabar itu kembali beredar dari rumah ke rumah. Setiap warga Desa Wunut akan menerima Tunjangan Hari Raya. Bukan dari perusahaan, bukan dari kantor pemerintah pusat, tetapi dari desa mereka sendiri.
Jumlahnya memang tidak besar Rp250.000 per orang. Tetapi bagi banyak warga, nilai itu terasa simbolik. Ia seperti pesan sederhana: desa ini tumbuh bersama.
Sebanyak 2.341 warga menerima THR tersebut. Pemerintah desa mengalokasikan sekitar Rp585,25 juta dari pendapatan wisata Umbul Pelem untuk membagikannya.
Di tengah cerita desa-desa yang sering bergulat dengan keterbatasan anggaran, kisah Wunut terasa seperti anomali yang menyenangkan.
Mata Air yang Menjadi Mesin Ekonomi Desa
Umbul Pelem berdiri di lahan sekitar satu hektar. Tempat ini awalnya hanyalah sumber air alami yang dimanfaatkan warga sekitar. Namun kemudian desa melihat potensi yang lebih besar.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wunut mengelola kawasan ini sebagai destinasi wisata air. Mereka membangun fasilitas sederhana, memperbaiki akses, dan menata lingkungan agar tetap ramah bagi pengunjung.
Hasilnya perlahan terlihat.
Pengunjung mulai berdatangan dari berbagai daerah di sekitar Klaten, Solo, hingga Yogyakarta. Kolam alami yang jernih, suasana desa yang tenang, dan harga tiket yang terjangkau menjadikan Umbul Pelem pilihan wisata keluarga.
Pada tahun 2025, pendapatan dari destinasi ini mencapai sekitar Rp5,1 miliar.
Angka itu cukup besar untuk ukuran desa.
Namun yang membuat cerita ini menarik bukan sekadar jumlahnya, melainkan bagaimana uang tersebut kembali ke masyarakat.
Kepala Desa Wunut, Iwan Sulistiya Setiawan, menjelaskan bahwa pembagian THR untuk warga sudah berjalan sejak 2023. Program ini menjadi salah satu cara desa memastikan manfaat ekonomi wisata benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat.
Bagi warga, momen itu terasa seperti bukti bahwa desa mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Wisata Menghidupi Jaminan Sosial
Pendapatan Umbul Pelem tidak berhenti pada pembagian THR.
Pemerintah desa juga mengalokasikan sebagian dana untuk perlindungan sosial warga. Setiap tahun, desa membayar iuran BPJS Kesehatan bagi seluruh warga dengan anggaran sekitar Rp300 juta.
Selain itu, desa juga menanggung iuran BPJS Ketenagakerjaan dengan nilai sekitar Rp600 juta.
Langkah ini terasa sederhana, tetapi dampaknya besar.
Di banyak tempat, jaminan kesehatan masih menjadi beban rumah tangga. Satu anggota keluarga yang sakit sering kali cukup untuk mengguncang stabilitas ekonomi keluarga kecil.
Di Wunut, desa mencoba memutus rantai kekhawatiran itu.
Jika ada warga yang sakit, desa tidak hanya membantu melalui jaminan kesehatan. Bahkan biaya operasional untuk mengantar pasien ke rumah sakit pun dapat ditanggung oleh pemerintah desa.
Bagi Iwan, pendekatan ini bukan sekadar program administratif. Ia melihatnya sebagai cara desa hadir secara nyata di kehidupan warga.
Di tengah sistem birokrasi yang sering terasa jauh dari masyarakat, pendekatan semacam ini memberi rasa kedekatan yang jarang muncul dalam kebijakan publik.
Pendidikan dari Air yang Mengalir
Air Umbul Pelem juga mengalir ke tempat lain: pendidikan.
Sebagian pendapatan wisata dialokasikan untuk pembangunan rumah tahfiz di Desa Wunut. Tempat ini nantinya akan menjadi ruang belajar agama bagi anak-anak desa.
Rencananya, rumah tahfiz tersebut mulai beroperasi setelah Lebaran 2026.
Program ini awalnya ditujukan untuk anak-anak tingkat SMP. Desa ingin memberikan ruang pendidikan tambahan di luar sekolah formal.
Namun rencana pendidikan desa tidak berhenti pada pelajaran agama.
Pemerintah desa juga berencana menghadirkan kelas bahasa untuk anak-anak, mulai dari bahasa Inggris, bahasa Arab, hingga bahasa Mandarin. Guru-guru akan diundang untuk mengajar secara berkala.
Di balik rencana itu tersimpan mimpi yang cukup sederhana: agar anak-anak desa tidak tertinggal dari dunia yang terus bergerak cepat.
Sebuah Paradoks Desa yang Jarang Dibicarakan
Cerita Desa Wunut sebenarnya membuka paradoks menarik.
Di banyak tempat, desa sering digambarkan sebagai wilayah yang tertinggal baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun fasilitas sosial.
Namun Wunut menunjukkan gambaran yang berbeda.
Sebuah desa kecil dengan satu sumber air mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang menghidupi warganya. Dari wisata, lahir jaminan kesehatan. Dari kolam alami, muncul program pendidikan.
Hal itu tentu tidak terjadi secara instan.
Ia membutuhkan pengelolaan, kepercayaan masyarakat, dan keberanian untuk mencoba model ekonomi yang berbeda.
Di Indonesia, banyak desa memiliki potensi wisata serupa. Mata air, hutan, sungai, atau lanskap alam lain sering kali tersebar di berbagai daerah.
Namun potensi itu sering berhenti pada status “potensi”.
Wunut mencoba membuktikan bahwa potensi bisa berubah menjadi kesejahteraan jika desa mengelolanya secara kolektif.
Refleksi dari Sebuah Mata Air
Umbul Pelem mungkin hanya kolam air bagi sebagian orang.
Wisatawan datang, berenang sebentar, lalu pulang membawa foto dan cerita liburan. Namun bagi warga Wunut, air itu memiliki arti yang jauh lebih dalam.
Ia menjadi simbol kerja bersama.
Air itu tidak memilih siapa yang boleh menikmati manfaatnya. Ia mengalir ke semua warga dalam bentuk THR, jaminan kesehatan, hingga pendidikan bagi anak-anak.
Di negara sebesar Indonesia, cerita pembangunan sering datang dari kota. Gedung tinggi, proyek besar, dan investasi miliaran rupiah sering menjadi simbol kemajuan.
Namun kadang, cerita paling menarik justru muncul dari tempat yang sederhana.
Dari desa kecil.
Dari kolam air yang tenang.
Dan dari keyakinan bahwa kesejahteraan tidak selalu harus datang dari pusat kekuasaan kadang ia bisa lahir dari mata air di halaman desa sendiri. @dimas




