Rem Blong Sibolangit saat Nyawa Diterjang Truk Tak Layak. Tragedi yang menewaskan empat orang ini memunculkan dugaan kelalaian sistem keselamatan transportasi dan pengawasan kelayakan kendaraan di jalan raya.
Tabooo.id – Di jalan turunan sepanjang tiga kilometer di kawasan Sibolangit, Sumatera Utara, sebuah truk pengangkut air galon meluncur tanpa kendali. Dalam hitungan detik, delapan kendaraan hancur. Empat orang kehilangan nyawa. Delapan lainnya terluka. Polisi kini menyelidiki dugaan kelalaian di balik kecelakaan maut itu. Namun, pertanyaan yang lebih besar justru muncul berapa banyak tragedi serupa yang masih harus terjadi sebelum keselamatan benar-benar diprioritaskan?
Kepolisian Daerah Sumatera Utara telah memeriksa sopir truk pembawa air mineral dalam kemasan galon, Ilham (50), sebagai pihak yang mengemudikan kendaraan pemicu kecelakaan. Polisi mendalami kemungkinan adanya unsur kelalaian setelah truk diduga mengalami rem blong saat melaju dari Kabupaten Karo menuju Medan.
Kepala Bidang Humas Polda Sumut, Komisaris Besar Ferry Walintukun, menjelaskan truk melaju di jalur menurun kawasan wisata Sibolangit sebelum kehilangan kendali.
“Kecelakaan dipicu oleh truk bermuatan air mineral dalam kemasan galon yang diduga mengalami rem blong saat melaju dari arah Kabupaten Karo menuju Kota Medan,” ujar Ferry.
Rekaman CCTV Menunjukkan Truk Melaju Sangat Cepat
Penyelidikan sementara mengarah pada kondisi kendaraan yang diduga gagal mengurangi kecepatan.
Rekaman CCTV memperlihatkan truk melaju dengan kecepatan tinggi di Jalan Medan-Berastagi Kilometer 44-45. Saat mendekati antrean kendaraan akibat kemacetan, sopir berusaha memperlambat laju truk. Namun, sistem pengereman diduga tidak lagi berfungsi.
Truk kemudian terus meluncur dan menghantam lima minibus, dua truk lain, serta satu sepeda motor dari arah berlawanan sekitar pukul 10.30 WIB, Jumat (17/7/2026).
Benturan keras membuat sejumlah kendaraan ringsek. Empat orang meninggal dunia di lokasi maupun setelah mendapat penanganan medis.
Satu Keluarga Kehilangan Tiga Anggota Sekaligus
Korban meninggal terdiri atas pasangan suami istri Heppi Sitinjak (60) dan Dinaria Manik (60), keponakan mereka Samsir Sitinjak (30), serta Anton Simorangkir, warga Sibolangit.
Di balik angka korban, tragedi ini meninggalkan luka yang jauh lebih dalam.
Roma Sitinjak (21) masih mengingat perjalanan keluarganya pagi itu. Mereka berangkat dari Dairi menuju Medan untuk mengantar adiknya, Gabe Sitinjak, yang hendak melanjutkan kuliah ke Jambi.
Perjalanan menuju masa depan berubah menjadi perjalanan menuju ruang jenazah.
Ayah, ibu, dan sepupunya meninggal dalam kecelakaan tersebut. Sementara Gabe selamat dengan luka, adiknya Five Sitinjak (11) hingga kini masih menjalani perawatan akibat pendarahan di kepala.
“Adik saya Five mengalami pendarahan di kepala dan belum sadarkan diri,” kata Roma di RSUP H Adam Malik Medan.
Enam korban luka berat lainnya masih dirawat akibat patah tulang serta cedera kepala serius.
Dugaan Kelalaian Tidak Berhenti di Sopir
Polisi masih mengumpulkan bukti untuk memastikan penyebab utama kecelakaan.
Namun, persoalan rem blong selama ini hampir selalu berulang dalam berbagai kecelakaan kendaraan berat di Indonesia. Karena itu, pertanyaan tidak hanya berhenti pada kemampuan sopir mengendalikan kendaraan, tetapi juga menyangkut kondisi armada, kepatuhan uji kelayakan kendaraan, hingga pengawasan terhadap kendaraan angkutan barang.
Jika sebuah sistem pengereman gagal di jalur sepanjang tiga kilometer, apakah masalahnya sekadar kesalahan pengemudi?
Rem Blong Bukan Takdir
Akademisi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai kecelakaan Sibolangit seharusnya menjadi alarm nasional.
Menurutnya, sekitar 100 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Angka tersebut menunjukkan keselamatan jalan belum menjadi prioritas utama pembangunan transportasi.
Djoko menegaskan pemeriksaan kendaraan secara berkala semestinya mampu menekan kasus rem blong. Ia juga mengingatkan agar anggaran keselamatan transportasi tidak dipangkas karena justru menjadi instrumen penting untuk mencegah korban jiwa.
Ini Bukan Sekadar Rem Blong
Rem mungkin gagal bekerja dalam hitungan detik. Namun, kegagalan sistem keselamatan biasanya berlangsung jauh lebih lama.
Ketika kendaraan berat tetap beroperasi tanpa pengawasan maksimal, ketika pemeriksaan berkala hanya menjadi formalitas, dan ketika jalur rawan belum mendapat perlindungan yang memadai, tragedi seperti Sibolangit berpotensi terus berulang.
Empat korban meninggal bukan hanya akibat sebuah truk yang kehilangan rem. Mereka menjadi pengingat bahwa keselamatan lalu lintas tidak boleh bergantung pada keberuntungan.
Karena ketika rem benar-benar blong, yang paling mahal bukan biaya perbaikan kendaraan, melainkan nyawa manusia yang tidak pernah bisa kembali. @dimas







