Bus antarkota lintas pulau bukan sekadar kendaraan. Ia menghubungkan kota, keluarga, dan harapan para perantau yang menempuh ribuan kilometer dari Jawa ke Sumatera. Namun di balik perjalanan itu, ada sisi yang jarang dibicarakan kendaraan yang menua, jalan rusak, dan risiko besar yang kadang bermula dari lubang di aspal. Di titik ini muncul pertanyaan ini sekadar kecelakaan, atau bahaya yang sudah lama ikut berjalan di jalan lintas?
Tabooo.id: Edge – Tragedi maut mengguncang Jalan Lintas Sumatera di kawasan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan. Sebuah bus Antar Lintas Sumatera (ALS) bertabrakan dengan truk tangki minyak pada Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 12.30 WIB. Benturan keras itu langsung memicu ledakan dan kebakaran hebat. Akibatnya, 16 orang meninggal dunia dan beberapa lainnya mengalami luka.
Belakangan, fakta lain muncul. Bus ALS yang terlibat kecelakaan ternyata bukan armada utama. Perusahaan mengoperasikan bus cadangan berusia sekitar 24 tahun untuk menggantikan kendaraan reguler yang sedang menjalani perbaikan. Bus itu berangkat dari Semarang menuju Medan dan membawa penumpang yang naik dari berbagai kota sepanjang perjalanan.
Namun tragedi itu tidak berhenti di lokasi tabrakan. Setelah api padam dan puing kendaraan tersisa di jalan lintas, perjalanan para korban justru berlanjut menuju ruang forensik tempat identitas mereka harus dipastikan satu per satu.
Bus itu sebenarnya tidak sedang “sial”. Sebaliknya, kendaraan tua itu terus dipaksa bekerja di jalan lintas yang kondisinya tidak selalu ramah.
Duka di Ruang Forensik
Sementara itu, suasana duka menyelimuti lorong rumah sakit ketika ambulans pertama tiba di Palembang.
Petugas menurunkan kantong jenazah berwarna oranye satu per satu dari ambulans yang datang beriringan sejak dini hari. Tubuh para korban kecelakaan bus ALS dan truk tangki minyak itu tiba menjelang pagi dengan luka bakar hebat.
Di balik pintu ruang identifikasi, keluarga korban menunggu dengan perasaan campur aduk antara harapan dan ketakutan.
Pada Kamis (7/5/2026) sekitar pukul 05.00 WIB, petugas membawa 16 jenazah korban kecelakaan ke RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang. Sebelumnya, ambulans mengangkut para korban dari RSUD Siti Aisyah Lubuk Linggau setelah perjalanan panjang sepanjang malam.
Sesampainya di rumah sakit, tim forensik segera memindahkan kantong jenazah ke ruang pendingin. Selanjutnya, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri langsung memulai proses identifikasi.
Namun kondisi korban yang terbakar membuat proses identifikasi jauh lebih sulit. Karena itu, penyidik mempertimbangkan pemeriksaan DNA untuk memastikan identitas korban secara akurat.
Kronologi Tragedi
Sebelumnya, kecelakaan terjadi pada Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 12.30 WIB di Jalan Lintas Sumatera kawasan Karang Jaya.
Bus ALS bernomor polisi BK 7778 DL melaju dari Lubuk Linggau menuju Jambi. Ketika kendaraan melintasi lokasi kejadian, sopir diduga berusaha menghindari lubang di jalan.
Namun manuver tersebut justru membuat bus kehilangan kendali. Kendaraan kemudian masuk ke jalur berlawanan arah.
Di saat yang sama, truk tangki minyak milik PT Seleraya yang dikemudikan Aryanto (49) datang dari arah berlawanan.
Akibatnya, tabrakan keras tidak dapat dihindari.
Benturan itu langsung memicu ledakan besar. Api kemudian menyambar kedua kendaraan, diduga berasal dari minyak yang diangkut truk tangki.
Dalam hitungan menit, bus dan truk berubah menjadi rangka besi yang hangus terbakar. Sejumlah korban bahkan terjebak di dalam kendaraan.
Bus Cadangan Berusia 24 Tahun
Selain itu, perusahaan transportasi kemudian mengungkap fakta lain.
Humas PT ALS Alwi Matondang menjelaskan bahwa bus yang terlibat kecelakaan merupakan bus cadangan. Perusahaan menggunakan kendaraan itu untuk menggantikan bus reguler yang sedang diperbaiki.
Bus tersebut merupakan produksi tahun 2002, sehingga usianya kini sekitar 24 tahun.
Meski demikian, perusahaan menyatakan bus tersebut masih laik jalan karena telah menjalani pemeriksaan rutin sebelum keberangkatan.
Bus itu berangkat dari Semarang pada Minggu (3/5/2026) dengan tujuan akhir Medan.
Berdasarkan manifes awal, lima penumpang naik dari Semarang. Sementara itu, sembilan penumpang lainnya naik di sepanjang perjalanan, termasuk dari Lampung.
Perusahaan juga menugaskan dua sopir untuk mengemudikan bus secara bergantian, yaitu Alif Supriyanto (44) dan Zulpan Efendi (44). Saat kecelakaan terjadi, polisi menduga Alif sedang mengemudikan kendaraan tersebut.
Duka Keluarga
Di sisi lain, kabar duka langsung mengguncang keluarga korban.
Di loket ALS di Medan, Siti Kholizah, istri sopir Zulpan Efendi, hanya bisa duduk termenung. Ketika keluarga memastikan kabar kecelakaan itu, tangisnya pecah.
Ia kehilangan suaminya dalam perjalanan yang seharusnya berakhir dengan kepulangan.
Penyelidikan Masih Berlanjut
Sementara itu, polisi terus menyelidiki penyebab pasti kecelakaan tersebut.
Penyidik kini memeriksa beberapa faktor penting, antara lain kondisi jalan berlubang, manuver penghindaran sopir, tabrakan dengan truk tangki minyak, serta ledakan dan kebakaran setelah benturan.
Selain itu, Polda Sumatera Selatan membuka posko DVI untuk membantu keluarga korban.
Karena itu, polisi meminta masyarakat yang kehilangan anggota keluarga agar segera melapor ke RS Bhayangkara Palembang atau menghubungi nomor darurat 0821-7803-8910.
Analisis Tabooo
Namun tragedi ini bukan sekadar tabrakan dua kendaraan di jalan lintas.
Di balik peristiwa itu, ada tiga masalah yang sering muncul bersamaan di jalan Indonesia: kendaraan yang menua, infrastruktur jalan yang rusak, dan tekanan perjalanan jarak jauh.
Ketika ketiga faktor itu bertemu dalam satu detik yang salah, kecelakaan besar hampir tak terhindarkan.
Penutup
Kini ruang pendingin rumah sakit menyimpan tubuh para korban yang masih menunggu identifikasi.
Sementara itu, keluarga korban tetap menunggu di luar ruangan dengan harapan yang semakin tipis.
Bagi mereka, tragedi ini bukan sekadar angka kematian.
Ini adalah perjalanan pulang yang tidak pernah sampai. @dimas







