Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rampogan Pertunjukan Berdarah yang Membuat Belanda Tak Sadar Sedang Disindir

by eko
Februari 14, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Beberapa hari terakhir, timeline gaduh oleh satu foto: seekor harimau yang diduga Harimau Jawa berjalan santai meninggalkan banteng yang terkulai. Foto itu disebut-sebut berasal dari Taman Nasional Ujung Kulon. Netizen pun terbelah. Sebagian takjub, sebagian ragu, sementara yang lain langsung menjadikannya meme: “Yang katanya punah, ternyata cuma sembunyi.”

Secara ilmiah, Harimau Jawa memang dinyatakan punah sejak 1976. Namun dalam imajinasi kolektif orang Jawa, ia tak pernah benar-benar hilang. Ia terus hidup sebagai simbol. Ia menjelma bayangan dalam cerita-cerita lama. Bahkan, ia hadir sebagai metafora tentang kuasa, keberanian, dan secara halus perlawanan.

Di titik itulah kita menemukan satu kata yang jarang muncul dalam buku pelajaran rampogan.

Alun-Alun, Harimau, dan Diplomasi yang Disamarkan

Tiga abad silam, ketika hutan-hutan Jawa masih lebat dan jejak harimau bukan dongeng, keraton-keraton rutin menggelar pertunjukan duel antara harimau dan kerbau. Rampogan bukan sekadar hiburan; ia menjadi panggung simbolik yang memanggungkan tafsir.

Kisah paling menarik muncul pada masa Hamengku Buwana I, pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada 1783, hubungan Yogyakarta dan VOC memanas setelah seorang kapten Belanda terluka akibat tusukan perwira Sultan saat Grebeg Mulud. VOC mencurigai konspirasi. Sultan menyebut insiden itu kecelakaan dan bahkan mengirim santunan.

Ini Belum Selesai

Asal Usul Kebo Bule Kyai Slamet, Penolak Bala Karaton Surakarta

Politik di Balik Sinkretisme Jawa

Ketegangan belum reda. Karena itu, Sultan menggelar pesta besar untuk menyambut Residen van Rhijn. Di alun-alun selatan, ia menyiapkan tontonan tak biasa: pertarungan harimau melawan kerbau.

Konon, Sultan berkata kepada sang tamu, “Mari kita serahkan persoalan ini kepada harimau dan kerbau.” Kalimat itu terdengar sederhana. Namun sesungguhnya ia memuat pesan yang jauh lebih dalam.

Duel yang Tidak Pernah Sekadar Duel

Secara kasat mata, rampogan memperlihatkan dua hewan bertarung. Akan tetapi, orang Jawa tidak pernah berhenti pada permukaan.

Harimau melambangkan kekuatan agresif, liar, dan penuh ancaman. Sebaliknya, kerbau merepresentasikan rakyat agraris: kuat, sabar, dan tahan uji. Dalam arena, harimau biasanya menyerang lebih dulu. Ia mencakar, menggigit, dan menerkam tanpa jeda. Sementara itu, kerbau memilih bertahan. Ia menerima luka, tetapi tetap berdiri.

Seiring waktu, stamina harimau menurun. Ketika ia mulai terpojok dan kelelahan, pasukan bertombak masuk. Mereka memancingnya menyerang, lalu menusuknya bersama-sama. Momen inilah yang disebut “rampog.”

Di situlah simbol bekerja. Banyak orang menafsirkan harimau sebagai representasi kuasa kolonial, sedangkan kerbau mencerminkan masyarakat Jawa. Ketika harimau tumbang oleh tombak kolektif, publik membaca pesan tentang solidaritas dan kesabaran yang akhirnya menang.

Jadi, rampogan bukan perang terbuka. Ia justru menyampaikan kritik melalui pertunjukan. Dengan kata lain, ia berbicara dalam bahasa yang tidak langsung, tetapi tetap tajam.

Jelegong dan Jaringan Perlawanan Sunyi

Harimau yang tampil di alun-alun tidak muncul begitu saja. Para pemburu dari Jelegong di tepi Sungai Progo menangkapnya hidup-hidup. Masyarakat mengenal mereka sebagai “tuwa buru”pemuka pemburu yang menguasai teknik perangkap turun-temurun.

Sejarawan Peter Carey mencatat peran kelompok ini dalam dinamika politik Jawa. Bahkan ketika Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan pada 1825, jaringan sosial seperti para tuwa buru ikut memperkuat barisan.

Artinya, rampogan terhubung dengan struktur sosial nyata. Keraton menggelar simbol. Rakyat desa menyediakan tenaga. Kolonial menyaksikan pertunjukan. Semua pihak hadir dalam satu panggung yang sama, meski tidak semua memahami pesan yang sama.


Dari Arena Tanah ke Arena Digital

Kini, kita hidup di era yang berbeda. Namun pola simbolik itu terasa akrab.

Perlawanan hari ini jarang hadir dalam bentuk duel fisik. Ia menjelma meme, satire, atau potongan video singkat. Selain itu, algoritma media sosial menciptakan alun-alun baru yang lebih luas dari lapangan keraton. Setiap orang berdiri di sana, menonton dan menafsirkan.

Kadang kita melihat figur “harimau” yang tampak dominan dan agresif. Namun di sisi lain, ada “kerbau-kerbau” digital yang memilih bertahan, menguatkan satu sama lain, lalu bergerak bersama ketika momen tiba. Tombaknya bukan lagi besi, melainkan solidaritas.

Karena itu, rampogan terasa relevan. Ia mengajarkan bahwa simbol bisa menyampaikan kritik tanpa perlu berteriak. Ia menunjukkan bahwa budaya sering kali menyimpan strategi bertahan yang lebih canggih daripada sekadar konfrontasi langsung.

Tabooo Reflection: Simbol Tidak Pernah Mati

Harimau Jawa mungkin menghilang dari rimba. Namun simbolnya terus berjalan di antara kita.

Budaya bukan hanya warisan, melainkan juga alat. Ketika ruang politik menyempit, orang mencari celah melalui metafora. Ketika suara dibatasi, pesan bergerak lewat pertunjukan. Dan ketika kuasa tampak tak tersentuh, solidaritas diam-diam mengumpulkan tenaga.

Rampogan mengingatkan kita bahwa kesabaran bukan kelemahan. Justru di dalamnya tersimpan daya tahan. Harimau boleh terlihat gagah, tetapi waktu sering berpihak pada yang liat.

Mungkin itu sebabnya kabar tentang kemunculan Harimau Jawa terasa begitu menggugah. Ia tidak sekadar menghadirkan nostalgia ekologis. Ia membangkitkan ingatan tentang cara lama bertahan.

Dulu, orang-orang berkumpul di alun-alun dan membaca tanda-tanda di balik pertunjukan. Hari ini, kita berkumpul di timeline dan menafsirkan simbol-simbol baru.

Lalu pertanyaannya sederhana, sekaligus mengusik:
jika harimau benar-benar kembali, apakah kita masih mampu membaca maknanya?

Atau justru kitalah yang perlahan kehilangan bahasa simbol itu? @eko

Tags: BelandaJawaPerlawanan

Kamu Melewatkan Ini

Gowok: Pelajaran Pernikahan yang Kini Dianggap Dosa

Gowok: Pelajaran Pernikahan yang Kini Dianggap Dosa

by eko
Mei 16, 2026

Gowok adalah tradisi yang dulu dianggap sebagai bagian dari pendidikan kehidupan dan persiapan pernikahan, tetapi hari ini masyarakat lebih sering...

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

by teguh
Mei 5, 2026

Seorang aktor Indonesia berdiri tegap di sebuah frame, menggenggam celurit dengan tenang. Namun, ia tidak berada di ladang Madura. Bukan...

Suami Tunduk, Istri Melawan: Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Suami Tunduk, Istri Melawan: Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

by teguh
Mei 5, 2026

Di satu sisi, seorang suami memilih aman di bawah kekuasaan. Namun di sisi lain, sang istri justru mengangkat senjata. Ironisnya,...

Next Post
Ramadan di Balik Jeruji: Penahanan Maidi Diperpanjang 40 Hari

Ramadan di Balik Jeruji: Penahanan Maidi Diperpanjang 40 Hari

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id