Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Puasa Bukan Cuma Lapar: Healing untuk Usus Kamu

by eko
Mei 8, 2026
in Health, Life
A A
Home Life Health
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Health – Pernah nggak sih, kamu ngerasa Ramadan itu kayak reset button buat hidup? Timeline lebih adem, jam tidur agak chaos, tapi hati terasa lebih ringan. Nah, ternyata bukan cuma hati yang bisa healing, usus kamu juga bisa ikut merasakan manfaatnya asal nggak kalap pas buka puasa.

Yes, puasa bukan cuma soal nahan lapar dan haus. Buat sistem pencernaan, ini semacam cuti tahunan yang sudah lama ditunggu.

Puasa = Waktu Istirahat Buat Lambung

Dokter spesialis gastroenterologi dan hepatologi, Sheikh Anwar Abdullah, menjelaskan bahwa selama puasa tubuh memproduksi lebih sedikit asam lambung. Artinya, sistem pencernaan punya waktu untuk beristirahat dan meredakan peradangan ringan yang mungkin selama ini nggak kita sadari.

Secara logika, ketika kita nggak makan selama kurang lebih 12–14 jam, organ pencernaan nggak terus-terusan bekerja. Ini memberi kesempatan untuk masuk ke mode pemulihan. Dalam beberapa studi kesehatan, pola makan teratur dengan jeda waktu mirip konsep intermittent fasting juga dikaitkan dengan perbaikan metabolisme dan keseimbangan mikrobiota usus.

Namun, manfaat itu bisa langsung buyar kalau buka puasa berubah jadi ajang balas dendam.

Ini Belum Selesai

Persaudaraan sebagai Modal Sosial di Tengah Masyarakat Modern

Piagam Ada, Kursi Hilang: Siapa yang Kalah di Jalur Prestasi SMP Mojokerto?

Kenapa Perut Sering Drama Saat Ramadan?

Coba jujur. Berapa kali kamu bilang, “Ah cuma gorengan dua biji,” tapi ujung-ujungnya nambah lima? Atau langsung minum es kopi ukuran jumbo setelah seharian nggak minum?

Menurut dr. Sheikh Anwar, keluhan seperti kembung, mulas, dan sembelit selama Ramadan biasanya muncul karena makan berlebihan saat berbuka, konsumsi gorengan dan makanan pedas yang terlalu sering, serta kurangnya asupan air dan serat. Selain itu, perubahan pola tidur dan aktivitas fisik yang menurun ikut memperlambat kerja pencernaan.

Ketika tubuh yang seharian kosong tiba-tiba menerima makanan berat dalam jumlah besar, lambung kaget. Produksi asam meningkat drastis, sementara proses pencernaan belum siap bekerja maksimal. Jika setelah itu kamu langsung rebahan, risiko refluks asam lambung makin besar.

Di sisi lain, kurang minum membuat tubuh mengalami dehidrasi. Akibatnya, usus menyerap lebih banyak cairan dari sisa makanan dan memicu sembelit. Ramadan yang niatnya jadi momen detoks malah berubah jadi drama pencernaan.

Sahur & Berbuka yang Lebih Waras (dan Lebih Sadar)

Menariknya, pola makan saat Ramadan juga berkaitan erat dengan kondisi psikologis. Banyak orang menjadikan buka puasa sebagai momen pelampiasan emosional. Setelah seharian menahan diri, otak memberi sinyal bahwa ini saatnya mendapat “hadiah”. Sayangnya, hadiah itu sering berbentuk porsi berlebihan.

Padahal, reward nggak selalu harus berarti makan sebanyak mungkin.

Dr. Sheikh Anwar menyarankan sahur yang seimbang dengan kombinasi karbohidrat kompleks seperti oat atau beras merah agar energi stabil lebih lama. Protein dari telur, ikan, atau tahu membantu rasa kenyang bertahan, sementara buah dengan kandungan air tinggi seperti semangka dan mentimun mendukung hidrasi sekaligus serat untuk pencernaan.

Bagi individu dengan intoleransi laktosa, yoghurt dapat menjadi pilihan karena kandungan probiotiknya mendukung kesehatan mikrobiota usus. Sebaliknya, makanan pedas dan berminyak sebaiknya dibatasi karena dapat mengiritasi lambung dan memicu rasa mulas.

Saat berbuka, ia menyarankan untuk memulai dengan air putih dan beberapa kurma. Setelah itu, beri jeda sejenak misalnya dengan menunaikan salat Maghrib sebelum melanjutkan ke makan utama. Pola ini membantu tubuh beradaptasi secara bertahap dan memberi waktu bagi sinyal kenyang untuk muncul secara alami.

Selain itu, penting memberi jarak dua hingga tiga jam antara makan terakhir dan waktu tidur untuk mengurangi risiko refluks serta ketidaknyamanan lainnya. Untuk mencegah sembelit, konsumsi dua hingga 2,5 liter air dari waktu berbuka hingga sahur sangat dianjurkan. Minumlah secara bertahap, bukan sekaligus, dan batasi kafein karena bisa mempercepat dehidrasi.

Lebih dari Sekadar Soal Perut

Kalau ditarik lebih luas, tren hidup sehat saat Ramadan sebenarnya mencerminkan perubahan gaya hidup generasi sekarang. Gen Z dan milenial semakin sadar soal gut health, mindful eating, dan hubungan antara makanan dengan suasana hati.

Penelitian modern bahkan menyebut usus sebagai “otak kedua” karena produksi neurotransmitter seperti serotonin banyak terjadi di saluran cerna. Artinya, ketika pencernaan bermasalah, mood pun bisa ikut berantakan. Energi menurun, fokus buyar, dan ibadah terasa lebih berat.

Karena itu, menjaga pola makan selama Ramadan bukan cuma tentang menghindari kembung. Ini tentang menjaga stabilitas emosi, produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Apa Dampaknya Buat Kamu?

Coba refleksi sebentar.

Apakah kamu ingin Ramadan berakhir dengan badan terasa lebih ringan dan segar? Atau justru dengan perut sering begah dan berat badan naik tanpa sadar?

Puasa memberi peluang langka bagi tubuh untuk beristirahat dari pola makan impulsif. Namun, manfaatnya sangat bergantung pada pilihan kecil yang kamu buat setiap hari dari sahur sampai sebelum tidur.

Mungkin Ramadan kali ini bukan sekadar tentang menahan lapar. Mungkin ini tentang belajar mendengar sinyal tubuh, memahami batas diri, dan menyadari bahwa disiplin kecil bisa berdampak besar.

Karena pada akhirnya, usus yang sehat bikin pikiran lebih jernih. Dan pikiran yang jernih bikin hidup terasa lebih ringan.

Jadi, Ramadan ini kamu mau sekadar kenyang, atau benar-benar sehat? @eko

Tags: HealthKesehatanPuasaRamadan

Kamu Melewatkan Ini

Jika Tubuh Manusia Bisa Mengalahkan Virus HIV, Kenapa Kasus Seperti Ini Begitu Langka?

Jika Tubuh Manusia Bisa Mengalahkan Virus HIV, Kenapa Kasus Seperti Ini Begitu Langka?

by teguh
Juni 7, 2026

Selama lebih dari empat dekade, Virus HIV menjadi salah satu musuh terbesar dunia medis. Virus ini menginfeksi puluhan juta manusia,...

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

by teguh
Juni 7, 2026

Mangga, semangka, stroberi, hingga campuran buah tropis membuat vape semakin populer di kalangan anak muda. Banyak pengguna juga meyakini vape...

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

by teguh
Mei 26, 2026

Ada orang yang tidak bisa memulai pagi tanpa kopi. Ada juga yang merasa hidupnya “mati gaya” kalau belum menyeruput Americano...

Next Post
“Warung Pocong”: Kerja Gaji Besar Tanpa Syarat? Biasanya Ada Pocongnya

"Warung Pocong": Kerja Gaji Besar Tanpa Syarat? Biasanya Ada Pocongnya

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id