Tabooo.id: Regional – Warga Desa Golan, Kecamatan Sukorejo, gempar setelah menemukan Nur Aini, 54, tewas bersimbah darah di rumahnya pada Senin pagi. Polisi menduga korban menjadi korban pembunuhan.
Tetangga Pertama yang Menemukan Kecurigaan
Prayitno, tetangga korban, curiga karena sejak Minggu siang tidak bisa menghubungi Nur Aini melalui telepon. Selain itu, warga melihat pintu rumah korban terkunci dari luar, dan kiriman makanan yang mereka letakkan di depan rumah tidak diambil.
“Sejak kemarin siang ditelepon tidak bisa. Semalam pintu masih terkunci. Pagi tadi saya intip dari jendela pakai lampu ponsel, terlihat seperti ada tubuh tergeletak. Saya langsung lari memanggil tetangga,” ujar Prayitno.
Sekitar pukul 04.30 WIB, warga melihat lampu rumah korban masih menyala, tetapi tidak ada aktivitas di dalam rumah. Warga kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Sukorejo, yang berjarak sekitar 500 meter dari lokasi.
Polisi Temukan Korban Bersimbah Darah
Petugas membuka pintu rumah dan menemukan korban dalam posisi miring, tertutup sarung, dengan tubuh bersimbah darah yang sebagian sudah mengering. Polisi segera memasang garis polisi dan melakukan olah TKP, menarik perhatian warga sekitar.
Saudara korban, Irfan Rifai, mengaku datang setelah mendapat kabar dari warga. Ia menyebut bahwa korban tinggal bersama anaknya, tetapi hingga kini warga dan polisi belum mengetahui keberadaan anak korban.
“Darah banyak di bagian kepala, tetapi bagian bawah tidak terlihat berlumuran darah. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian,” ujar Irfan.
Polisi Masih Mendalami Kasus
Kasatreskrim Polres Ponorogo, AKP Imam Mujali, membenarkan adanya dugaan pembunuhan. Polisi kini mengumpulkan keterangan saksi dan mengamankan barang bukti di lokasi. Jenazah korban telah dibawa ke kamar mayat RSUD dr. Harjono Ponorogo untuk keperluan autopsi.
“Masih dalam penyelidikan. Dugaan sementara adalah pembunuhan. Informasi lengkap akan kami sampaikan setelah proses penyidikan,” jelas Imam.
Warga Desa Golan yang kini merasa was-was terhadap keamanan lingkungan, keluarga korban yang kehilangan anggota, serta masyarakat yang terguncang oleh kekerasan yang terjadi di ruang publik. Kasus ini memberi aparat polisi alasan untuk menunjukkan kesigapan mereka, sekaligus memberi media konten yang cepat viral.
Tragisnya, kasus ini mengingatkan bahwa di balik kesunyian rumah-rumah desa, bahaya bisa mengintai kapan saja. Dan bagi warga, terkadang “pintu terkunci” bukan hanya soal privasi tapi bisa menjadi tanda bahaya yang menunggu untuk dibuka. (red)




