Tabooo.id: Nasional – Keributan antara pedagang kaki lima (PKL) dan Satpol PP kembali pecah di Jakarta Selatan. Senin (06/04/2026), KK (39) melawan petugas saat penertiban di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan.
Bukan sekadar adu mulut, KK mengacungkan alat pemecah es batu ke arah petugas. Situasi langsung memanas.
Pertanyaannya ini cuma soal penertiban, atau konflik lama yang belum selesai?
Ancaman Terjadi, Kamera Langsung Viral
Insiden terjadi di depan Gedung Kementerian Kesehatan, Setiabudi. Video kejadian langsung menyebar setelah akun Instagram @jakarta.global.city mengunggahnya.
Dalam video, petugas melarang warga membeli dagangan KK. Larangan itu memicu emosi. KK lalu mengambil alat pemecah es dan mengarahkannya ke petugas.
“Izin komandan, sudah mengancam anggota di Jalan Rasuna Said. Sudah diimbau dengan baik-baik tapi nyerocos saja,” kata petugas dalam video, dikutip Rabu (08/04/2026).
Petugas segera merebut benda tersebut untuk mencegah hal yang lebih buruk.
Bukan Pertama Kali
Kasus ini bukan kejadian baru. Pada Februari 2026, KK sempat viral setelah menuding petugas Satpol PP melakukan pungutan liar.
Kepala Satpol PP Jakarta Selatan, Nanto Dwi Subekti, menjelaskan kronologi terbaru. Ia menyebut petugas sedang mengingatkan warga agar tidak membeli dagangan di trotoar.
“Sehingga membuat Ibu KK marah dan mengeluarkan alat tusukan pemecah es batu yang digunakan untuk mengancam petugas,” jelas Nanto, Rabu (08//04/2026).
Trotoar memang bukan tempat berdagang. Tapi bagi sebagian PKL, itu jadi ruang bertahan hidup.
Dua Versi Cerita yang Berlawanan
Kasatpol PP Setiabudi, Ahmad Lutfi, langsung datang ke lokasi. Ia mencoba meredakan situasi dan meminta KK meninggalkan area tersebut.
Ia juga menawarkan solusi dengan berkoordinasi ke dinas terkait agar KK tetap bisa berdagang secara legal.
Namun, KK menolak. Ia kembali menuduh adanya praktik “uang rokok” dari oknum petugas. Padahal sebelumnya, KK sudah mencabut tudingan tersebut.
“Saya mohon maaf atas video yang kemaren, bahwa tidak ada oknum Satpol PP yang meminta jatah harian, mingguan, dan bulanan,” kata KK dalam video klarifikasi Februari 2026.
Satpol PP menegaskan tidak ada pungli. Mereka menilai emosi KK memicu seluruh kejadian ini.
Pendekatan Humanis, Tapi Efektif?
Meski KK sempat mengancam, petugas tidak menahannya. Mereka memilih pendekatan persuasif.
“Kami imbau dan halau secara humanis tanpa penertiban,” tegas Nanto. Pendekatan ini terlihat tenang. Tapi konflik yang sama terus berulang.
Trotoar, Aturan, dan Realita Hidup
Di satu sisi, petugas harus menjaga fungsi trotoar. Di sisi lain, PKL seperti KK berjuang untuk bertahan hidup.
Masalahnya, saat emosi berubah jadi ancaman, situasi jadi sulit dikendalikan. Kota besar selalu punya dilema yang sama aturan atau empati?
Atau mungkin, masalahnya bukan di PKL atau petugas tapi di solusi yang belum pernah benar-benar selesai?. @teguh







