Tabooo.id: Deep – Di bawah langit mendung Madiun, Yusuf Prasetyo menatap motornya yang baru saja mati mendadak di depan SPBU Jalan Diponegoro. Tangannya gemetar memutar kunci kontak. Mesin menyala, lalu mati lagi. Napasnya berat, bercampur dengan aroma bensin yang aneh tajam tapi basah. “Kayak campur air,” gumamnya lirih.
Sore itu, Yusuf bukan satu-satunya. Di ujung jalan, seorang pemuda membuka tangki motornya, sementara dua tukang ojek menatap heran. Mereka tertawa getir, bukan karena lucu, tapi karena tak tahu harus marah ke siapa. Pertamina terlalu jauh untuk dijangkau, tapi dampaknya begitu dekat menetes dari setiap jeriken hijau yang seharusnya berisi bahan bakar, bukan kebohongan.
Dalam sepekan terakhir, kabar tentang “pertalite campur air” mengguncang Jawa Timur. Dimulai dari Tuban, Lamongan, Bojonegoro, hingga kini kecemasan itu menjalar ke Madiun. Warga mulai resah. Motor brebet, mogok, bahkan rusak setelah mengisi bahan bakar yang mestinya aman dan bersertifikat.
Di balik keresahan itu, ada fakta yang menampar logika publik: Pertamina adalah satu-satunya distributor BBM resmi di Indonesia. Monopoli yang seharusnya menjamin mutu, justru memperlebar jarak antara tanggung jawab dan kenyataan.
“Kami cuma mau kepastian, bukan kompensasi,” kata Yusuf kepada Tabooo.id. Di balik nada tenangnya, ada kekecewaan yang dalam seperti warga yang merasa diabaikan oleh sistem yang terlalu besar untuk peduli.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga memang membuka posko pengaduan di Tuban. Namun, seperti banyak kasus lain di negeri ini, posko sering kali lahir setelah kerusakan terjadi. Tidak ada mekanisme pencegahan yang benar-benar menyentuh realitas di lapangan.
Ironinya, masyarakat harus percaya pada bahan bakar yang mereka beli, tapi juga harus siap kecewa pada sistem yang menyalurkannya. Di satu sisi, Pertamina berbicara tentang transformasi energi dan tanggung jawab sosial; di sisi lain, masyarakat di daerah masih berhadapan dengan bensin yang bisa merusak kendaraan mereka sendiri.
Ilham, pelanggan lain di Madiun, mengaku khawatir. “Kalau sampai kejadian kayak di Tuban, bisa mati semua motor warga sini,” ujarnya. Ia tertawa hambar. Bukan karena lucu, tapi karena getirnya kenyataan bahwa di negeri penghasil minyak, rakyat takut beli bensin.
Paradoksnya begitu telanjang: masyarakat yang setia membeli BBM subsidi dengan sabar mengantre, justru harus waspada pada kualitasnya. Sementara perusahaan besar bisa bersembunyi di balik istilah teknis seperti “proses investigasi” atau “uji laboratorium.”
Di tengah monopoli, siapa yang bisa memeriksa si pemegang kuasa?
Tabooo melihat fenomena ini bukan sekadar kasus “motor mogok,” tapi refleksi lebih besar dari krisis kepercayaan publik terhadap institusi yang mestinya melindungi.
Masalahnya bukan hanya air di tangki, tapi sistem pengawasan yang bocor. Bukan cuma tentang bensin yang kotor, tapi juga tentang mentalitas manajemen publik yang terbiasa memadamkan api, bukan mencegah percikan.
Ketika warga meminta pengecekan SPBU, itu bukan bentuk protes itu jeritan logis dari konsumen yang sudah terlalu sering dituntut percaya tanpa pernah benar-benar dilindungi.
Mungkin sudah waktunya Pertamina berhenti berlindung di balik jargon “komitmen pelayanan,” dan mulai mendengar detak kegelisahan di lapangan.
BBM bukan sekadar komoditas; bagi jutaan rakyat, itu adalah urat nadi kehidupan dari pedagang keliling, sopir ojek, hingga petani yang menyalakan pompa airnya. Dan ketika nadi itu tercemar, yang mati bukan cuma mesin, tapi juga kepercayaan.
Malam di Madiun tiba dengan cepat. Di pinggir jalan, lampu motor-motor yang masih hidup menembus kabut bensin tipis. Yusuf menatap tangki motornya lagi, kali ini dengan tatapan kosong seperti melihat cermin dari sesuatu yang lebih besar: sistem yang berderak tapi tak benar-benar berjalan.
Air di dalam pertalite bisa disaring. Tapi bagaimana dengan air yang menggenangi kesadaran kita air dari ketidakjujuran, kelalaian, dan kebiasaan menunda tanggung jawab?
Mungkin, yang perlu diperbaiki hari ini bukan cuma kualitas bensin, tapi cara kita mempercayai negara dan menuntutnya untuk tidak sekadar menyala, tapi juga jujur. (red)




