Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perang Iran dan Ancaman Sunyi di Dapur Rakyat Indonesia

by dimas
April 1, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Deep – Bayangkan satu pagi sederhana kompor di rumah tidak menyala. Bukan karena lupa isi gas, tapi karena elpiji memang tidak tersedia. Ibu-ibu berhenti memasak. Pedagang gorengan menutup lapak. Warung makan gelap lebih cepat dari biasanya.

Kita sering mengira perang itu jauh di peta, di layar televisi, atau di timeline media sosial. Namun kali ini, konflik di Timur Tengah perlahan merayap masuk ke dapur kita sendiri.

Serangan sepihak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang sudah berlangsung sebulan membuktikan satu hal perang tidak pernah sesederhana klaim politik. Presiden Donald Trump sempat menyebut konflik ini akan cepat selesai. Kenyataannya, Iran melawan. Dan ketika perang berlarut, dunia ikut menanggung akibatnya.

Ketika Minyak Berhenti, Dunia Ikut Tersendat

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan yang kini terguncang. Ketika jalur itu terganggu, harga minyak langsung melonjak. Saat ini, harga sudah menembus 100 dolar AS per barel.

Angka ini bukan sekadar statistik ekonomi. Angka ini menjalar ke mana-mana. Harga bahan bakar naik. Ongkos transportasi ikut terdongkrak. Pada akhirnya, harga kebutuhan pokok ikut bergerak naik.

Ini Belum Selesai

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

Bahkan di Amerika Serikat, harga bensin mencapai 8 dolar AS per gallon. Warga di sana mulai protes. Jika negara sebesar itu saja goyah, bagaimana dengan negara seperti Indonesia yang masih bergantung pada impor energi?

Di titik ini, inflasi bukan lagi ancaman teoritis. Ia sudah mulai terasa nyata.

Dari Energi ke Pangan: Efek Domino yang Tak Terhindarkan

Kenaikan harga energi tidak berhenti di sektor transportasi. Dampaknya merambat ke sektor lain, terutama pangan.

Produksi pupuk sangat bergantung pada energi. Ketika harga energi melonjak, biaya produksi pupuk ikut naik. Akibatnya, petani menghadapi biaya tanam yang lebih mahal. Jika kondisi ini berlanjut, produksi pangan bisa menurun.

Di sinilah ironi besar muncul. Perang yang terjadi ribuan kilometer dari Indonesia berpotensi memicu kelaparan di tempat yang sama sekali tidak terlibat konflik.

International Energy Agency bahkan sudah mengingatkan bahwa krisis energi ini tidak akan selesai cepat. Sekalipun perang berhenti besok, dunia tetap butuh waktu setidaknya enam bulan untuk memulihkan fasilitas minyak dan gas yang rusak.

Artinya, dampaknya akan panjang. Dan kita belum sepenuhnya siap.

Indonesia di Tengah Tekanan: Antara Realisme dan Ambisi

Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika kita melihat kondisi dalam negeri. Indonesia saat ini merupakan net importer minyak. Setiap hari, kita membutuhkan sekitar 1 juta barel untuk menjaga roda ekonomi tetap berputar.

Jika harga minyak bertahan di angka 100 dolar AS per barel, kita harus mengeluarkan sekitar 100 juta dolar AS per hari. Dalam setahun, angka itu bisa mencapai 36,5 miliar dolar AS.

Namun, persoalannya bukan hanya soal uang. Bahkan jika dana tersedia, pasokan belum tentu ada. Elpiji, misalnya, sebagian besar masih kita impor dari Qatar. Jika Selat Hormuz terganggu, distribusi bisa macet total.

Memang, pemerintah mencoba mencari alternatif. Presiden Prabowo Subianto telah mengikat kerja sama dengan Amerika Serikat untuk pasokan energi, termasuk elpiji. Namun, solusi ini juga tidak tanpa masalah. Waktu pengiriman mencapai 43 hari. Biaya logistik pun jauh lebih mahal.

Dengan kata lain, kita hanya memindahkan risiko, bukan menghilangkannya.

Siapa yang Paling Terdampak?

Di atas kertas, ini terlihat seperti persoalan makroekonomi. Namun, dampaknya justru paling terasa di level bawah.

Ibu rumah tangga, pedagang kaki lima, dan pelaku usaha kecil menjadi kelompok paling rentan. Ketika elpiji langka, mereka kehilangan alat produksi utama. Ketika harga bahan pokok naik, margin keuntungan mereka menyusut bahkan bisa hilang.

Dalam situasi seperti ini, pilihan mereka sangat terbatas menaikkan harga (dan kehilangan pelanggan) atau tetap bertahan (dan merugi).

Lebih jauh lagi, jika krisis berlanjut, ancaman pengangguran akan meningkat. Dunia usaha bisa menahan ekspansi, bahkan melakukan efisiensi. Dan ketika pekerjaan hilang, masalah ekonomi bisa berubah menjadi masalah sosial.

Krisis yang Bisa Berlapis

Sejarah sudah memberi pelajaran. Krisis ekonomi jarang berdiri sendiri. Ia sering memicu krisis sosial, lalu merembet menjadi krisis politik.

Indonesia pernah mengalami itu pada 1998. Ketika harga melambung dan daya beli jatuh, kemarahan publik meningkat. Ketika kemarahan itu tidak terkelola, stabilitas ikut goyah.

Kini, bayang-bayang itu kembali muncul, meski dalam bentuk berbeda.

Karena itu, banyak pihak mendorong langkah realistis. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa dalam kondisi seperti ini, defisit anggaran sulit ditekan di bawah 3 persen tanpa penyesuaian.

Pilihan yang tersedia pun tidak banyak: melakukan penghematan, menurunkan target pertumbuhan, dan menjaga stabilitas.

Langkah ini mungkin tidak populer. Namun, dalam situasi krisis, popularitas bukan prioritas.

Antara Kepentingan Negara dan Kepentingan Rakyat

Di tengah tekanan ini, muncul dilema lain. Pemerintah perlu menjaga kepercayaan investor. Jika defisit melebar, risiko penurunan peringkat investasi bisa terjadi.

Namun di sisi lain, pemerintah juga harus melindungi masyarakat dari dampak langsung krisis.

Di sinilah keseimbangan diuji. Terlalu fokus pada stabilitas makro bisa mengorbankan rakyat kecil. Sebaliknya, terlalu fokus pada bantuan sosial bisa mengganggu kredibilitas fiskal.

Tidak ada pilihan yang benar-benar nyaman.

Penutup

Krisis ini mengajarkan satu hal dunia yang saling terhubung membuat jarak tidak lagi relevan. Perang di satu titik bisa mengguncang dapur di titik lain.

Dan di tengah semua itu, pertanyaan yang tersisa bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah dalam perang.

Pertanyaannya lebih sederhana, tapi jauh lebih dekat ketika kompor tidak menyala dan harga melonjak, apakah negara benar-benar siap menjaga rakyatnya?

Atau, jangan-jangan kita baru sadar krisis itu nyata ketika nasi di piring mulai berkurang? @dimas

Tags: DampakEkonomi IndonesiaEnergiGeopolitikGlobalHargaInflasiKetahanan PanganKrisis GlobalminyakNasionalperangrakyatTerdampak

Kamu Melewatkan Ini

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Prabowo meminta RUU Perampasan Aset dipercepat. DPR masih menjaring masukan publik. Tantangannya bukan cuma pengesahan, tetapi memastikan aset hasil kejahatan...

Pabrik China Tetap Ngebut, Belanja Konsumen Melambat

Pabrik China Tetap Ngebut, Belanja Konsumen Melambat

by Tabooo
Agustus 17, 2026

Pabrik China masih bergerak cepat, tetapi konsumennya mulai menahan belanja. Data Juli memperlihatkan jurang produksi dan permintaan makin terbuka.

Next Post
Di Balik Label “Gila”: Cerita yang Tak Pernah Kita Dengarkan

Di Balik Label “Gila”: Cerita yang Tak Pernah Kita Dengarkan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id