Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pengamen vs Modernisasi: Kisah Sisi Lain Malioboro

by dimas
Desember 24, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah jalan-jalan ke Malioboro, lalu tiba-tiba merasa seperti masuk mall raksasa di udara terbuka? Yap, itulah wajah Malioboro sekarang rapi, Instagramable, dan dipenuhi lampu Natal yang memikat wisatawan. Namun, tunggu dulu siapa yang membayar mahalnya harga “rapi” itu? Pedagang kaki lima dulu tersingkir, dan kini giliran pengamen. Memang, relokasi dan penataan terdengar manis di brosur Pemkot, tetapi nyatanya itu adalah bahasa politis untuk menyingkirkan siapa saja yang tidak sejalan dengan “visi modernisasi kota”.

Modernisasi selalu menyisakan korban. Di Malioboro, korban itu adalah para pengamen, seniman jalanan, bahkan waria yang hanya ingin mencari nafkah. Sementara Pemkot punya visi Malioboro cantik dan wangi, pertanyaannya siapa yang menimbang nilai seni, sejarah, dan budaya yang organik tumbuh di jalanan ini?

Sejarah yang Terabaikan

Dulu, pada era 1970-1980-an, Malioboro adalah laboratorium seni hidup. Seniman muda, penyair, dan musisi jalanan belajar melalui nglithih begadang, berdiskusi, dan mengasah rasa serta kepekaan terhadap manusia dan alam. Dari sinilah lahir nama-nama besar: WS Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Cak Nun, Ebiet G Ade, hingga Umar Kayam. Mereka memulai perjalanan kreatifnya bukan di panggung formal, tetapi di jalanan di Malioboro yang riuh, bebas, dan hidup.

Kini, forum ilmiah, pertunjukan spontan, dan kreativitas organik itu nyaris lenyap. Alih-alih menghargai akar budaya, Pemkot menata ulang jalanan demi kepentingan kapital dan pariwisata. Pengamen harus tampil “istimewa” dengan alat musik modern dan penampilan rapi. Kata “istimewa” itu ambigu istimewa menurut siapa? Wisatawan? Pemkot? Atau standar estetika yang justru mengabaikan esensi seni itu sendiri?

Pengamen: Lebih dari Sekadar Hiburan

Ambil contoh Wik-Wik Ambyar, seorang waria dengan alat musik seadanya dan suara pas-pasan. Ia harus menanggung hidup ibunya yang renta. Menurut audisi Pemkot, dia mungkin tidak cukup “cantik” untuk Malioboro versi baru. Namun, siapa yang peduli jika nada sumbangnya itu adalah satu-satunya mata pencaharian? Atau jika suara pas-pasannya justru menyimpan ekspresi, cerita, dan keberanian hidup yang otentik?

Ini Belum Selesai

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mengapa Publik Makin Skeptis terhadap Janji Pejabat?

Mengamen bukan sekadar soal materi. Aktivitas ini adalah pencarian identitas, gaya hidup, bahkan lelono bertualang dalam kehidupan. Menghapus mereka dari jalanan berarti menyingkirkan cerita, kreativitas, dan pluralitas yang membuat Malioboro lebih dari sekadar tempat belanja.

Kota untuk Semua atau Hanya untuk Modal?

Pemkot ingin Malioboro cantik, wangi, dan Instagramable. Namun, di balik itu, tersimpan kepentingan ekonomi yang jelas melindungi bisnis besar fashion dan kuliner, sekaligus mengamankan kawasan bagi kelas tertentu. Sementara itu, pengamen, seniman jalanan, dan kelompok rentan lain terpinggirkan. Kota bukan hanya untuk modal. Kota juga untuk manusia yang hidup di dalamnya, termasuk mereka yang tidak masuk definisi “normal” versi pemerintah.

Seharusnya, pertumbuhan kota bisa inklusif. Pemerintah dan pengamen dapat duduk bersama membahas lokasi panggung, jam pertunjukan, dan cara menghibur tanpa kehilangan esensi seni. Alih-alih menormalisasi, mari beri ruang bagi yang berbeda karena keberagaman itulah yang membuat kota hidup.

Refleksi Tabooo: Biarkan Nada Sumbang Tetap Ada

Kalau kamu bertanya, “Mengapa Malioboro harus berubah?” Jawabannya sederhana modernisasi memang penting, tetapi jangan sampai menelan sisi manusiawi kota. Nada sumbang, alat musik seadanya, dan pengamen-pengamen kecil adalah denyut nadi Malioboro. Mereka menandai sejarah, budaya, dan kreativitas yang otentik.

Sebelum kita memuji Malioboro yang cantik dan rapi, mari lihat sisi lain yang terpinggirkan. Biarkan Wik-Wik Ambyar tetap bernyanyi. Biarkan suara sumbang tetap terdengar. Sebab kota yang adil bukan kota yang hanya menyenangkan mata turis, tetapi juga hati warga yang hidup di dalamnya.

Lalu, kamu di kubu mana Malioboro versi “cantik tapi steril” atau Malioboro yang hidup dan beragam? @dimas

Tags: JalananModernisasiseni

Kamu Melewatkan Ini

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

JABFest 2026: Seni Melawan Pendangkalan, Buku Menjaga Ingatan

by dimas
Oktober 13, 2026

JABFest 2026 di Yogyakarta menghadirkan seni, buku, film, dan diskusi untuk melawan pendangkalan berpikir serta menjaga ingatan kolektif. Tabooo.id: Yogyakarta...

Bantul Creative Expo 2026 Raup Rp3,8 Miliar, Apa Dampaknya bagi Bantul?

Bantul Creative Expo 2026 Raup Rp3,8 Miliar, Apa Dampaknya bagi Bantul?

by Anisa
Agustus 11, 2026

Bantul Creative Expo 2026 menghadirkan keramaian selama sembilan hari di Stadion Sultan Agung. Gelaran ini menarik lebih dari 100 ribu...

Rewang: Tradisi Lama atau Kebersamaan yang Kita Tinggalkan?

Rewang: Tradisi Lama atau Kebersamaan yang Kita Tinggalkan?

by eko
April 17, 2026

Tabooo.id: Talk - Kadang, yang menghangatkan hajatan bukan tenda besar atau katering mahal. Justru suara pisau beradu dengan talenan, obrolan...

Next Post
Natal 2025: Kebersamaan, Solidaritas, dan Toleransi yang Semakin Nyata

Natal 2025: Kebersamaan, Solidaritas, dan Toleransi yang Semakin Nyata

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id