Pagar Pakuwon Mall Solo Baru viral di media sosial. Manajemen menegaskan pemasangan pagar bertujuan meningkatkan keselamatan pengunjung, bukan mengantisipasi kerusuhan.
Tabooo.id: Sukoharjo – Pagar hijau yang kini mengelilingi kawasan Pakuwon Mall Solo Baru memicu beragam spekulasi di media sosial. Sebagian warganet mengaitkannya dengan antisipasi kerusuhan hingga aksi penjarahan. Namun, manajemen Pakuwon Mall membantah anggapan tersebut. Mereka menegaskan pemasangan pagar hanya bertujuan meningkatkan keselamatan pengunjung dan menata akses keluar masuk kawasan.
Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi, menjelaskan konsep awal Pakuwon Mall memang mengusung kawasan terbuka. Selama ini, pejalan kaki maupun kendaraan dapat keluar masuk dari berbagai sisi. Seiring meningkatnya aktivitas di sekitar mal, perusahaan kemudian mengevaluasi pola akses agar mobilitas pengunjung berlangsung lebih aman dan tertib.
“Awalnya kita berpikir itu karena Pakuwon terbuka lebar. Keamanan penyeberang jalan menjadi salah satu faktor utama dilakukan pemagaran Pakuwon Mall,” kata Sutandi, Sabtu (1/8/2026).
Ia menegaskan perusahaan tidak pernah menerima informasi maupun dasar yang mengarah pada potensi kerusuhan. Karena itu, manajemen sama sekali tidak mengaitkan pembangunan pagar dengan isu keamanan yang ramai beredar di ruang digital.
“Yang jelas, Pakuwon Mall bukan peramal. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi,” ujarnya.
Penataan Kawasan Sudah Lama Menjadi Standar
Sutandi menjelaskan Pakuwon Group telah menerapkan konsep pemagaran di sejumlah pusat perbelanjaannya sejak lama. Karena itu, pemasangan pagar di Solo Baru bukanlah kebijakan baru maupun respons terhadap isu yang berkembang belakangan ini.
Royal Plaza Surabaya, misalnya, telah menggunakan pagar sejak mulai beroperasi pada 2006. Setelah hampir dua dekade, manajemen mengganti pagar lama karena material besi hollow mulai berkarat akibat paparan hujan dan panas.
“Royal Plaza sudah dipagari sejak tahun 2006. Sudah hampir 20 tahun berdiri. Pagarnya menggunakan besi hollow dan karena terkena hujan serta panas akhirnya mulai berkarat,” jelasnya.
Pakuwon Group juga menerapkan konsep serupa di Blok M Plaza Jakarta. Bahkan, perusahaan menjadikan desain pagar di pusat perbelanjaan tersebut sebagai acuan untuk membangun identitas visual kawasan mal miliknya.
“Sebelumnya juga Blok M Plaza Jakarta sudah dipagari keliling. Justru prototipe pagar Pakuwon Mall mencontoh Blok M Plaza. Inilah yang menjadi identitas kita sekarang,” ungkap Sutandi.
Menjawab Spekulasi Publik
Ramainya pembicaraan di media sosial menunjukkan bagaimana perubahan fisik di ruang publik dapat memunculkan berbagai tafsir ketika informasi resmi belum muncul. Foto pagar hijau yang beredar luas memancing asumsi bahwa pengelola tengah bersiap menghadapi situasi darurat.
Namun, manajemen menegaskan fakta yang berbeda. Perusahaan hanya memperbarui fasilitas kawasan dan memperkuat sistem keselamatan pengunjung. Langkah itu menjadi bagian dari penataan jangka panjang yang telah lebih dulu diterapkan di sejumlah mal Pakuwon di kota lain.
“Kita harus update dan memperbaiki itu saja, simpel. Kita berharap semua baik-baik saja,” pungkas Sutandi.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan infrastruktur tidak selalu berkaitan dengan ancaman keamanan. Di era media sosial, sebuah pagar dapat melahirkan berbagai narasi dalam hitungan jam. Karena itu, publik perlu menunggu penjelasan resmi sebelum menyimpulkan alasan di balik sebuah kebijakan. @dimas








