Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Otak: “Gue Capek.” Kita: “Scroll Lagi Aja.”

by Waras
Agustus 14, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Kita kerap mengira sedang memberi otak waktu untuk berhenti dari hiruk-pikuk kesibukan harian. Padahal, sepanjang hari perhatian terus berpindah dari satu stimulus ke stimulus berikutnya. Begitu lelah datang, tangan pun refleks mencari ponsel. Satu video dibuka untuk “istirahat”, lalu berlanjut ke video berikutnya, hingga tanpa sadar kita terus menambah rangsangan saat yang sebenarnya dicari adalah jeda.

Tabooo.id: Capek kerja, buka TikTok.

Pusing mikirin hidup, buka Instagram.

Bosan lima menit, tangan sudah mencari ponsel.

Kita sering menyebut kegiatan tersebut dengan ‘istirahat’. Padahal kepala masih menerima informasi, gambar, suara, opini, iklan, notifikasi, dan cerita orang lain tanpa jeda.

Yang berhenti cuma pekerjaan. Tapi perhatian kita, belum.

Ini Belum Selesai

Pengungsi Gempa NTT Makan Nasi Campur Kopi, Negara ke Mana?

Listyo Sigit Mau Pensiun, Tapi Siap Demo jika Desk Buruh Mandek?

“Satu Video Lagi”

Ada satu kebohongan kecil yang sering kita katakan kepada diri sendiri: “Cuma lima menit.”

Lalu satu video selesai. Tapi video berikutnya muncul.

Kemudian muncul sesuatu yang menarik. Kita berhenti sebentar untuk membaca komentar. Dari sana pindah ke akun lain. Tiba-tiba waktu sudah berjalan jauh lebih lama dari yang direncanakan.

Tidak ada garis finish dalam scrolling.

Akan tetapi buku punya halaman terakhir. Film punya credit title. Bahkan satu episode punya durasi yang jelas.

Timeline tidak.

Ia selalu punya sesuatu untuk diberikan. Karena itu, aktivitas yang awalnya terasa seperti jeda bisa berubah menjadi pekerjaan baru bagi perhatian.

Kita tidak sedang melakukan sesuatu yang berat. Namun kita hanya terus memilih apa yang datang berikutnya.

Mencari Tenang dengan Menambah Stimulus?

Di sinilah ironi sebenarnya berada.

Saat lelah, kita mencari sesuatu untuk mengalihkan pikiran.

Dilanda bosan, kita mencari sesuatu untuk mengisi kepala.

Stres datang, kita mencari timeline untuk melarikan diri sebentar.

Masalahnya, pelarian itu tetap membawa sesuatu masuk.

Informasi baru, suara baru, pendapat baru, masalah orang lain, perbandingan hidup, hingga headline baru.

Belum selesai memproses satu hal, sudah datang hal berikutnya.

Kita mencoba mengurangi rasa penuh dengan memasukkan lebih banyak hal.

Aneh?

Tapi justru itu sangat masuk akal jika dilihat dari kebiasaan kita sehari-hari.

Mungkin Otak Tidak Butuh Hiburan Lagi

Selama ini kita sering mengira lelah berarti butuh hiburan.

Maka hiburan harus dibuat semakin menarik, nonton video harus lebih cepat, melihat konten harus lebih lucu, membaca cerita harus lebih mengejutkan.

Scroll harus terus bergerak. Padahal ada kemungkinan yang lebih sederhana.

Saat Kepala Kita Butuh Jeda.

Aktivitas terstruktur seperti mewarnai memberi perhatian satu tugas dengan batas yang jelas. Dimana ada bidang, garis, dan pilihan warna. Lalu selesai.

Tidak ada algoritma yang menyodorkan pilihan berikutnya, thumbnail yang memancing rasa penasaran, dan kebutuhan untuk menentukan apa yang harus dikonsumsi setelah satu bagian berakhir.

Ruangnya kecil.

Justru itu yang membuatnya menarik.

Nikmatnya Melakukan Sesuatu yang Punya Batas

Kita hidup dalam sistem yang membuat pilihan terasa tidak pernah habis.

Mau makan apa, pilihannya puluhan.

Ingin menonton apa, ada ribuan pilihan.

Mau mendengar musik apa, jutaan.

Mau membaca apa, tidak akan selesai seumur hidup.

Bahkan ketika ingin santai, kita masih harus menentukan bentuk hiburan.

Aktivitas terstruktur menawarkan kebalikan dari itu. Kamu tidak perlu menciptakan semuanya dari nol.

Satu halaman sudah tersedia. Batasnya sudah ada. Dan tugasnya sederhana.

Kebebasan tetap ada, tetapi tidak tanpa arah.

Di tengah hari yang dipenuhi keputusan, struktur kecil seperti itu bisa terasa melegakan.

Perpindahan yang Bikin Lelah

Bayangkan satu malam biasa.

Ketika kamu selesai bekerja. Lalu buka ponsel, lanjut lihat pesan. Pindah ke TikTok, lanjut nonton video.

Kemudian muncul notifikasi. Buka WhatsApp. Setelah itu kembali ke TikTok. Melihat komentar.

Lalu pindah ke Instagram. Membaca berita. Kemudian kembali lagi ke video pendek.

Secara fisik, kamu tidak pergi ke mana-mana. Tetapi perhatianmu sudah berpindah berkali-kali.

Itulah bagian yang sering tidak terasa.

Yang melelahkan bukan selalu aktivitasnya, tetapi perhatian yang terus berpindah.

Ketika satu hal belum selesai, perhatian sudah ditarik ke hal lain.

Lalu hal lain lagi. Dan lagi.

Ketika Repetisi Jadi Istirahat

Ada alasan aktivitas sederhana terasa berbeda.

Gerakan yang berulang tidak terus meminta kejutan. Seperti menggeser pensil, memilih warna, mengisi bidang, mengulanginya lagi.

Tidak spektakuler. Tidak viral. Bahkan tidak menghasilkan notifikasi.

Tetapi perhatian punya kesempatan untuk menetap.

Materi tentang aktivitas mewarnai terstruktur juga menunjukkan bahwa pola yang memiliki batas dapat mengurangi tuntutan keputusan dibanding ruang kosong yang memaksa seseorang menciptakan semuanya dari awal.

Ironinya, sesuatu yang terlihat membosankan justru bisa menjadi bentuk istirahat dari dunia yang terlalu ramai.

“Berikutnya”

Mungkin ini masalah yang lebih besar dari sekadar scrolling.

Kita sudah terbiasa dengan konsep berikutnya.

Video berikutnya. Episode berikutnya. Postingan berikutnya. Berita berikutnya. Notifikasi berikutnya.

Sampai berhenti terasa seperti kehilangan sesuatu. Padahal tidak perlu selalu mencari sesuatu.

Kadang kita hanya perlu membiarkan satu hal selesai.

Satu halaman. Sebuah lagu. Secangkir kopi. Satu percakapan.

Tanpa buru-buru mencari penggantinya.

Berhenti Itu Keputusan

Menyalahkan ponsel terlalu mudah. Karena teknologi bukan satu-satunya penyebab.

Hiburan juga bukan musuh.

Kita patut memperhatikan pola kita sendiri ketika Lelah.

Apakah kita benar-benar beristirahat? Atau hanya mengganti pekerjaan dengan konsumsi tanpa akhir?

Karena ada perbedaan besar antara berhenti bekerja dan berhenti menerima rangsangan.

Yang pertama bisa dilakukan dengan rebahan. Yang kedua membutuhkan keputusan.

Dan mungkin, setelah seharian hidup dikelilingi pilihan, keputusan paling sederhana justru menjadi yang paling sulit yaitu berhenti.

Bukan karena sudah tidak ada yang menarik. Tetapi karena untuk sekali ini, kita tidak perlu melihat apa yang datang setelahnya.

Mungkin kita bukan kekurangan hiburan. Kita cuma terlalu penuh untuk benar-benar beristirahat. @waras

Tags: Budaya Digitalkebiasaan digitalkesehatan mental gen zperhatianscrolling

Kamu Melewatkan Ini

Ad-Duha dan Miras: Ketika yang Sakral Jadi Tontonan

Ad-Duha dan Miras: Ketika yang Sakral Jadi Tontonan

by dimas
Agustus 13, 2026

Ad-Duha dan Miras bertemu dalam sebuah challenge di The Sounds Project. Ketika ayat suci berubah menjadi tontonan, di mana batas...

Paradoks Kebebasan: Kenapa Otak Justru Butuh Batas?

Paradoks Kebebasan: Kenapa Otak Justru Butuh Batas?

by Waras
Agustus 6, 2026

Kita sering mengira semakin banyak pilihan berarti semakin bebas. Namun, ketika semua kemungkinan terbuka, otak justru harus bekerja lebih keras...

Ketika Netizen Lebih Gercep dari Institusi Negara

Ketika Netizen Lebih Gercep dari Institusi Negara

by Waras
Juni 2, 2026

Hari Pancasila tahun ini malah memunculkan pertanyaan yang agak ironis:kenapa netizen justru lebih cepat sadar soal kesalahan simbol negara dibanding...

Next Post
Sidang Tahunan MPR 2026 Dibuka, Capaian Prabowo Akan Diuji

Sidang Tahunan MPR 2026 Dibuka, Capaian Prabowo Akan Diuji

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id