Tabooo.id: Deep – Di era ketika “kejantanan” bisa kamu beli dengan cicilan tiga bulan dan filter kamera, banyak laki-laki modern justru tersesat di jalur yang mereka bangun sendiri. Mereka mengejar label jantan dengan penuh ambisi; asal tampak garang di feed, asal otot muncul di gym, dan asal punya sedikit gengsi untuk dipamerkan. Namun, semakin keras mereka memburu citra itu, semakin jauh mereka melangkah dari inti laki-laki itu sendiri.
Selain itu, media sosial ikut menyediakan panggung ideal untuk pertunjukan tersebut. Kejantanan kini berubah menjadi paket visual: lengan berotot, baju mahal, dan parfum yang harganya kadang lebih tinggi dari gaji bulanan. Semua tampil rapi demi satu hal: validasi. Yang penting terlihat kuat, meski hatinya rapuh seperti nota parkir yang tersiram hujan.
Sindiran “sibuk cari jantan, lupa jadi laki-laki” muncul dari kegelisahan itu. Banyak pria yang sangat vokal ketika membahas penampilan, tetapi mereka hilang ketika harus menunjukkan integritas. Mereka berani memamerkan dada, namun ciut ketika harus bertanggung jawab. Mereka gagah saat selfie, tapi kemudian goyah ketika diminta menepati janji sekecil apa pun.
Gagahnya palsu, rapuhnya nyata—dan masyarakat bisa melihatnya dengan jelas.
Sementara itu, toxic masculinity ikut mengisi ruang besar dalam dilema ini. Laki-laki didorong untuk tampak tangguh, tetapi tidak ada yang benar-benar mengajari mereka cara menghadapi rasa takut, kecewa, atau kegagalan. Akhirnya, banyak dari mereka memilih menjadi beban emosional daripada penopang bagi orang-orang terdekatnya.
Padahal, laki-laki sejati tidak lahir dari volume suara, harga jam tangan, atau kerasnya pukulan. Laki-laki sejati tampil dari keberanian memikul tanggung jawab, dari kejujuran yang ia jaga, dan dari konsistensi yang ia tunjukkan ketika hidup mulai tidak nyaman.
Sederhananya:
Citra bisa kamu poles. Kejantanan bisa kamu palsukan. Namun, kualitas laki-laki hanya bisa kamu buktikan.
Pada akhirnya, topeng macho tetaplah topeng. Dan topeng selalu retak ketika hidup mulai menagih. @jeje





