Tabooo: Sport – Apakah kita benar-benar marah karena Indonesia gagal ke Piala Dunia, atau karena kita lelah berharap pada mimpi yang tak pernah realistis?
Kegagalan yang Bukan Sekadar Nama
Di media sosial, tagar #KluivertOut bergema lebih nyaring daripada sorak tribun. Patrick Kluivert, mantan bintang Eropa yang datang dengan aura harapan, kini menunggu vonis di ruang rapat Exco PSSI. Setiap kali tim nasional gagal, kita tahu ujungnya ke mana: cari kambing hitam, pecat pelatih, dan mulai lagi dari awal.
Namun, kegagalan ini bukan milik Kluivert seorang. Ia hanya wajah paling mudah diserang, simbol dari sistem yang senang mengganti kepala tanpa pernah menyembuhkan tubuh. Dua kekalahan di babak kualifikasi hanyalah puncak dari gunung es panjang bernama tata kelola yang berantakan.
Evaluasi yang Terjebak dalam Ritual
Sumardji, manajer tim sekaligus Ketua BTN, berjanji akan “menyampaikan apa adanya” di rapat Exco. Janji itu terdengar gagah, tetapi juga akrab di telinga. Kita sudah terlalu sering mendengar kalimat serupa—transparansi yang berakhir dalam ruang tertutup, laporan tebal, dan keputusan yang tak pernah menyentuh akar persoalan.
Visi sepak bola nasional berganti arah mengikuti musim, tekanan publik, dan kalkulasi politik. Pembinaan usia muda tertinggal, sementara jabatan di federasi tetap jadi simbol gengsi, bukan tanggung jawab.
Masalah Kita: Mental Kolektif yang Tak Mau Sembuh
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Kluivert pantas bertahan, tapi apakah kita pantas terus berharap pada sistem yang sama? Sepak bola Indonesia terlalu sering mengandalkan figur penyelamat—pelatih asing, pemain naturalisasi, atau ketua federasi baru yang datang dengan slogan reformasi.
Padahal, kemenangan tidak lahir dari pergantian nama. Ia tumbuh dari keberanian memperbaiki akar: struktur, pembinaan, dan mentalitas.
Mungkin sudah saatnya kita bertanya: siapa sebenarnya yang harus dipecat?




