Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mitos Kentut Setelah Operasi: Tradisi Medis yang Tak Mau Mati

by dimas
Desember 8, 2025
in Check
A A
Home Check
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Check – Di banyak rumah sakit Indonesia, hidup sebuah tradisi yang terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi itu tidak muncul dari buku teks medis, namun tetap bertahan di lorong IGD, ruang pemulihan, hingga kursi ruang tunggu keluarga. Aturannya sederhana pasien tidak boleh makan sebelum kentut. Keyakinan itu terdengar mantap, seolah kentut punya status setara dengan tanda vital.

Akibatnya, pasien yang sudah sadar dan lapar tetap harus menunggu momen yang tidak bisa diprediksi. Keluarga ikut bersiaga. Ada yang menempelkan telinga ke perut pasien, ada yang memandang dengan penuh harap, dan ada juga yang bertanya setiap lima menit, “Sudah kentut belum?”
Situasinya lucu sekaligus ironis, karena tidak ada dasar medis yang mendukung ritual tersebut.

Mengapa Tradisi Ini Tidak Hilang?

Mitos ini bertahan karena orang sering mengulangnya tanpa memeriksa sumbernya. Banyak yang percaya bahwa setelah spinal anestesi, usus “tidur” dan harus “bangun” dulu sebelum makan. Penjelasan itu biasanya datang bersama ketukan ke perut, seolah tubuh manusia sedang menjalankan mode debug.

Jika diwujudkan dalam ilustrasi, dokter mungkin tampak sedang menempelkan stetoskop ke bokong pasien sambil menunggu “breaking news dari belakang”. Gambarnya bisa memakai judul Update Terbaru Dunia Pergasan.

Namun, anggapan itu tidak cocok dengan bukti medis modern.

Ini Belum Selesai

Malam Satu Suro: Horor atau Sekadar Mitos?

Benarkah Genjer-Genjer adalah Lagu PKI? Cek Faktanya

Bukti Medis Justru Berkata Sebaliknya

Pedoman modern seperti Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) menjelaskan hal yang sangat jelas pasien tidak perlu menunggu kentut setelah spinal anestesi untuk makan. Yang menentukan hanyalah kondisi klinis pasien bukan suara gas. Selama pasien sudah sadar penuh, bisa menelan dengan baik, tidak merasa mual, dan memiliki tanda vital stabil, ia boleh makan.

Selain itu, spinal anestesi hanya memengaruhi saraf di tubuh bagian bawah. Usus tetap bekerja, peristaltik tetap bergerak, bahkan pencernaan berjalan normal. Refleks menelan juga aman, dan risiko muntah lebih kecil bila dibandingkan dengan anestesi total.

Karena itu, banyak dokter justru menganjurkan pasien untuk makan lebih cepat, terutama setelah operasi caesar, tindakan ortopedi, atau operasi di bawah pusar. Pemulihan energi berlangsung lebih cepat, gula darah menjadi stabil, dan pasien merasa jauh lebih nyaman.

Latar Belakang Mitos: Warisan Era Lama

Jika ditelusuri lebih jauh, mitos ini muncul pada masa ketika anestesi total generasi awal memang membuat usus melambat. Dokter pada era itu memerlukan tanda sederhana untuk memastikan pergerakan usus kembali normal, dan kentut menjadi indikator yang mudah diamati. Sayangnya, kebiasaan tersebut ikut terbawa ke zaman modern meski konteks ilmiahnya sudah jauh berubah.

Di sisi lain, banyak tenaga kesehatan tetap memakai acuan lama karena mereka menganggapnya aman. Padahal, mekanisme spinal anestesi bekerja dengan cara yang sangat berbeda.

Situasinya mirip dengan orang yang menunggu chat dari mantan untuk memastikan hidupnya stabil: tidak ada kaitannya, namun tetap banyak yang percaya.

Aturan Makan yang Benar Setelah Operasi

Praktik medis modern menawarkan langkah yang jauh lebih logis. Pasien bisa mulai:

  1. minum cairan bening seperti air putih atau teh,
  2. melanjutkan ke makanan lunak seperti bubur,
  3. dan akhirnya menyantap makanan normal jika tidak muncul mual.

Tidak ada ritual mistis maupun acara menunggu hembusan angin dari belakang. Jika dibuat meme, tampilannya mungkin berupa layar loading dengan tulisan:
“Waiting for fart… 3%”
sementara pasien sudah menggenggam sendok.

Kesimpulan: Saatnya Pengetahuan yang Bangun, Bukan Ususnya

Mitos kentut hanyalah kebiasaan lama yang belum diperbarui. Kebiasaan itu sering membuat pasien menahan lapar tanpa alasan medis yang masuk akal. Karena itu, lebih baik kita mengikuti ilmu kedokteran modern yang menyatakan bahwa spinal anestesi tidak membuat usus berhenti bekerja.

Pada akhirnya, keputusan makan harus mengikuti logika medis, bukan suara gas. Jadi, jika seseorang masih memaksakan aturan itu, cukup katakan dengan pelan namun jelas:

“Yang perlu bangun bukan ususnya… tapi pengetahuannya.”

Sebelum share, cek dulu supaya kita tidak ikut menyebarkan mitos yang sudah lama kedaluwarsa. @Arimbi P

Kamu Melewatkan Ini

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

by dimas
Juni 28, 2026

TABOOO Cultural Production mengubah budaya lokal Madiun Raya menjadi karya, pengetahuan, dan intellectual property melalui kolaborasi masyarakat. Tabooo.id - Sebuah...

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

Raden Ronggo Prawirodirjo III: Api Perlawanan dari Madiun

by dimas
Juni 27, 2026

Raden Ronggo Prawirodirjo III menjadi simbol perlawanan dari Madiun. Kisahnya membuktikan bahwa harga diri Jawa tak pernah mudah ditaklukkan. Tabooo.id...

Suran Agung PSHW TM 2026: Keheningan yang Menyatukan Persaudaraan

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

by dimas
Juni 27, 2026

Suran Agung PSHW ke-123 menjadi momentum mempererat persaudaraan melalui konsep Purabaya, sekaligus mengajak seluruh warga menjaga ketertiban dan zero insiden....

Next Post
Regenerasi Koruptor: Tradisi Panjang yang Tak Pernah Libur

Regenerasi Koruptor: Tradisi Panjang yang Tak Pernah Libur

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id