Tabooo.id: Teknologi – Pernah kepikiran nggak, kenapa kita hafal nama planet di luar angkasa, tapi nyaris buta soal laut di rumah sendiri? Padahal, Indonesia duduk manis di atas salah satu wilayah laut terdalam dan terkaya di dunia. Ironisnya, laut sering cuma kita lihat sebagai latar liburan, bukan ruang hidup penuh misteri.
Kabar baiknya, rasa penasaran itu akhirnya dijawab bukan lewat konten TikTok, tapi lewat ekspedisi laut serius kelas dunia.
Ketika Riset Laut Jadi Misi Nyata, Bukan Wacana
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng organisasi eksplorasi laut global, OceanX, untuk menjalankan OCEANX–BRIN Collaborative Deep-sea Research and Capacity Building Program 2025 – Mission Leg 2. Tim riset ini berlayar pada 5–24 Januari 2026 dan menyusuri perairan utara Sulawesi hingga Pelabuhan Bitung.
Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, menegaskan fokus misi ini. Tim meneliti biodiversitas, oseanografi, pengamatan laut, serta fish aggregating device (FAD) atau rumpon. Dengan kata lain, riset ini menyentuh ekosistem laut dari sisi ilmiah sampai dampaknya ke perikanan.
Hasilnya nggak main-main. Tim peneliti mengidentifikasi 14 spesies megafauna, terdiri dari 10 mamalia laut, 2 hiu, dan 2 penyu. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi bukti bahwa laut Indonesia masih menyimpan “kehidupan besar” yang belum banyak terpetakan.
Paus, DNA Air Laut, dan Teknologi yang Nggak Brutal
Peneliti mamalia laut BRIN, Sekar Mira, menjelaskan bahwa tim mendeteksi paus sperma dan paus berparuh lewat pantauan udara dari helikopter kapal. Lebih menarik lagi, mereka berpotensi mencatat kehadiran Indopacetus pacificus, paus paruh Longman, yang bisa menjadi catatan baru biodiversitas Indonesia.
Namun, bagian paling mind-blowing justru datang dari metode environmental DNA (eDNA) metabarcoding. Lewat teknologi ini, ilmuwan “membaca” sisa DNA di air laut untuk mendeteksi keberadaan hewan besar tanpa menyentuh, apalagi melukai.
Peneliti BRIN Andhika Prima Prasetyo menggambarkannya dengan santai tapi nendang ini seperti berburu paus tanpa harpoon. Teknologi ini memungkinkan riset berjalan lebih etis dan relevan dengan nilai konservasi modern.
Buat generasi yang makin peduli isu lingkungan, pendekatan ini terasa relate. Ilmu pengetahuan akhirnya berjalan seiring empati.
Kapal Selam, Robot, dan Laut yang Jadi Laboratorium Hidup
Ekspedisi ini juga membawa dua kapal selam berawak Nadir dan Neptune. Tim menggunakan Nadir untuk dokumentasi visual dan media. Sementara itu, Neptune menjalankan tugas ilmiah berat.
Neptune membawa lengan robotik, Niskin bottle untuk mengambil sampel air, dan bio box untuk menjaga spesimen laut tetap aman saat dibawa ke permukaan. Semua analisis dilakukan langsung di laboratorium kapal. Laut pun berubah menjadi ruang riset hidup, bukan sekadar objek jauh di peta.
Lead Scientist ekspedisi, Pipit Pitriana, menegaskan bahwa data ini akan memperkuat rekomendasi kebijakan konservasi, khususnya di perairan Sulawesi Utara. Artinya, riset ini nggak berhenti di jurnal ilmiah. Data ini akan masuk ke meja pengambil keputusan.
Kenapa Riset Laut Jadi Urusan Gaya Hidup?
Di sinilah isu lifestyle masuk. Di era Gen Z dan Milenial, pilihan hidup makin terkait dengan keberlanjutan. Kita memilih brand yang peduli lingkungan, liburan yang bertanggung jawab, dan konten yang punya makna.
Riset laut seperti ini membentuk fondasi dari semua itu. Tanpa data, konservasi cuma slogan. Tanpa pemetaan, eksploitasi laut jalan tanpa rem. Saat negara serius membangun kemandirian kapal riset dan SDM ilmiah, kita sebenarnya sedang menjaga masa depan pangan, iklim, dan ekonomi pesisir.
Wakil Kepala BRIN, Amarulla Oktavian, bahkan menargetkan satu hal besar Indonesia harus punya kapal riset sendiri dengan teknologi yang setara atau lebih canggih dari mitra global.
Jadi, Apa Dampaknya Buat Kamu?
Mungkin kamu bukan peneliti laut. Namun hasil riset ini bisa memengaruhi harga ikan, kebijakan laut, sampai kualitas ekosistem yang kamu nikmati saat liburan ke pantai.
Lebih jauh lagi, riset ini mengingatkan satu hal penting: menjaga laut bukan tren musiman. Ini soal cara kita hidup, memilih, dan peduli.
Karena laut Indonesia terlalu luas untuk diabaikan dan terlalu berharga untuk dibiarkan gelap. @teguh




