Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mengintip Potensi UMKM Batik Kawista Winongo yang Mendunia

by dimas
Februari 6, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Batik selalu memiliki tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Warisan budaya yang telah diakui UNESCO ini tidak hanya berfungsi sebagai kain, tetapi juga menjadi penanda identitas dan ekspresi peradaban.

Di Kota Madiun, identitas itu tumbuh dari sebuah rumah sederhana di Jalan Gajah Mada 21, Kelurahan Winongo. Dari lokasi inilah WMH Batik memulai langkahnya, merintis usaha, dan perlahan membawa nama Madiun menembus pasar global.

WMH Batik memang bukan pabrik besar. Namun, usaha ini berhasil menjangkau pasar internasional melalui jalur yang tak lazim, yakni wisatawan asing. Sejumlah produknya bahkan telah dibawa hingga ke Eropa oleh pengunjung yang singgah ke kota tersebut.

“Produk kita terjauh dibawa ke Cekoslowakia. Mereka tidak hanya membeli, tapi juga belajar membatik di sini. Biasanya yang sering dibawa kaos ecoprint dan sarung,” ujar pemilik WMH Batik, Lilik Widya, Jumat (6/2/2026).

Kisah WMH Batik menunjukkan bahwa ekonomi kreatif berbasis komunitas mampu menciptakan dampak nyata. Perajin kecil yang kerap terpinggirkan kini mulai mendapat tempat dalam rantai nilai global.

Ini Belum Selesai

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

TABOOO Corner Hadir di Winongo, Buka Ruang Membaca Realitas

Wisatawan Asing Membuka Jalur Pasar

Arus wisatawan asing ke Kelurahan Winongo menjadi pintu awal WMH Batik menembus pasar luar negeri. Sebagian wisatawan tersebut mengikuti program Worldpacker dan tinggal sementara untuk mempelajari budaya lokal.

Selama menetap, mereka membeli batik sebagai cendera mata. Setelah kembali ke negara asal, para wisatawan itu memperkenalkan produk tersebut kepada komunitasnya masing-masing.

Melalui proses sederhana ini, jejaring pasar terbentuk secara perlahan. Perajin memperoleh tambahan penghasilan, sementara Batik Madiun mendapatkan eksposur internasional tanpa biaya promosi besar.

Model tersebut menegaskan bahwa diplomasi budaya kerap lahir dari interaksi sehari-hari, bukan semata dari panggung seremonial.

Digitalisasi Dorong Perluasan Pasar

Selain mengandalkan wisatawan, Lilik memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar. Ia memulai penjualan melalui WhatsApp, lalu mengembangkan promosi lewat Instagram setelah mengikuti kurasi tingkat provinsi.

Upaya ini secara signifikan memperluas jangkauan konsumen. Pemerintah Kota Madiun pun turut mendorong penguatan usaha melalui pelatihan, pendampingan, serta fasilitasi pameran.

Di tengah agenda nasional transformasi digital UMKM, pengalaman WMH Batik memperlihatkan dampak nyata kebijakan tersebut di tingkat akar rumput.

Berangkat dari Dunia Manajemen

Nama WMH sendiri lahir dari gabungan identitas keluarga.

“WMH itu dari nama saya dan suami. Dari Lilik Widiawati dan Dwi Mei Hendra, kami ambil Widia, Mei, dan Hendra,” tambahnya.

Perjalanan Lilik di dunia batik bermula pada September 2018 setelah ia mengikuti pelatihan di Dinas Tenaga Kerja dan KUKM Kota Madiun. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan di Fakultas Manajemen Universitas Merdeka Malang.

Latar belakang manajemen tidak menghalanginya menekuni sektor kreatif. Ketertarikan pada desain dan batik justru mendorongnya membangun usaha berbasis budaya.

Membuka Akses Batik untuk Semua

Dalam menjalankan usahanya, Lilik menyimpan misi sederhana.

“Saya berpikir, batik itu mahal. Bagaimana semua orang bisa memakai batik yang tidak mahal,” jelasnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, WMH Batik memproduksi beragam jenis batik, mulai dari batik tulis, batik cap, batik ciprat, hingga ecoprint. Motif yang dikembangkan pun beragam, seperti motif pecel khas Madiun, motif Winongo, hingga motif lawasan klasik.

Motif lawasan membutuhkan ketelitian tinggi.

“Parang, sidomukti, sidoasih itu punya ukuran dan pakem. Tidak bisa asal gambar,” ujarnya.

Keragaman produk ini memungkinkan WMH Batik menjangkau berbagai segmen pasar.

Menjaga Regenerasi di Tengah Tantangan

Selain memproduksi batik, Lilik aktif mengajar di sekolah dan lembaga pelatihan kerja. Ia juga rutin menggelar kegiatan “sinau bareng” bersama perajin lain.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Cuaca kerap memengaruhi kualitas warna, sementara preferensi pasar bergeser ke produk printing.

“Karena itu, kami membuat batik yang lebih murah supaya orang mau membeli langsung ke perajin,” pungkasnya.

Di tengah dominasi produk massal, perajin dituntut semakin adaptif dalam membangun merek.

UMKM sebagai Penjaga Identitas

Kisah WMH Batik menegaskan bahwa pelestarian budaya membutuhkan fondasi ekonomi yang kuat. Tradisi akan rapuh tanpa pasar, dan keterampilan bisa terputus tanpa regenerasi.

Ketika batik dari gang kecil di Winongo mampu menembus Eropa, muncul pertanyaan penting sudahkah negara memberi ruang yang cukup bagi ribuan perajin lain untuk melangkah sejauh itu?

Sebab menjaga batik tetap hidup bukan sekadar soal kebanggaan budaya, melainkan juga memastikan para penjaganya dapat hidup layak dari warisan tersebut. @dimas

Tags: BatikBudayaEkonomi IndonesiaGlobalKreatifmadiunNasionalPerajin

Kamu Melewatkan Ini

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

TABOOO Cultural Production: Dari Budaya Menjadi Karya

by dimas
Juni 28, 2026

TABOOO Cultural Production mengubah budaya lokal Madiun Raya menjadi karya, pengetahuan, dan intellectual property melalui kolaborasi masyarakat. Tabooo.id - Sebuah...

Suran Agung PSHW TM 2026: Keheningan yang Menyatukan Persaudaraan

Suran Agung PSHW ke-123: Madiun Mengawal Persaudaraan

by dimas
Juni 27, 2026

Suran Agung PSHW ke-123 menjadi momentum mempererat persaudaraan melalui konsep Purabaya, sekaligus mengajak seluruh warga menjaga ketertiban dan zero insiden....

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

by teguh
Juni 27, 2026

"Masalah sampah di Indonesia bukan hanya persoalan teknis pengelolaan, tetapi persoalan pola pikir. Selama masyarakat masih menganggap sampah sebagai masalah...

Next Post
Parapatan Luhur PSHT 2026 dan Pertaruhan Nilai Persaudaraan

Parapatan Luhur PSHT 2026 dan Pertaruhan Nilai Persaudaraan

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id