Selasa, April 28, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Menengok Perjuangan Memberantas Buta Huruf: Saat Huruf Menjadi Gerbang Kemerdekaan

by dimas
April 25, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Di tengah perjalanan panjang Indonesia melawan buta huruf, program pemberantasan aksara tidak lagi berdiri sekadar sebagai agenda pendidikan nasional. Ia menjelma menjadi upaya besar negara untuk membongkar ketimpangan pengetahuan yang selama puluhan tahun membatasi hak paling dasar warga: memahami dunia melalui tulisan.

Tabooo.id: Vibes – Perjuangan melawan buta huruf di Indonesia membuka babak penting dalam sejarah sosial bangsa. Dari ruang-ruang belajar sederhana di desa hingga program nasional seperti Kejar, upaya ini bukan hanya soal mengajarkan huruf, tetapi juga tentang merebut kembali hak dasar manusia: kemampuan membaca, memahami, dan menentukan masa depannya sendiri.

Di sebuah ruang belajar sederhana, seorang ibu menggenggam pensil dengan tangan yang gemetar. Di depannya, huruf-huruf Latin terasa asing, tapi sekaligus menjanjikan sesuatu yang baru: masa depan.

Ini bukan adegan fiksi. Ini potongan nyata sejarah Indonesia ketika jutaan orang dewasa kembali belajar membaca dan menulis dari nol.

Potret Awal: Saat Huruf Masih Jadi Kemewahan

Pada 1980, sekitar 28,8 persen penduduk Indonesia masih belum bisa membaca dan menulis. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan potret keterbatasan akses pendidikan yang tersisa setelah euforia kemerdekaan.

Namun perlahan, perubahan itu bergerak. Pada 1996, angka buta huruf turun drastis menjadi hanya 5,86 persen. Di balik penurunan itu, ada ribuan ruang kelas sederhana, kursus malam, dan kelompok belajar yang tumbuh dari desa hingga kota.

Ini Belum Selesai

Asap Rokok Roro Mendut dan Aroma Kebebasan

Sistem Among Solusi atau Sekadar Romantisme Pendidikan Masa Lalu?

Ruang-ruang Belajar Yang Menjadi Titik Balik

Sejak awal 1950-an, pemerintah mulai menggerakkan program pemberantasan buta huruf secara masif. Di ruang-ruang sederhana balai desa, rumah warga, hingga sekolah darurat orang tua duduk sejajar dengan anak muda.

Mereka belajar mengeja huruf demi huruf. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memandu tangan-tangan yang baru pertama kali menulis nama mereka sendiri.

Di masa itu, membaca bukan sekadar kemampuan teknis. Ia adalah lompatan sosial yang memisahkan masa lalu yang terbatas dengan masa depan yang lebih terbuka.

Program Kejar dan Lahirnya Generasi Aksara

Data pada 1971 mencatat sekitar 41,01 persen penduduk usia di atas 10 tahun masih tuna aksara. Pemerintah kemudian merespons dengan berbagai kebijakan, termasuk kewajiban belajar serta program Kejar (Kelompok Belajar) pada 1978.

Program ini tidak hanya menyasar pendidikan formal. Ia hadir untuk mereka yang terlewat dari sistem sekolah: buruh, petani, dan ibu rumah tangga yang selama ini hidup tanpa akses literasi dasar.

Buku Paket A1 hingga A100 menjadi alat utama. Dari mengenal huruf, hingga membuka jalan menuju pendidikan formal dan peluang sosial yang lebih luas.

Harga di Balik Sebuah Aksara

Namun perjuangan itu tidak ringan. Pada akhir 1970-an, kebutuhan buku untuk program ini mencapai ratusan juta eksemplar, dengan biaya lebih dari Rp 1 miliar angka yang sangat besar untuk ukuran masa itu.

Di balik angka-angka tersebut, ada satu hal yang jauh lebih mahal waktu, kesabaran, dan konsistensi manusia yang belajar dari nol di usia yang tidak lagi muda.

Kemerdekaan Kedua Yang Sunyi

Pemberantasan buta huruf bukan hanya proyek pendidikan. Ia adalah proyek kemanusiaan.

Di Blitar, Subang, hingga pelosok desa lainnya, orang-orang yang dulu tidak bisa menandatangani nama sendiri, perlahan mampu membaca surat kabar, menulis surat, bahkan memahami dunia yang lebih luas.

Namun perjalanan itu tidak berhenti di sana. Tantangan baru muncul minat baca yang rendah dan keterbatasan akses buku, yang perlahan menjadi wajah baru dari persoalan literasi.

Setelah Huruf Tak Lagi Asing

Meski Indonesia belum sepenuhnya bebas buta huruf, capaian besar sudah tercatat jelas. Dari hampir sepertiga penduduk pada 1980, menjadi hanya sebagian kecil pada akhir 1990-an.

Namun satu pertanyaan tetap menggantung di ruang sejarah ini setelah bisa membaca, apakah kita benar-benar membaca?

Perjuangan melawan buta huruf memang berhasil mengubah angka. Tapi tantangan berikutnya jauh lebih sunyi mengubah kebiasaan. Dari sekadar mampu membaca, menjadi benar-benar ingin membaca.

Dan di titik itulah, cerita ini belum benar-benar selesai. @dimas

Tags: Sejarah pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Sistem Among Solusi atau Sekadar Romantisme Pendidikan Masa Lalu?

Sistem Among Solusi atau Sekadar Romantisme Pendidikan Masa Lalu?

by dimas
April 26, 2026

Di ruang-ruang kelas pada masa kolonial Belanda, pendidikan tidak sekadar menjadi sarana belajar, tetapi juga menjadi alat untuk membentuk cara...

Sejarah Pendidikan Indonesia: Mengapa Dua Pelopor Guru Ini Nyaris Hilang dari Sejarah?

Selain Ki Hajar Dewantara, Mengapa Dua Pelopor Pendidikan Ini Justru Dilupakan?

by dimas
April 25, 2026

Banyak orang mengenal Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh besar pendidikan Indonesia. Negara menetapkan 2 Mei, hari kelahirannya, sebagai Hari Pendidikan Nasional, sementara...

Ki Hajar Dewantara: Saat Sekolah Jadi Medan Perang Melawan Kolonialisme

Ki Hajar Dewantara: Saat Sekolah Jadi Medan Perang Melawan Kolonialisme

by dimas
April 20, 2026

Di tengah dunia yang diam-diam menjadikan pendidikan sebagai alat untuk mengarahkan cara manusia berpikir, satu pertanyaan besar terus menggantung di...

Next Post
Kuota Komodo Dikaji Ulang, Daerah: Jangan Kami Cuma Jadi Penonton

Kuota Komodo Dikaji Ulang, Daerah: Jangan Kami Cuma Jadi Penonton

Pilihan Tabooo

Dari Layar ke Realita: Film”Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

Dari Layar ke Realita: Screning Film “Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

April 22, 2026

Realita Hari Ini

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

April 27, 2026

47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

April 27, 2026

Prabowo Dikabarkan Rombak Kabinet Hari Ini, Siapa Kehilangan Kursi?

April 27, 2026

Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

April 27, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id