Sebagian perempuan harus memilih antara keluarga atau perjuangan. S.K. Trimurti menolak pilihan sempit itu. Ia menulis saat penguasa membungkam suara, melahirkan saat penjara menutup ruang gerak, lalu memimpin saat republik baru berdiri. Di banyak buku sejarah, nama perempuan sering berada di pinggir cerita. Padahal, ketika negeri ini masih hidup di bawah kolonialisme, ada perempuan yang berdiri di garis depan. Namanya S.K. Trimurti. Ia bukan sekadar aktivis. Ia adalah ibu, jurnalis, pejuang, dan menteri. Hidupnya menunjukkan satu hal penting perempuan tidak sekadar mengikuti sejarah, perempuan juga menggerakkan sejarah.
Tabooo.id: Life – Pada dekade 1930-an, Trimurti aktif menulis di media pergerakan seperti Pikiran Rakyat dan Pesat. Lewat tulisan, ia menyerang kebijakan kolonial Belanda yang menekan rakyat kecil.
Pada masa itu, banyak orang masih memandang suara perempuan di ruang publik sebagai hal asing. Namun Trimurti justru tampil lantang.
Sejarawan perempuan Prof. Susan Blackburn menilai banyak perempuan era kolonial berperan aktif membangun kesadaran politik, bukan sekadar mendampingi tokoh laki-laki.
Trimurti memahami risikonya. Penguasa kolonial takut pada senjata. Namun mereka juga takut pada gagasan. Karena itu, aparat kolonial beberapa kali menangkapnya.
Melahirkan di Penjara, Bertahan di Tengah Kekerasan
Saat Jepang menduduki Indonesia pada Maret 1942, tekanan semakin keras. Militer Jepang memburu aktivis dan menutup ruang kritik. Trimurti ikut merasakan represi itu.
Sekitar 1943–1944, aparat menahannya di Penjara Bulu, Semarang. Dalam kondisi serba terbatas, ia melahirkan anak pertamanya di balik jeruji besi.
Bayangkan momen itu. Seorang ibu menahan sakit persalinan bukan di rumah, bukan di rumah sakit, tetapi di sel tahanan.
Sosiolog Prof. Musni Umar pernah menjelaskan bahwa perempuan dalam situasi tertindas sering memikul beban ganda: melawan sistem sambil menjaga kehidupan.
Trimurti menjalani kenyataan itu secara nyata. Ia tidak hanya melawan penjajahan. Ia juga menjaga hidup seorang anak di tengah kekerasan. Ini bukan sekadar kisah heroik. Ini luka sejarah yang nyata.
Setelah Merdeka, Ia Tetap Bergerak
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17/08/1945. Banyak pejuang berhenti setelah kemenangan datang. Trimurti justru melanjutkan langkah.
Pada 03/07/1947, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Menteri Perburuhan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin. Ia menjadi menteri perempuan pertama di Indonesia.
Di kursi pemerintahan, ia memperjuangkan nasib buruh dan rakyat kecil.
Sejarawan Asvi Warman Adam menilai banyak tokoh awal republik membawa idealisme kerakyatan karena mereka pernah merasakan ketidakadilan kolonial. Trimurti termasuk di dalamnya.
Ia tahu rasa tertindas. Karena itu, ia tidak ingin negara baru mengulang luka lama.
Ketika Perjuangan Masuk ke Rumah
Awal 1950-an, ujian datang dari kehidupan pribadi. Suaminya, Sayuti Melik, memilih berpoligami. Di tengah budaya patriarki yang kuat, Trimurti mengambil keputusan tegas berpisah.
Keputusan itu tidak mudah. Pada masa itu, banyak orang meminta perempuan bertahan demi nama baik keluarga, meski harus menelan luka sendiri.
Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa martabat manusia sering diuji bukan di panggung besar, tetapi dalam keputusan sunyi yang personal. Trimurti memilih harga diri.
Ia membuktikan bahwa perjuangan perempuan tidak berhenti di podium politik. Kadang, perjuangan paling berat justru muncul di dalam rumah.
Pelajaran untuk Perempuan Hari Ini
Kisah Trimurti terasa jauh karena berlangsung pada 1930-an hingga 1950-an. Namun pertanyaannya masih hidup sampai sekarang:
- Apakah orang masih meremehkan suara perempuan?
- Apakah banyak ibu pekerja masih memikul beban ganda?
- Apakah masyarakat masih meminta perempuan diam demi kenyamanan orang lain?
Zaman memang berubah. Namun sebagian pola belum benar-benar hilang.
Pemerintah melalui kementerian yang menangani pemberdayaan perempuan terus mendorong kesetaraan peran dan perlindungan hak perempuan di ruang publik maupun rumah tangga. Itu menandakan perjuangan ini belum selesai.
Kata-Kata Bisa Dibatasi, Tapi Tidak Bisa Dipadamkan
S.K. Trimurti mengajarkan bahwa perempuan bisa terluka, tetapi tidak otomatis kalah. Perempuan bisa ditekan, tetapi tidak otomatis diam.
Ia menulis saat penguasa melarang kritik. Ia melahirkan saat penjara mengurung tubuhnya. Ia memimpin saat banyak orang meragukan kemampuan perempuan.
Hari ini, ketika banyak perempuan masih berjuang agar didengar, kisah Trimurti kembali mengetuk. Jika dulu seorang perempuan melawan dengan mesin tik dari balik penjara, lalu alasan apa yang membuat kita menyerah sekarang?. @teguh





