Selasa, April 28, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Melahirkan Di Balik Jeruji: Saat Perempuan Bertahan, Sejarah Bergerak

by teguh
April 24, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on FacebookShare on Twitter
Sebagian perempuan harus memilih antara keluarga atau perjuangan. S.K. Trimurti menolak pilihan sempit itu. Ia menulis saat penguasa membungkam suara, melahirkan saat penjara menutup ruang gerak, lalu memimpin saat republik baru berdiri. Di banyak buku sejarah, nama perempuan sering berada di pinggir cerita. Padahal, ketika negeri ini masih hidup di bawah kolonialisme, ada perempuan yang berdiri di garis depan. Namanya S.K. Trimurti. Ia bukan sekadar aktivis. Ia adalah ibu, jurnalis, pejuang, dan menteri. Hidupnya menunjukkan satu hal penting perempuan tidak sekadar mengikuti sejarah, perempuan juga menggerakkan sejarah.

Tabooo.id: Life – Pada dekade 1930-an, Trimurti aktif menulis di media pergerakan seperti Pikiran Rakyat dan Pesat. Lewat tulisan, ia menyerang kebijakan kolonial Belanda yang menekan rakyat kecil.

Pada masa itu, banyak orang masih memandang suara perempuan di ruang publik sebagai hal asing. Namun Trimurti justru tampil lantang.

Sejarawan perempuan Prof. Susan Blackburn menilai banyak perempuan era kolonial berperan aktif membangun kesadaran politik, bukan sekadar mendampingi tokoh laki-laki.

Trimurti memahami risikonya. Penguasa kolonial takut pada senjata. Namun mereka juga takut pada gagasan. Karena itu, aparat kolonial beberapa kali menangkapnya.

Melahirkan di Penjara, Bertahan di Tengah Kekerasan

Saat Jepang menduduki Indonesia pada Maret 1942, tekanan semakin keras. Militer Jepang memburu aktivis dan menutup ruang kritik. Trimurti ikut merasakan represi itu.

Ini Belum Selesai

Trauma Bukan Sekadar Cerita. Tapi Bukan Akhir Cerita

Terlihat Hebat, Tapi Kosong: Mengapa Narsisme Itu Lebih Dalam dari Sekadar Ego

Sekitar 1943–1944, aparat menahannya di Penjara Bulu, Semarang. Dalam kondisi serba terbatas, ia melahirkan anak pertamanya di balik jeruji besi.

Bayangkan momen itu. Seorang ibu menahan sakit persalinan bukan di rumah, bukan di rumah sakit, tetapi di sel tahanan.

Sosiolog Prof. Musni Umar pernah menjelaskan bahwa perempuan dalam situasi tertindas sering memikul beban ganda: melawan sistem sambil menjaga kehidupan.

Trimurti menjalani kenyataan itu secara nyata. Ia tidak hanya melawan penjajahan. Ia juga menjaga hidup seorang anak di tengah kekerasan. Ini bukan sekadar kisah heroik. Ini luka sejarah yang nyata.

Setelah Merdeka, Ia Tetap Bergerak

Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17/08/1945. Banyak pejuang berhenti setelah kemenangan datang. Trimurti justru melanjutkan langkah.

Pada 03/07/1947, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Menteri Perburuhan dalam Kabinet Amir Sjarifuddin. Ia menjadi menteri perempuan pertama di Indonesia.

Di kursi pemerintahan, ia memperjuangkan nasib buruh dan rakyat kecil.

Sejarawan Asvi Warman Adam menilai banyak tokoh awal republik membawa idealisme kerakyatan karena mereka pernah merasakan ketidakadilan kolonial. Trimurti termasuk di dalamnya.

Ia tahu rasa tertindas. Karena itu, ia tidak ingin negara baru mengulang luka lama.

Ketika Perjuangan Masuk ke Rumah

Awal 1950-an, ujian datang dari kehidupan pribadi. Suaminya, Sayuti Melik, memilih berpoligami. Di tengah budaya patriarki yang kuat, Trimurti mengambil keputusan tegas berpisah.

Keputusan itu tidak mudah. Pada masa itu, banyak orang meminta perempuan bertahan demi nama baik keluarga, meski harus menelan luka sendiri.

Budayawan Goenawan Mohamad pernah menulis bahwa martabat manusia sering diuji bukan di panggung besar, tetapi dalam keputusan sunyi yang personal. Trimurti memilih harga diri.

Ia membuktikan bahwa perjuangan perempuan tidak berhenti di podium politik. Kadang, perjuangan paling berat justru muncul di dalam rumah.

Pelajaran untuk Perempuan Hari Ini

Kisah Trimurti terasa jauh karena berlangsung pada 1930-an hingga 1950-an. Namun pertanyaannya masih hidup sampai sekarang:

  • Apakah orang masih meremehkan suara perempuan?
  • Apakah banyak ibu pekerja masih memikul beban ganda?
  • Apakah masyarakat masih meminta perempuan diam demi kenyamanan orang lain?

Zaman memang berubah. Namun sebagian pola belum benar-benar hilang.

Pemerintah melalui kementerian yang menangani pemberdayaan perempuan terus mendorong kesetaraan peran dan perlindungan hak perempuan di ruang publik maupun rumah tangga. Itu menandakan perjuangan ini belum selesai.

Kata-Kata Bisa Dibatasi, Tapi Tidak Bisa Dipadamkan

S.K. Trimurti mengajarkan bahwa perempuan bisa terluka, tetapi tidak otomatis kalah. Perempuan bisa ditekan, tetapi tidak otomatis diam.

Ia menulis saat penguasa melarang kritik. Ia melahirkan saat penjara mengurung tubuhnya. Ia memimpin saat banyak orang meragukan kemampuan perempuan.

Hari ini, ketika banyak perempuan masih berjuang agar didengar, kisah Trimurti kembali mengetuk. Jika dulu seorang perempuan melawan dengan mesin tik dari balik penjara, lalu alasan apa yang membuat kita menyerah sekarang?. @teguh

Tags: BelandaJepangKabinetKebijakanKementerianKemerdekaanKesetaraanKolonialKritikMelahirkanMiliterPenjaraperempuanPertamaPodiumPolitikpresidensejarawanSosiolog

Kamu Melewatkan Ini

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

by teguh
April 27, 2026

Aceh pernah membuat Belanda frustrasi. Meriam gagal, peluru mentok, kapal perang kelelahan. Namun kemudian penjajah memilih cara yang lebih licik...

Mereka Tidak Hidup Bebas. Mereka Hanya Belajar Tidak Mati

Mereka Tidak Hidup Bebas. Mereka Hanya Belajar Tidak Mati

by Waras
April 27, 2026

Pagi datang seperti biasa. Matahari naik, orang-orang keluar rumah, kehidupan berjalan. Tapi di beberapa sudut El Salvador, ada satu hal...

Meriam, Peluru Gagal, Pengetahuan Dikirim: Cara Aceh Dirobohkan dari Dalam

Meriam, Peluru Gagal, Pengetahuan Dikirim: Cara Aceh Dirobohkan dari Dalam

by teguh
April 27, 2026

Aceh, 1873–1904. Ketika meriam, kapal perang, dan ribuan serdadu gagal menundukkan tanah rencong, Belanda segera mengubah strategi. Mereka tak lagi...

Next Post
Guru Tetap Mengajar Tanpa Gaji, Ini Transisi PPPK atau Ketidakadilan Baru?

Dana Ada, Gaji Tak Cair: Mengapa Ribuan Guru Honorer di Jawa Barat Belum Digaji?

Pilihan Tabooo

Dari Layar ke Realita: Film”Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

Dari Layar ke Realita: Screning Film “Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

April 22, 2026

Realita Hari Ini

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

April 27, 2026

47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

April 27, 2026

Prabowo Dikabarkan Rombak Kabinet Hari Ini, Siapa Kehilangan Kursi?

April 27, 2026

Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

April 27, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id