Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Massa Bertahan, Water Cannon Menghantam Depan DPR

by dimas
Agustus 27, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Massa bertahan di depan DPR hingga malam. Polisi mengerahkan water cannon dan ultimatum untuk memukul mundur demonstran dari pagar gedung.

Tabooo.id – Polisi memukul mundur massa yang masih bertahan di depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026) malam.

Polisi mengerahkan dua kendaraan taktis berupa water cannon. Langkah itu muncul ketika massa masih mencoba menerobos pagar tinggi Gedung DPR.

Polisi kemudian menyemprotkan air bertekanan deras ke arah demonstran. Massa pun perlahan mundur dari pagar.

Namun, situasi belum langsung reda.

Sejumlah demonstran masih mencoba melawan. Mereka melempar botol air minum ke arah polisi.

Ini Belum Selesai

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

KPK Bongkar Dugaan Suap HGB: Urusan Tanah Berujung Koper Uang

Benturan itu memperlihatkan situasi yang mulai bergeser. Aksi demonstrasi berubah menjadi proses pembubaran massa.

Pagar DPR Jadi Titik Benturan

Sebelumnya, massa masih bertahan di depan Gedung DPR. Sebagian demonstran bahkan mencoba mendobrak pagar untuk masuk ke kompleks parlemen.

Polisi merespons dengan mengerahkan water cannon. Semprotan air menciptakan jarak antara barisan aparat dan demonstran.

Di titik itu, pagar DPR menjadi garis pemisah yang semakin tegas.

Massa ingin mempertahankan posisi di depan gedung. Polisi ingin mengosongkan area tersebut.

Konflik kemudian tidak lagi hanya berlangsung lewat orasi dan tuntutan. Perebutan ruang mulai menjadi bagian penting dari situasi malam itu.

Polisi Sampaikan Ultimatum

Kapolres Jakarta Pusat Kombes Reynold Hutagalung kemudian meminta massa meninggalkan lokasi.

Reynold menyampaikan imbauan itu dari mobil rantis pengurai massa. Ia meminta seluruh masyarakat pulang demi menjaga keamanan dan keselamatan.

“Kami peringatkan agar meninggalkan tempat ini. Segera kembali ke rumah masing-masing,” ujar Reynold.

Ia juga memperingatkan massa bahwa polisi akan mengambil tindakan tegas jika mereka tetap bertahan.

“Kami mengingatkan kepada seluruh masyarakat untuk dapat meninggalkan tempat ini. Dimohon menjaga keamanan dan keselamatan,” katanya.

Reynold menyebut aparat akan bertindak tegas setelah memberikan imbauan.

Gerbang Dibuka, Polisi Bergerak Keluar

Setelah menyemprotkan water cannon, Reynold memerintahkan Pamdal DPR membuka gerbang.

Polisi kemudian mengeluarkan sejumlah kendaraan taktis dari kompleks DPR. Water cannon, Baracuda, mobil rantis, dan personel berseragam taktis ikut bergerak.

“Kepada saudara-saudara sekalian, seluruh masyarakat, kami akan buka pintu dan membubarkan,” ujar Reynold.

Ia kembali meminta massa di depan pagar DPR segera meninggalkan lokasi.

Pergerakan aparat membuat situasi memasuki tahap baru. Polisi tidak lagi hanya menjaga pagar dari dalam kompleks.

Barisan aparat kini bergerak keluar untuk mendorong massa menjauh dari gedung.

Aparat Diminta Tetap Rapat

Di tengah proses pembubaran, Reynold juga meminta personel menjaga keselamatan masing-masing.

Ia meminta polisi tidak bergerak sendiri-sendiri. Menurut dia, petugas harus tetap merapatkan barisan.

“Dimohon kepada seluruh masyarakat, silakan kembali ke rumah masing-masing. Kami mohon dan imbau agar masyarakat dapat kembali dengan selamat,” kata Reynold.

Kepada petugas, ia kembali memberikan instruksi.

“Rapatkan barisan, tidak sendiri-sendiri,” ujarnya.

Instruksi itu menunjukkan satu hal penting. Polisi ingin mengendalikan bukan hanya massa, tetapi juga cara aparat bergerak saat membubarkan demonstran.

Massa Akhirnya Mundur

Setelah polisi keluar dari gerbang DPR, massa mulai meninggalkan lokasi.

Sebagian demonstran mundur dari area depan gedung. Situasi kemudian bergerak menjauh dari titik benturan utama.

Secara kasatmata, malam itu berakhir dengan mundurnya massa.

Namun, mundurnya massa tidak otomatis menghapus alasan yang membawa mereka ke depan DPR.

Ini Bukan Sekadar Pembubaran

Jika dilihat sekilas, peristiwa itu hanya memperlihatkan polisi membubarkan demonstran.

Namun, urutannya menunjukkan eskalasi yang lebih panjang.

Massa bertahan di depan DPR. Sebagian mencoba mendobrak pagar.

Polisi mengerahkan water cannon. Demonstran melempar botol.

Polisi kemudian menyampaikan ultimatum. Setelah itu, gerbang dibuka dan barisan aparat bergerak keluar.

Urutan tersebut memperlihatkan bagaimana aksi politik dapat berubah menjadi perebutan ruang.

Pagar menjadi batas fisik. Water cannon menjadi alat untuk menciptakan jarak.

Ultimatum kemudian menjadi batas terakhir sebelum aparat melakukan pembubaran.

Ketika Ruang Demonstrasi Menyempit

Demonstrasi membutuhkan ruang agar massa dapat menyampaikan tuntutan.

Negara juga memiliki kepentingan menjaga keamanan gedung dan area tertentu. Ketegangan muncul ketika dua kepentingan itu bertemu di titik yang sama.

Di depan DPR, titik itu berada pada pagar gedung parlemen.

Ketika massa mencoba melewati batas tersebut, polisi merespons dengan perangkat pengendalian massa.

Situasi kemudian bergerak dari adu suara menuju adu posisi.

Massa mempertahankan ruang. Polisi mempersempit ruang tersebut.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar siapa yang mundur lebih dulu.

Malam Berakhir, Persoalan Belum Tentu

Massa akhirnya meninggalkan depan Gedung DPR.

Ketegangan fisik pun mereda. Namun, penyebab demonstrasi tidak otomatis ikut menghilang.

Sebuah demonstrasi selalu memiliki dua lapisan.

Lapisan pertama terlihat melalui kerumunan, pagar, water cannon, aparat, dan ultimatum.

Lapisan kedua berada pada tuntutan yang membuat massa datang dan bertahan.

Malam itu, lapisan pertama berakhir ketika massa mundur.

Lapisan kedua masih menyisakan pertanyaan.

Ini bukan sekadar massa dipukul mundur. Ini adalah gambaran ketika tuntutan politik bertemu pagar, kekuatan aparat, dan perebutan ruang publik. @dimas

Tags: aksi mahasiswademo DPRDemonstrasiDPR RIPolisiWater Cannon

Kamu Melewatkan Ini

Pemilik Warung Mie Babi Tepi Sawah: Kerugian Capai Rp50 Juta

Warung Mi dan Babi Sukoharjo Dibakar, 12 Saksi Diperiksa Polisi

by dimas
September 16, 2026

Warung Mi dan Babi di Sukoharjo dibakar OTK. Polisi memeriksa 12 saksi dan menggandeng Densus 88 untuk mengungkap pelaku serta...

Benarkah DPR Masukkan RUU Larangan Membeli Rokok di Indonesia?

Benarkah DPR Masukkan RUU Larangan Membeli Rokok di Indonesia?

by eko
September 7, 2026

Benarkah DPR buat RUU larangan membeli rokok? Cek fakta klaim viral dan aturan rokok yang sebenarnya berlaku di Indonesia. Tabooo.id...

RUU Perampasan Aset: Mau Disahkan Cepat, Tapi Drafnya Masih Disimpan

RUU Perampasan Aset: Mau Disahkan Cepat, Tapi Drafnya Masih Disimpan

by dimas
September 2, 2026

RUU Perampasan Aset mengejar target pengesahan Desember 2026. Namun, DPR belum membuka draf terbaru kepada publik. Di sinilah persoalannya: bagaimana...

Next Post
Kericuhan Demo Meluas ke Pejompongan, Pos Polisi Dibakar

Kericuhan Demo Meluas ke Pejompongan, Pos Polisi Dibakar

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id