Tabooo.id: Entertainment – Lucu ya, satu kota yang luasnya ribuan hektare bisa terasa kosong hanya karena satu orang pergi. Padahal gedungnya tetap berdiri, lampu merah tetap menyala, dan kopi di kafe favorit masih pahit seperti biasa. Namun, entah kenapa, semuanya mendadak hambar.
Di situlah lagu “Kota Ini Tak Sama Tanpamu” dari Nadhif Basalamah bekerja. Ia tidak berteriak. Ia tidak meledak. Sebaliknya, ia menyelinap pelan, lalu menetap di kepala.
Romansa Singkat, Efek Panjang
Secara lirik, Nadhif bercerita sederhana: dua orang menjelajah kota, jatuh cinta, lalu merasa waktu berjalan terlalu cepat. Jatuh cinta memang manis. Genggam tanganku sayang.“Kota ini tak sama tanpamu.”
Tidak ada metafora rumit. Namun justru karena itu, lagu ini terasa dekat. Kita langsung membayangkan momen-momen kecil: berjalan tanpa arah, tertawa di trotoar, atau sekadar duduk berdua sambil menunda waktu pulang.
Sayangnya, romansa seperti itu sering hanya bertahan tiga atau empat hari. Setelah itu, kenyataan mengambil alih.
Kota Tidak Berubah, Perasaanmu yang Bergeser
Menariknya, lagu ini tidak sekadar membahas patah hati. Ia juga menyorot cara kita memberi makna pada ruang. Kita sering menganggap kota berubah, padahal sebenarnya kita yang kehilangan konteks emosionalnya.
Awalnya, kita melihat jalanan sebagai latar kebahagiaan. Lalu, ketika orangnya pergi, kita menganggap tempat itu ikut kehilangan warna. Padahal faktanya, kota tetap berjalan seperti biasa.
Karena itu, ketika Nadhif menyanyikan rumahku hanyalah kita kalimat itu terasa manis sekaligus riskan. Jika kamu menjadikan seseorang sebagai rumah, maka saat ia pergi, kamu kehilangan tempat pulang.
Di sinilah lagu ini terasa relevan. Banyak orang melebur terlalu jauh dalam kita sampai lupa menjaga aku.
Kenangan: Indah, Tapi Bisa Menjebak
Selain itu, lagu ini juga menunjukkan betapa kuatnya kenangan. Kita tidak hanya merindukan orangnya. Kita merindukan suasana, versi diri yang dulu, bahkan perasaan ringan yang sempat kita rasakan.
Namun, semakin kita memutar ulang memori, semakin sulit kita melangkah. Kenangan memang memberi kehangatan, tetapi jika kita terlalu lama tinggal di sana, ia berubah menjadi beban.
Karena itu, waktu memegang peran penting. Perlahan, waktu mengikis luka. Perlahan pula, ia membantu kita melihat kota tanpa bayangan yang sama.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Berubah?
Pada akhirnya, “Kota Ini Tak Sama Tanpamu” bukan sekadar lagu galau. Lagu ini mengingatkan kita bahwa cinta bisa memperluas dunia, tetapi kehilangan juga bisa menyempitkannya.
Namun demikian, hidup tidak berhenti di satu persimpangan. Kota tetap berdenyut. Hari tetap berganti. Dan kita tetap bisa menemukan makna baru meski tanpa orang yang dulu kita anggap pusat segalanya.
Jadi, mungkin kotanya tidak pernah berubah.
Mungkin kamu saja yang sedang belajar berdiri tanpa genggaman yang sama.
Sekarang pertanyaannya: kamu mau terus menyalahkan kotanya, atau mulai menata ulang hatimu? @eko





