Sabtu, Juni 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Macak, Manak, Masak: Tradisi atau Tekanan yang Tak Pernah Pergi?

by eko
April 26, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Tiga kata ini terdengar sederhana: macak, manak, masak. Namun banyak orang masih menjadikannya standar hidup untuk perempuan bahkan ketika zaman sudah berubah. Jadi, ini tradisi atau tekanan yang belum kita bongkar?

Tabooo.id: Edge – Dulu, masyarakat membangun konsep macak, manak, masak dari pembagian peran yang jelas. Perempuan mengurus rumah, laki-laki mencari nafkah. Banyak orang menganggap pola itu ideal.

Sekarang, realitas berubah. Perempuan aktif di dunia kerja, pendidikan, dan ruang publik. Mereka punya akses, pilihan, dan peran yang jauh lebih luas.

Sayangnya, banyak orang tetap mempertahankan ekspektasi lama tanpa menyesuaikan kondisi.

Perubahan Zaman, Tuntutan Tetap

Hari ini, perempuan membangun karier, memimpin tim, bahkan menopang ekonomi keluarga. Namun lingkungan masih menuntut mereka menjalankan peran domestik sepenuhnya.

Orang berharap perempuan tampil menarik, memiliki anak, dan mengurus rumah dengan baik. Tuntutan ini datang bersamaan, tanpa kompromi.

Ini Belum Selesai

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Efek Domino Pertamax Naik: Dari SPBU Sampai ke Dapur Rakyat

Akibatnya, banyak perempuan menjalani hidup dengan tekanan yang terus menumpuk.

Multitasking atau Tekanan yang Tidak Terlihat?

Banyak perempuan menjalani beberapa peran sekaligus. Mereka bekerja di siang hari, lalu mengurus rumah setelahnya.

Orang sering melihat semuanya berjalan normal. Padahal, kelelahan terus menumpuk di balik rutinitas itu.

Tidak semua orang menyadari tekanan ini, karena perempuan terbiasa menyembunyikannya.

Standar yang Tidak Pernah Seimbang

Lingkungan sering menilai perempuan dari kemampuan domestik. Pertanyaan seperti “bisa masak?” masih muncul dalam percakapan sehari-hari.

Sebaliknya, orang jarang menanyakan hal yang sama kepada laki-laki. Standar ini berjalan satu arah dan terus dianggap wajar.

Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan yang masih kuat dalam cara pandang masyarakat.

Tradisi yang Berubah Jadi Tekanan

Banyak orang mengulang kalimat seperti “perempuan harus bisa” tanpa mempertanyakan maknanya. Pengulangan ini perlahan membentuk tekanan sosial.

Perempuan yang memilih jalan berbeda sering menghadapi penilaian. Orang mempertanyakan mereka jika tidak menikah, tidak punya anak, atau tidak mengurus rumah.

Tradisi akhirnya berubah menjadi aturan sosial yang terasa mengikat.

Perempuan Punya Jalan Sendiri

Setiap perempuan menentukan jalannya sendiri. Ada yang fokus pada karier, ada yang memilih keluarga, dan ada yang menjalani keduanya.

Semua pilihan itu sah.

Tidak ada satu pola hidup yang wajib diikuti untuk menjadi “perempuan ideal”.

Siapa yang Mengatur Standar Ini?

Masalah utamanya bukan pada pilihan perempuan. Masalahnya terletak pada standar yang dibentuk lingkungan.

Ketika lingkungan menentukan ukuran hidup, perempuan kehilangan ruang untuk menentukan arah sendiri.

Di titik ini, tekanan sosial mulai mengambil alih keputusan pribadi.

Penutup

Isu ini bukan sekadar soal tradisi.
Kita sedang melihat bagaimana standar lama bertahan di dunia yang sudah berubah.

Sekarang pertanyaannya sederhana:
apakah kita masih memilihnya atau hanya belum berani melepasnya?@eko

Tags: feminisme Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Patriarki Tidak Pernah Pergi: Ia Hidup di Balik Tradisi yang Dianggap Normal

Patriarki Tidak Pernah Pergi: Ia Hidup di Balik Tradisi yang Dianggap Normal

by dimas
Mei 25, 2026

Patriarki tidak pernah pergi. Di balik budaya yang dianggap biasa, ada luka, tekanan sosial, dan ketidakadilan yang terus berulang. Tabooo.id...

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

by Tabooo
Mei 13, 2026

Kebangkitan aktivis perempuan membuat demokrasi Indonesia tidak bisa lagi bersembunyi di balik angka pemilu, kursi parlemen, dan pidato kesetaraan. Saat...

Refleksi Hari Kartini: Kita Merayakan, Tapi Sudahkah Kita Melanjutkan?

Refleksi Hari Kartini: Kita Merayakan, Tapi Sudahkah Kita Melanjutkan?

by dimas
April 21, 2026

Di tengah perayaan tahunan yang meriah dengan kebaya, kutipan inspiratif, dan banjir ucapan di media sosial, satu pertanyaan besar muncul:...

Next Post
Hari Buruh: Perjuangan atau Rutinitas?

Hari Buruh: Perjuangan atau Rutinitas?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id