Tiga kata ini terdengar sederhana: macak, manak, masak. Namun banyak orang masih menjadikannya standar hidup untuk perempuan bahkan ketika zaman sudah berubah. Jadi, ini tradisi atau tekanan yang belum kita bongkar?
Tabooo.id: Edge – Dulu, masyarakat membangun konsep macak, manak, masak dari pembagian peran yang jelas. Perempuan mengurus rumah, laki-laki mencari nafkah. Banyak orang menganggap pola itu ideal.
Sekarang, realitas berubah. Perempuan aktif di dunia kerja, pendidikan, dan ruang publik. Mereka punya akses, pilihan, dan peran yang jauh lebih luas.
Sayangnya, banyak orang tetap mempertahankan ekspektasi lama tanpa menyesuaikan kondisi.
Perubahan Zaman, Tuntutan Tetap
Hari ini, perempuan membangun karier, memimpin tim, bahkan menopang ekonomi keluarga. Namun lingkungan masih menuntut mereka menjalankan peran domestik sepenuhnya.
Orang berharap perempuan tampil menarik, memiliki anak, dan mengurus rumah dengan baik. Tuntutan ini datang bersamaan, tanpa kompromi.
Akibatnya, banyak perempuan menjalani hidup dengan tekanan yang terus menumpuk.
Multitasking atau Tekanan yang Tidak Terlihat?
Banyak perempuan menjalani beberapa peran sekaligus. Mereka bekerja di siang hari, lalu mengurus rumah setelahnya.
Orang sering melihat semuanya berjalan normal. Padahal, kelelahan terus menumpuk di balik rutinitas itu.
Tidak semua orang menyadari tekanan ini, karena perempuan terbiasa menyembunyikannya.
Standar yang Tidak Pernah Seimbang
Lingkungan sering menilai perempuan dari kemampuan domestik. Pertanyaan seperti “bisa masak?” masih muncul dalam percakapan sehari-hari.
Sebaliknya, orang jarang menanyakan hal yang sama kepada laki-laki. Standar ini berjalan satu arah dan terus dianggap wajar.
Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan yang masih kuat dalam cara pandang masyarakat.
Tradisi yang Berubah Jadi Tekanan
Banyak orang mengulang kalimat seperti “perempuan harus bisa” tanpa mempertanyakan maknanya. Pengulangan ini perlahan membentuk tekanan sosial.
Perempuan yang memilih jalan berbeda sering menghadapi penilaian. Orang mempertanyakan mereka jika tidak menikah, tidak punya anak, atau tidak mengurus rumah.
Tradisi akhirnya berubah menjadi aturan sosial yang terasa mengikat.
Perempuan Punya Jalan Sendiri
Setiap perempuan menentukan jalannya sendiri. Ada yang fokus pada karier, ada yang memilih keluarga, dan ada yang menjalani keduanya.
Semua pilihan itu sah.
Tidak ada satu pola hidup yang wajib diikuti untuk menjadi “perempuan ideal”.
Siapa yang Mengatur Standar Ini?
Masalah utamanya bukan pada pilihan perempuan. Masalahnya terletak pada standar yang dibentuk lingkungan.
Ketika lingkungan menentukan ukuran hidup, perempuan kehilangan ruang untuk menentukan arah sendiri.
Di titik ini, tekanan sosial mulai mengambil alih keputusan pribadi.
Penutup
Isu ini bukan sekadar soal tradisi.
Kita sedang melihat bagaimana standar lama bertahan di dunia yang sudah berubah.
Sekarang pertanyaannya sederhana:
apakah kita masih memilihnya atau hanya belum berani melepasnya?@eko





