Setiap 1 Mei, jalanan penuh spanduk, panggung orasi, dan janji lama. Namun pertanyaannya tetap sama apakah Hari Buruh masih menjadi alat perjuangan, atau hanya ritual tahunan yang selesai saat panggung dibongkar? Biaya hidup terus naik, kontrak kerja makin rapuh, dan ancaman PHK belum hilang. Di tengah situasi itu, May Day kembali datang.
Tabooo.id: Deep – Hari Buruh lahir dari darah dan keberanian. Dunia mengenangnya lewat tragedi Haymarket di Chicago, Amerika Serikat, pada 4 Mei 1886. Saat itu, pekerja turun ke jalan menuntut jam kerja delapan jam dan bentrokan menewaskan banyak orang.
Sejak momen itu, dunia menjadikan 1 Mei sebagai simbol perjuangan kelas pekerja.
Indonesia mulai memperingati Hari Buruh sejak era kolonial. Pemerintah kemudian menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional pada 2013 di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Maknanya jelas pekerja tidak menerima Hari Buruh sebagai hadiah. Mereka merebutnya lewat tekanan sejarah.
Namun kini banyak orang bertanya: mengapa tuntutan dasarnya masih sama? Upah layak, kerja pasti, jaminan sosial, dan perlindungan hak.
Kalau tuntutannya tidak berubah, berarti sistem belum bergerak.
Buruh Bergerak, Sistem Diam
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal saat peringatan May Day 01/05/2024 menegaskan bahwa buruh masih menuntut penghapusan outsourcing, upah layak, dan perlindungan kerja.
“May Day bukan pesta. Ini momentum menyuarakan keadilan sosial bagi pekerja,” ujar Said Iqbal di Jakarta, 01/05/2024.
Kalimat itu penting. Di balik panggung hiburan dan seremoni, banyak pekerja masih hidup dengan gaji pas-pasan, lembur panjang, dan masa depan yang kabur.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir juga menunjukkan dominasi pekerja informal masih sangat besar. Jutaan orang bekerja tanpa kontrak kuat, tanpa pesangon, dan tanpa perlindungan jelas. Jadi, siapa yang benar-benar merayakan?
Ketika Pekerja Menjadi Angka
Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Imam B. Prasodjo, dalam diskusi ketenagakerjaan pada 12/08/2023, menyebut persoalan buruh bukan hanya soal upah. Ia menyoroti soal martabat manusia dalam sistem ekonomi.
“Ketika pekerja hanya menjadi biaya produksi, relasi kerja kehilangan sisi kemanusiaannya,” ujarnya.
Inilah luka yang sering luput dari perhatian. Buruh hadir saat ekonomi tumbuh, tetapi banyak pihak melupakan mereka saat keuntungan dibagi.
Orang memuji mereka sebagai tulang punggung bangsa. Namun saat mereka menuntut hak, sebagian pihak justru menuduh mereka mengganggu investasi.
Negara ingin ekonomi melaju cepat. Sayangnya, negara sering lupa bahwa mesin ekonomi bernama manusia juga bisa lelah.
Rutinitas yang Menguntungkan Siapa?
Setiap tahun, polanya hampir sama. Buruh turun ke jalan. Pejabat memberi ucapan. Media meliput keramaian. Setelah itu, semua kembali biasa.
Harga kebutuhan pokok tetap naik. Kontrak pendek tetap berjalan. PHK tetap menghantui. Negosiasi upah tetap alot.
Jika pola ini terus berulang, May Day bisa berubah menjadi festival simbolik: ramai sehari, sunyi setahun.
Budayawan Franz Magnis-Suseno dalam berbagai forum pernah menegaskan bahwa demokrasi kehilangan makna jika kelompok lemah tidak memiliki daya tawar nyata.
Pesan itu relevan bagi buruh hari ini. Suara mereka terdengar, tetapi belum tentu mengubah keputusan.
Ini Bukan Sekadar Hari Libur
Masalah terbesar Hari Buruh bukan kurangnya massa aksi. Masalah utamanya muncul ketika energi perjuangan hanya hidup satu hari dalam setahun.
Perjuangan buruh harus hadir di meja perundingan, dalam kebijakan upah, dalam perlindungan pekerja perempuan, dalam jaminan kesehatan, dalam keselamatan kerja, dan dalam masa depan anak pekerja.
May Day bukan sekadar nostalgia sejarah. Hari itu menjadi alarm tahunan bahwa relasi kerja belum adil.
Kalau setiap tahun buruh masih menuntut hal dasar, mungkin masalahnya bukan pada tuntutan mereka. Masalahnya ada pada sistem.
Closing
Hari Buruh akan selalu ramai. Namun keramaian bukan ukuran kemenangan. Pertanyaan paling jujur setiap 1 Mei bukan berapa banyak orang turun ke jalan, melainkan setelah spanduk dilipat, apakah hidup buruh benar-benar berubah?





