Tabooo.id: Life – Sore itu, langit Kalurahan Winongo belum sepenuhnya melepaskan panasnya. Matahari menggantung rendah dan menumpahkan cahaya keemasan di halaman balai desa. Anak-anak berlarian kecil, sebagian duduk diam dengan kaki menggantung, menunggu tanpa banyak bertanya. Di antara mereka, lima pasang mata menyimpan cerita yang terlalu cepat dewasa kehilangan, keterbatasan, dan harapan yang harus dijaga diam-diam.
Selasa (10/2/2026) sore itu, Tabooo Network Indonesia hadir bukan sebagai rombongan seremonial, melainkan sebagai sesama manusia yang membawa empati. Mereka tidak membangun panggung besar atau menyusun pidato panjang. Mereka justru menciptakan ruang yang tenang ruang aman bagi anak-anak yatim yang selama ini lebih akrab dengan kata “cukup” daripada “lebih”.
Tekanan Ekonomi yang Paling Dulu Menyentuh Anak-Anak
Tekanan ekonomi jarang datang dengan suara keras. Ia menyusup pelan ke meja makan, ke seragam sekolah yang mulai kusam, hingga ke kasur tipis tempat anak-anak menggantungkan mimpi. Di banyak keluarga yang kehilangan tulang punggung, krisis berubah menjadi keputusan harian: membeli buku atau menunda makan bergizi.
Lima anak yatim di Kalurahan Winongo hidup di tengah situasi itu. Mereka menghadapi kenaikan biaya pendidikan dan kebutuhan dasar yang terus menanjak, sementara dukungan ekonomi keluarga semakin terbatas. Dalam kondisi seperti ini, bantuan sekecil apa pun mampu memberi dampak besar bukan hanya pada fisik, tetapi juga pada batin.
Tabooo Network Indonesia memilih hadir di titik paling mendasar di ruang nyata tempat kebutuhan dan harapan saling bertemu.
Datang Bersama, Duduk Setara
CEO Tabooo Network Indonesia, Jeje, datang langsung ke Winongo. Ia tidak menciptakan jarak atau berlindung di balik jabatan. Bersama Plt Lurah Winongo Dian Puspita, Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum Wija Purwa Adhiguna, jajaran perangkat kalurahan, serta tim Tabooo, ia duduk sejajar secara posisi dan makna.
Pertemuan itu menegaskan satu hal solidaritas sosial tumbuh dari perjumpaan, bukan dari laporan. Ia lahir dari kesediaan untuk hadir, mendengar, dan melihat langsung.
Jeje menyampaikan pesan yang sederhana namun kuat.
“Dalam kehidupan ini, tidak ada yang berjalan sendiri. Kita saling membutuhkan, saling menguatkan, dan saling berbagi, sekecil apa pun yang bisa kita berikan,” ujarnya.
Kalimat itu tidak berhenti sebagai pernyataan. Sikap dan tindakan menguatkannya.
Desa yang Mengapresiasi Kepedulian
Plt Lurah Winongo Dian Puspita melihat kegiatan ini sebagai lebih dari sekadar penyaluran bantuan. Ia menilai kehadiran Tabooo Network Indonesia membawa pesan moral yang jelas bagi warga kepedulian masih hidup dan anak-anak yatim tidak dibiarkan sendirian.
Menurutnya, bantuan tersebut langsung menyentuh kebutuhan nyata anak-anak.
Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Umum Wija Purwa Adhiguna menyampaikan pandangan serupa. Ia menilai kegiatan ini memberi dampak sosial positif dan memperkuat rasa kebersamaan di tingkat desa.
Apresiasi itu bukan sekadar basa-basi. Ia menandai pentingnya kolaborasi antara komunitas, sektor swasta, dan pemerintah desa dalam menjawab persoalan sosial yang tidak bisa ditangani satu pihak saja.
Anak Yatim dan Beban yang Datang Terlalu Cepat
Anak yatim kerap menanggung beban yang tidak semestinya mereka pikul. Mereka belajar memahami keterbatasan sebelum sempat memikirkan masa depan. Jeje menyadari realitas itu. Ia tidak menutup-nutupi bahwa nilai bantuan yang diberikan tidak besar. Namun ia menekankan maknanya.
Bantuan tersebut menyasar kebutuhan konkret: dua unit sepeda agar anak-anak bisa berangkat sekolah tanpa bergantung pada ongkos, perlengkapan tidur agar malam terasa lebih layak, serta kebutuhan dasar lain yang sering luput dari perhatian.
Tabooo Network Indonesia menyebut nama penerima satu per satu Fransisco Arya Prasetya, Rifdan Rahmadhani, Siti Hajar, Azahra, dan Azha Zainal. Penyebutan itu menegaskan satu hal penting mereka bukan angka dalam laporan, melainkan individu dengan cerita dan harapan masing-masing.
Lebih dari Sekadar Angka Kesejahteraan
Dalam narasi besar pembangunan, kesejahteraan sering direduksi menjadi statistik. Grafik pertumbuhan dan persentase kemiskinan mendominasi ruang diskusi. Angka-angka itu penting, tetapi tidak pernah cukup.
Kegiatan di Winongo mengingatkan bahwa kesejahteraan juga berbicara tentang empati dan keberpihakan. Ia menuntut perhatian pada mereka yang paling dulu merasakan dampak krisis. Ia meminta kehadiran di ruang-ruang sunyi yang jarang disorot kamera.
Perlindungan kelompok rentan tidak bisa bergantung sepenuhnya pada negara. Ia membutuhkan jejaring yang kuat: komunitas, media, sektor swasta, dan individu yang memilih untuk peduli.
Melalui langkah kecil ini, Tabooo Network Indonesia menunjukkan bahwa empati tidak harus menunggu kondisi ideal.
Pertanyaan yang Pulang Bersama Senja
Sore bergeser menuju malam. Anak-anak pulang membawa sepeda, perlengkapan baru, dan mungkin keyakinan yang tumbuh perlahan bahwa dunia tidak sepenuhnya abai pada mereka.
Namun satu pertanyaan tertinggal di udara Kalurahan Winongo sampai kapan solidaritas seperti ini menjadi pengecualian, bukan kebiasaan?
Jika kesejahteraan benar-benar berpihak pada manusia, maka jawabannya tidak bisa terus ditunda. @dimas




